Ini masih tentang kamu, rafly. Belum berganti topik entah sampai kapan. Ingin nya kulupa tentangmu tapi apa dayaku seorang pecinta sendiri. Meredam rindu diruang paling sunyi padahal sekitar begitu ramai. Hentakan musik, tawa riang, petikan gitar, suara melafalkan bait bait lagu, gosip dan cekikikan anak perempuan. Disini bising, Rafly.
Tapi kau tau? Tiada suara yg dapat melegakan hatiku dari hujaman rindu yang menghunus pilu. Petikan gitar indah, rafly. Tapi tidak jadi indah jika itu bukan petikan dari jemarimu yang pernah kupegang perlahan.
Maka aku harus apa sekarang, Rafly. Aku tidak akan menuntut dan memberi alasan kenapa kau harus membalas perasaanku. Aku pun sama, kamu tidak menuntutku dan memberi alasan kenapa aku harus berhenti untuk berharap padamu.
Kita saling mencoba. Yang berbeda hanyalah aku yang menyalahkan kamu atas senyum sapa yg membuatku terpesona. Sedang maksudmu adalah hanya ingin bertindak sopan padaku sebagai adik kelas kepada kakak kelas.
Aku minta maaf, perasaanku membuncah tak terkendali. Entah sampai kapan terus begini. Doakan saja aku lulus tahun ini. Agar tak dapat kulihat senyum sapa yang kau lontar disetiap pertemuan. Agar aku dapat melenggang pergi dengan bebas. Agar perlahan meninggalkan sekolah ini berarti perlahan meninggalkanmu. Agar pergi ke tempat lain berarti melupakanmu.
Aku minta maaf atas segala keingintahuanku tentang kamu dan anabilla, juga tentang kamu dan desti. Aku minta maaf. Aku tidak akan mengganggu kehidupan kamu.
Selamat tinggal, Rafly.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar