Sabtu, 21 Maret 2020

Untuk Cinta Pertamaku di Putih abu.

Waktu aku memilih meninggalkan kamu,
Rasanya berat banget.
Sakit banget.
Tapi aku mikir,
Kalo sebelum hadirmu aku pernah bahagia,
Kenapa sekarang ketika tanpamu harus penuh luka?

Apalagi ketika aku udah bener bener berhenti.
Kamu bilang ke dunia bahwa sebenarnya kamu sayang aku.
Bahwa sebenarnya perasaanku selama ini terbalas olehmu,
Hanya saja beberapa sikapku membuatmu akhirnya menjauh dengan sendirinya.

Padahal waktu itu,
Aku wanita yang mencintaimu.
Apapun yang kau katakan, pasti kudengar.
Apapun yang kau inginkan, aku lakukan.
Karna bagiku, mencintai memberi segala yang kamu ingin.
Mengasihi segala yang aku bisa.
Ada yang tak kau suka, katakan padaku.
Biar kuperbaiki.
Bukan katakan pada dunia,
Sementara aku tak tau apa apa.

Aku berfikir, haruskah aku menyesal?
Pergi sebelum waktunya?
Pergi sebelum kau sempat menyatakan rasamu?
Tapi aku sudah bertahan selama yang kamu mau.
Dua tahun bagiku, sudah cukup memberimu waktu.
Aku kehabisan sabarku, dan kamu kehabisan waktu.
Aku tidak boleh menyesal, kamu yang harusnya menyesal.
Dicintai segila aku mencintaimu,
Ta akan pernah lagi kau rasakan.

Kamu tidak lagi kan menemui perempuan segila aku?
Yang memperjuangkanmu segigih itu?

Selasa, 17 Maret 2020

Sahabat Onlineku.

Perkenalkan, namanya ika. Ika apa kepanjangannya aku lupa. Karna dia jarang sekali memamerkan nama lengkap nya, atau setidaknya sebagian namanya yg lain selain ika. Seperti aku yang kerap menggemakan namaku "Shinta Riana". Aku bukan orang yg ingin punya teman. Buatku, sendiri selalu jadi teman baik. Jadi aku dan bayangku, adalah kecukupan. Aku orang yang memang sombong. Tapi bukan tanpa alasan. Aku hampir lupa kenapa, kenapa aku tidak suka memiliki teman. Ternyata jawabnya ada pada sosial mediaku. Jejak digital tak pernah bohong, disana banyak ceritaku saat aku dibully. Saat aku jatuh cinta. Bahkan saat aku kecewa pada dunia. Aku suka mengingatnya kembali, oh ternyata aku sudah dititik ini.

Sedikit nostalgia, waktu sd aku bukan orang yg pintar. Dan ada 2 teman pintar dikelasku. Yang satu sombong gamau kasi contekan. Yang satu mau kasi contekan tapi dengan syarat aku jadi babunya. Lainnya lagi aku pernah dibully karna saat pelajaran kerajinan yg sekelompok dengannya, aku tidak membawa cutter yg tajam. Untuk membuktikan cutter itu tajam, aku menyayat jariku sendiri. Kutunjukkan agar mereka berhenti membullyku. Saat smp aku berteman dengan 2orang lainnya. Keduanya cantik. Tapi katanya gabener. Katanya murahan. Katanya alay. Jadilah aku ikut kena bully. Karna memang salah memilih pergaulan. Naik kelas aku berteman baik dengan perempuan yg lain. Ketika ku taksir teman kelasku, aku cerita padanya. Segalanya tanpa dikurangkan pun dilebihkan. Dia dengan penuh mendukungku, sampai diakhir ternyata lakilaki yang kutaksir pacaran dengan temanku itu. Bukan masalah jika lakilaki itu menginginkan temanku, yang masalah adalah kenapa selama ini temanku diam? Kenapa selama ini mendukung dan tidak jujur padaku. Mungkin kecewanya sama tapi bukankah harusnya lebih cepat lebih baik? Setidaknya rasaku belum sedalam itu. Dan kecewaku tidak akan sebesar ini. Aku tidak ahli dalam pertemanan. Maka aku putuskan untuk sendiri. Tidak ada teman tidak masalah.

