Pernahkah kau menjalin hubungan yang begitu lama? Setahun? Dua tahun? atau mungkin lebih? Dan pernahkah pula pasanganmu memutuskan hubungan yang telah dijaga cukup lama? Dengan alasan yang tak bisa kau terima? Seperti bosan?
Kalau kau tidak pernah merasakan itu, kau adalah orang yang beruntung.
Sebab aku merasakannya. Dan perih. Kau tau? Kukira dua tahun memang membosankan baginya. Tapi kenyataannya sangat menyedihkan. Sebab, enam belas hari setelah dia berkata bosan dia -malah- menjalin hubungan dengan wanita lain.
Oke mungkin bosan yang ia cakap adalah bosan menjalin hubungan denganku (dan ingin mencoba menjalin hubungan dengan wanita lain). Tapi saat ia beralasan mengakhiri hubungan dengan kata bosan, pembicaraannya mengarah bahwa dia bosan menjalin hubungan, lelah dicemburui wanita, tak ingin kehidupannya diganggu dengan makhluk bernama wanita.
Tapi kenyataannya mengapa begini? Dulu, aku adalah wanita yang begitu menggilainya. Mendambakan cintanya, Lima bulan kuperjuangkan itu semua. Dia butuh waktu lima bulan untuk membalas cintaku. Tapi aku tak apa. Itu bukan hal yang sulit. Dan kalau kau berpikir aku murahan (karena mengejar seorang lakilaki) terserah kalian. Toh aku memperjuangkan cintaku, pun dia bukan milik siapa siapa. Kalau ada yg harus dibilang murah, dia adalah perempuan yang menjalin hubungan enam belas hari setelah aku dan dia mengakhiri hubungan. Bukankah perempuan itu memperjuangkan priaku? Apa kata yang lebih pantas untuk seorang perempuan yang merebut kekasih orang lain selain murahan?
Oya, bodohnya aku adalah aku menyadari priaku selingkuh setelah setahun kemudian. Hehe. Menyakitkan sih. Soalnya dia mengakhiri hubungan kita dengan alasan bosan. Seolah olah aku perempuan membosankan, seolah aku yang jahat hingga dia menyerah pergi. Tapi kenyataannya bukan begitu. Astaga, percayalah aku sama sekali tidak membosankan. Kalau kau butuh saksi tanya saja mantanku selain pria itu. Jadi sebelum dia memutuskanku, perempuan itu mendekati priaku. Berhubung saat itu kami sedang renggang karena kesibukan sekolah, (dengan bangsatnya) priaku malah nyaman sama perempuan murahan itu. Dia tau priaku sudah punya pasangan, tapi dia pikir dia bisa memperjuangkan cintanya. Be like semua orang boleh dan harus memperjuangkan cintanya. Jangan iba padaku, jangan mengutuk perempuan itu. Iba lah pada perempuan itu, ternyata lebih menyedihkan dari apa yang harus kuhadapi. Astaga, apa tidak menyedihkan hidupnya sampai hati merebut kekasih orang lain?
Yah sampai dipuncaknya, kurang lebih skenarionya adalah mereka saling menyayangi dibelakangku. Lantas perempuan itu menyuruh priaku mengakhiri hubungan denganku agar mereka dapat menjalin hubungan. Yah setelahnya seperti yang kuceritakan diawal cerita. Setelah berhasil mengakhiri hubungan denganku dia buat jeda agar seolah penjahatnya adalah aku. Agar dia dan perempuan itu tak dapat disalahkan. Seperti sengaja diatur agar aku yang paling jahat padahal aku yang paling menyedihkan. Tapi aku tidak semenyedihkan itu sih. Kan udah setahun berlalu.
Aku sedih. Aku perih. Tapi aku tau, dia bukan pria baik. Aku tak perlu membuang waktuku bertahun tahun lagi untuk bersama pria sepertinya. Yang dengan jahatnya selingkuh dan merencanakan sedemikian rupa. Jangan mengasihaniku. Aku menceritakan hal ini bukan untuk dikasihani, aku tak perlu simpati pun empati.
Aku hanya ingin kalian belajar sesuatu. Bersyukurlah pada pasanganmu yang masih setia disampingmu. Ucapkan terimakasih padanya karena belum membuat kecewa hingga sekarang. Dan yang paling penting, saling menghargailah kalian hingga hanya Tuhan yang boleh merenggut kebahagiaan itu. Jangan orang ketiga seperti ceritaku di masalalu.
Salam dariku,
Yang pernah diselingkuhi.