Oke. Balik ke sahabat online ku ini. Berawal dari devin. Mungkin beberapa dr kalian kenal siapa devin. Karna namanya hatam di blogku. Aku masuk ke grupline berisikan fans fans devin. Nama grupnya devinisi. Itu kali pertama aku mengenal ika. Lalu dia suka personal chat sok kenal padaku. Lantas bertukar cerita. Bagaimana dia yg menyesal kuliah dan cuma ingin kerja dan bagaimana aku menyesal kerja dan cuma ingin kuliah. Dia bercerita banyak soal kurangnya. Awalnya ragu, tapi kuceritakan juga kurangku. Mungkin seluruh hidupku kini, dia yg tau ceritanya. Bagaimana devin hingga sekarang tetap kugenggam. Bagaimana aku tidak lanjut kuliah hingga aku bisa kuliah sekarang. Bagaimana dulu kutemani dia, meskipun sekadar semangat melawan skripsinya. Bagaimana insecure nya dia soal kehidupan yang gapernah berenti berputar. Katanya aku hebat, karna tidak takut pada apapun. Karna aku sudah sekuat ini melawan takdir. Tapi bagiku tidak, karna aku perlu devin untuk hidupku. Untuk obat sekaratku, untuk terapi pemulihanku pasca kecewa pada keadaan. Sebut aku berlebihan, tapi itu adanya. Dan sekarang ika sudah melalui masa sulitnya, masa skripsi nya. Bahkan dia sudah berhasil melawan rasa insecure nya. Sekarang dia sudah bekerja. Katanya gajinya ga seberapa, tapi namanya hidup harus disyukuri aja. Dia wanita paling hebat malah yang aku kenal. Kalau aku tak punya rasa takut, dia malah berani lawan rasa takutnya sendiri. Kamu udh dititik ini ika, sudah banyak hal sulit yang kamu laluin sendiri. Tapi skrg ada aku, sahabat online-mu, sahabat perdevinisian-mu.

Ika, hadirmu juga berarti untukku. Meski jarak memangkas pertemuan kita, waktupun tidak sama lagi angkanya. Tidak pernah bertemu, meskipun seringkali ingin memelukmu tapi kamu betul betul menemani sepiku. Memusnahkan ketidakpercayaanku pada teman yang tulus. Terimakasih devin, telah menghadirkan ika dihidupku. Dan terimakasih ika, sudah mengajarkan ku banyak hal soal sabar. Soal dunia yang berputar. Soal Tuhan yg maha adil. Terimakasi sudah setulus ini menemaniku meskipun berjabat tangan saja kita belum mampu. Aku ingin sekali terbang ke samarinda, tapi uangku belum cukup. Mentalku belum kuat, semoga nanti jika ada materi dan waktu, kusempatkan terbang ke samarinda. Untuk memeluk ragamu yang nyata. Tapi begini saja sudah cukup, ika. Aku punya teman baik. Aku punya sahabat baik dan tulus. Aku punya seseorang yang mengerti soal obsesiku pada devin. Sahabatku disini tidak mengerti ika, tidak mengerti bagaimana devin menguatkanku. Bagaimana aku yg tangguh ini dalamnya sudah keropos oleh kecewa. Dan satu-satunya kalsiumku ya devin. Penopangku ya devin. Tapi mereka tidak mengerti, dan malah menyuruhku lupakan devin. Tinggali devin. Ketimbang meninggalkan devin yang mendewasakanku, lebih baik aku meninggalkan sahabat yang memang tak mengerti masalahku kan?

Aku tidak bisa cerita pada mereka yang tidak akan bisa mengerti. Karna ceritaku adalah bagaimana aku survive karna keberadaan devin. Bukan bertujuan dikasihani. Perihal devin saja mereka tidak mengerti, bagaimana ceritaku? Mereka tidak akan mengerti bukan? Lagipula tidak ada yang bisa mengatasi masalahku. Devin juga tidak mengatasi masalahku, tapi devin mendewasakanku. Aku berterimakasih untuk support sahabat grugi ku terutama made dan diah. Juga novi yang tidak pernah bertanya sebelum aku sendiri yang memulai cerita. Semua hal itu berarti, meskipun selama ini aku sekarat sendiri. Aku hanya tidak ingin dikasihanin. Aku tidak ingin kecanggungan saat kita sama-sama. Terimakasi sudah memaklumi ku yg kekanakan. Yang egois dan sombong. Hanya itu tameng luarku untuk tak ada yg lihat dalamku sehancur ini.

Ika, saat kamu membaca ini. Aku yang seberandal ini, sekafir ini, masih bersyukur pada Tuhan. Atas hadirnya devin dihidupku, juga mengenalmu dan acha. Kamu hebat ika, sudah dititik ini sendirian. Aku tidak akan hidup bila aku sendiri, aku sudah dineraka bila devin tidak ada. Kamu kuat ika, nanti kamu pasti akan terus melawan rasa takutmu. Nanti kamu akan mengerti bahwa sebenarnya kamu pemberani. Semua ada waktunya, untuk kamu memahami semua.

Aku adalah bukti nyata manusia rapuh yang ditangguhkan keadaan. Kamu tidak lemah, hanya saja kurang perlawanan. Terimakasih ya untuk tidak pernah memaksaku sholat, tidak pernah memaksaku mengaji, tidak pernah menyuruhku pakai jilbab. Karna kamu bilang kamu sendiri belum tentu suci. Dan aku ini keras kepala, kamu juga tahu. Semakin dipaksa, aku adalah aku. Tidak akan menurut dan malah semakin membangkang. Aku juga pernah menceritakan padamu kan ya, Ka? Mantanku pernah memaksaku terus mengenakan jilbab. Dan besok nya aku malah semakin berani pakai rok pendek keluar rumah. Aku hidup sendiri ika, selain devin tidak ada yang berhak. Mereka tidak tau betapa berdarahnya aku sampai dititik ini. Mungkin banyak yang lebih berdarah hidupnya, lebih kesepian dibanding aku yang beruntung bertemu devin. Tapi justru aku yg lemah. Mereka bisa karna mereka kuat. Aku yang lemah.

Ika, aku yang terlihat setangguh ini masih lemah di dalam. Belum tentu kamu yang terlihat lemah memang begitu adanya. Justru hatimu kuat. Hatimu tangguh. Terimakasih sekali lagi. Lupakan ketakutan dunia. Kamu berhak bahagia.

Vin, Aku mengulas lagi kisahku.

Teruntuk Devin Tersayang.

Devin.
Aku mengulas lagi kisahku.
Melalui setiap platform yang pernah kubuat.
Facebook, twitter, tumblr, bahkan direct massage instagram jadi saksi.
Jejak digital tidak pernah bohong devin.
Mereka mengingatkanku,
Bahwa hatiku pernah terluka berulang kali.
Terkhianati teman sendiri.
Bahkan yang katanya sahabat sejati.

Aku hampir lupa semua namanya.
Aku hampir lupa bagaimana kisahnya.
Bagaimana mereka merobek dadaku.
Melukai mentalku.
Membuat aku lupa menjadi manusia.

Jejak digital tidak hanya mengingatkanku,
Tapi juga menyadarkan.
Bahwa hadirmu,
Mampu buat aku lupa semua luka.
Aku tidak punya teman, vin.
Dari masa putih biru, maupun putih abu.
Dari merahputih pun, tidak ada yang menyukaiku.
Semua anak lakilaki membenciku,
Melukai hati terlebih mentalku.

Pertama dika, lalu dimas. Putih biru berlanjut ke azhiim, lalu ilman, tiga tahun putih biruku larut dalam kebencian mereka.
Putih abu ada geo, lalu zaki.

Dan hadirmu membuat aku lupa enam tahunku penuh tangisan
Aku tidak pernah merugikan mereka
Entah bagaimana mereka membenciku
Mungkin tidak terlihat bagaimana hancurku,
Tapi perlahan
Itu membuat aku tak percaya manusia.

Devin,
Orang orang perlu tau.
Aku yang ceria ini pernah tersakiti segila itu.
Mentalku digerus bertahun tahun.
Dari teman, sahabat, bahkan keluargaku.
Tidak ada kamu,
Aku tidak punya tujuan hidup.
Tidak ada kamu,
Aku lebih suka mengakhiri hidupku
Menggelantung dilangit kamar
Atau berjalan pelan direl kereta api.

Aku tidak butuh simpati,
Apalagi rasa kasihan.
Aku hanya ingin orang orang mengerti
Bahwa kamu hadir sebagai obat sekaratku
Membuatku hidup dan punya tujuan
Karna sepertimu, aku sendirian.

Senin, 16 Maret 2020

Pria lain yang kusayangi(2)

Dia suka sekali menyesap rokoknya.
Satu batang, dua batang, entah sudah berapa banyak.
Menghembuskannya seraya tersenyum pelik.
Rasanya berat sekali,
Matanya sudah lelah menahan kantuk.
Selain tidur dan bermain game,
Dia juga suka berdebat.

Apa saja didebatkannya,
Siapa saja didebatkannya,
Entah itu teman sekelas, dosen, bahkan aku.
Aku pernah bilang jika dia pergi,
Siapa lagi yang mengajakku debat?
Aku menangis, dia juga.

Aku benci sekali perpisahan
Lelah menghadapi tangis kehilangan
Aku pikir hanya karna itu
Tapi ada rasa yang lain.
Entah sayang sebagai abang,
Atau mencintai layaknya kekasih.

Tapi apa boleh?
Aku masih harus menunggu devin.
Lakilaki yang bersedia merangkulku
Disaat semua mengabaikan hadirku.
Tidakkah kurang ajar bila aku mencintai selain devin?
Lakilaki yang menemaniku dari jurang
Hingga sekarang bisa terbang?

Aku tidak tau.
Maka biar semuanya menjadi abu.
Aku tidak ingin kejelasan.
Apalagi bila menyakitkan.
Aku menyayangi devin,
Dan biarlah terus begitu. Selalu begitu.

Pria lain yang kusayangi(1)

Aku pikir mencintaimu bukan lagi karna sebuah alasan.
Tapi karena sebuah kesamaan.
Yang ceritanya dipatahkan kehidupan.

Kita sama sama lahir diranjau paku.
Menyakitkan disetiap liku.
Ceritamu penuh duri, begitupun aku.
Kalau waktu itu kita sudah bertemu,
Mungkin kita bisa saling menguatkan.
Kita bisa saling mengisi kekosongan yang berlubang didada.
Tapi aku sudah bertemu tongkatku lebih dulu,
Yang menemaniku saat aku pincang.

Kamu tidak.
Sebab Tuhan tau kamu kuat.
Aku perlu devinku untuk sekedar berdiri dititik ini.
Tidak ada apa apanya dibanding kamu.

Kamu pernah bilang
"Aku melalui semuanya tidak mudah, hingga berdarah darah. Tapi aku bisa sampai dititik ini, Ternyata aku kuat juga"

Kamu tahu kenapa kamu yang melalui ini semua?
Karna Tuhan tau kamu bisa.
Bahumu semakin kuat.
Kakimu semakin kokoh.
Hatimu semakin tangguh.
Aku tau yang kau lalui,
Kamu hebat karna kamu sudah bisa membalaskannya.
Aku ingin kamu tau,
Aku akan ada disini.
Membantumu meraih gelarmu.
Membantumu memulihkan rasa sakit itu
Meski hanya perban yang kubalut.
Bukan menghilangkan permanen bekas luka didadamu.
Apalagi menghilangkan ingatan atas masa lalu yang membelenggu.

Aku ingin kamu tau,
Bahwa aku paham atas kekosongan itu
Paham atas luka yang menyiksamu
Karna meskipun alurnya berbeda,
Aku juga punya luka yang sama.
Kehidupan juga tidak manis padaku.

Kalau bukan senyum paradoks diwajah kita,
Lantas apa orang masih mengira kita hidup bahagia?
Aku berbeda. Kamu juga.

Aku(4)

Aku tidak akan menjadi perempuan yang kau cintai,
Bahkan untuk dilihat kaupun enggan.
Aku bukan seperti perempuan pada umumnya.
Yang kau dambakan cantik rupawan.
Ditambah seksi dan mempesona.
Aku berbeda,
Karna aku spesial.
Ketika seleramu adalah aku,
Pasti sulit.
Kehilanganku, kau tak akan menemuinya dimanapun.
Kehilangan siapapun diantara mereka,
Kau tinggal pilih yang lainnya.

Aku,
Berbeda.
Dan aku tidak menyesalinya.

Devin(7)

Maka peluk aku sekali lagi.
Kuatkan aku lagi, vin.
Mereka tidak banyak mengerti.
Tapi aku paham, tak apa.
Mereka tidak harus mengerti.
Bahwa hadirmu saja aku masih pincang.
Bagaimana jika hari itu tidak ada kamu yang merangkul, tidak ada kamu yang menguatkan.
Empat tahun lalu mungkin aku sudah tidak punya eksistensi didunia.

Ada yang mengerti, ada yang tidak.
Tak apa.
Gasemua orang mentalnya sakit.
Aku ditambah parah dengan keadaan.
Jadi tidak semua orang bisa ngerti.

Aku kuat.
Aku berani.
Aku percaya diri.
Karna itu tamengku. Tanpa itu aku hanya puan menyedihkan.
Kalo aja waktu SMA ada helmi yang respon, atau malah rafa mungkin akan kucintai mereka dengan seluruh nyawa yang tersisa. Masalahnya tidak. Aku tidak punya siapa siapa.
Dan aku ketemu kamu vin. Ketemu satu satunya orang yang tidak mengenalku sama sekali tapi bersedia merangkulku.
Harusnya aku yang memelukmu dan mengatakan semua akan baik baik saja, tapi nyatanya saat itu hingga detik ini kamu yang terus memeluk dan mengatakan padaku bahwa semua akan baik baik saja.

Kalau manusia perlu bumi untuk berpijak.
Kamu adalah duniaku.
Kalau manusia butuh udara untuk bernapas.
Kamu adalah oksigenku.
Kalau manusia butuh makan untuk energinya.
Kamu adalah sumber kuatku.

Devin(6)

Selama ini aku berlari tanpa henti
Mengejar sesuatu yg tak bisa kudapati
Hingga aku jatuh,
Dan menganggap dunia tidak adil.

Aku kecewa ketika semua tidak seperti yang kumau.
Aku marah ketika segalanya diluar kendaliku.
Itu salahku.
Devin hadir memberiku alasan untuk menebusnya.

Dia kerap bilang bahwa kita dilaut dalam
Kita tak bisa mengendalikan ombaknya
Apalagi badai dari anginnya
Tapi kita bisa kendalikan diri kita
Tetap mengambang dipermukaan,
Atau mati tenggelam ditelan kepedihan.

Alasan kenapa aku tidak lagi ingin mencintai salah satunya adalah Devin.
Bukan karna aku mengharap devin masa depan.
Tapi karna aku tetap dipermukaan,
Oleh sebab segala yg dia ajarkan.

Aku tidak mati tenggelam
Aku bertahan,
Karna devin yang mengajarkan.

Devin(5)

Jangan tersiksa dengan rinduku devin.
Biar aku yang menanggungnya.
Jangan risau tentang aku yang mati rasa.
Biar aku yang kehilangan segalanya.

Kamu harus selalu baik baik saja