Sabtu, 28 Maret 2026

Kepergian

Aku tidak menceritakan apapun padamu tentang hidupku sejak kecil. Aku tidak menceritakan bagaimana hubunganku dengan keluargaku. Aku hanyaa.. menunjukkan padamu bahwa aku harus mandiri, bukan karena ingin. Tapi karena harus. ketakutan bahwa tidak punya apa-apa akan diinjak oleh laki-laki. Ketakutan yang terlahir sejak aku berumur 8tahun. Aku tidak menceritakan karena aku tidak ingin kamu mengasihaniku. Itu adalah alasan kenapa aku mewarnai rambutku. Masalah yang tidak pernah aku ceritakan. Bahwa saat aku memutuskan mewarnai rambutku, itu adalah bentuk pemberontakan. Itu adalah langkah menunjukkan bahwa aku punya hak atas diriku sendiri. Bebas. Dan kamu tahu bahwa setelah hampir 2 tahun, aku punya banyak rencana bersamamu termasuk mimpi menua bersamamu. Hingga pintamu soal rambut gelap, aku sudah mengabuli inginmu saat itu. Tentu kamu ingat, saat-saat kamu belum meninggalkanku.

Kau tahu apa yang membuatku merasa kehilanganmu hingga saat ini? perlakuanmu. Yang terus membuat inner child-ku di manja. Sama kamu aku boleh ngeluh capek, dimana di "rumah" aku bahkan dilarang mengucap kata itu. Seberat apapun hariku, sekuat apapun aku melewati badai, aku dilarang mengucap kata itu. Bersama kamu, aku diijinkan. Bersama kamu, aku dapat pelukan menguatkan. 

Apa kamu ingat, Ay? Kamu bilang kamu takut mengecewakanku, karena kamu menganggapku adalah teman sementara aku menaruh perasaan. Bagaimana tentang ciuman malam itu? dan malam-malam setelahnya? hampir 2 tahun. Teman tidak memagut bibir, Ay. Bagaimana soal mahar yang kau tanyakan pada pertemuan ke-3 kita? apakah tidak ada artinya bagimu untuk lanjut ke jenjang yang lebih dalam? Teman seperti apa yang bertanya soal Mahar, Ay? Dan kemudian, saat aku sakit kenapa tidak kamu biarkan saja? kenapa justru kamu paksa aku untuk makan hingga kamu dengan telaten menyuapiku makan malam itu? Jika kamu bilang bahwa aku berlebihan, coba tanya hatimu Ay. Dimana letak salahku menaruh harap dan seluruh perasaanku yang tersisa? 11 tahun aku lupain Amore dan kamu tau. Aku harus habiskan berapa belas tahun untuk melepasmu? Kenapa kamu membawaku 2tahun untuk sebuah rasa sakit? kenapa tidak biarkan waktunya habis dan kemudian aku melepasmu? kenapa kamu memilih pergi dengan mengatakan bahwa kamu sudah menemukan rumah yang saat itu hanya baru seminggu ketika aku tanpa kabar?

Kamu adalah alasan aku berani bermimpi, punya tujuan lagi setelah banyak hal. setelah setiap malam aku berdoa pada Tuhan untuk tidak bangun lagi. 8 tahun sebelum bertemu kamu, aku berharap kematian cepat datang. 8 tahun aku menunggu kematian itu sendiri, aku sudah rela masuk neraka. Ketimbang hidup tanpa alasan, tujuan, bahkan mimpi yang tidak boleh aku miliki. Andai kamu tau, bahwa saat itu aku meperjuangkanmu mati-matian karena aku ingin kembali merasa hidup dengan harapan. Dan kamu pergi bawa semua hal yang ga seharusnya kamu bawa pergi; Serpihan kecil harapan yang aku punya.

Sekarang, aku kembali meminta pada Tuhan untuk mendatangkan kematian lebih cepat. Aku tidak ingin hidup lagi, bahkan berkali-kali berpikir ingin mengakhiri hidup sendiri. Kenapa, Ay? Apa kurang yang aku beri? apa yang sudah aku lakukan hingga kamu nyakitin aku sebesar ini? Aku salah apa Ay sama kamu? Kamu bilang aku terlalu berpikir negatif? bagaimana tidak, Ay? setelah kamu berjanji bahwa kamu akan menceritakan padaku siapa perempuan yang dekat denganmu, aku menemukannya sendiri dari notif ponselmu. Cloudy namanya, memanggilmu sayang. menanyakan apa kau sudah pulang kerumah? Aku mengingatnya persis malam itu. Kau sedang bersamaku, dikamar yang sama. Saat kau mandi dan aku melihat notif itu karena layar ponselmu menyala terang ditengah gelap karena lampu kamu matikan. Mungkin kamu akan marah karena aku lancang melihat notifnya. jadi aku diam, dan membuat banyak pikiran buruk. Bagaimana jika selamanya aku bukan perempuan yang akan kau cintai tetapi hanya jadi perempuan yang bisa kau tiduri?

Aku rusak, iya. Aku kotor, iya. Tapi bukan itu yang membuatku tidak ingin melepasmu. Tapi sisa tenaga dan harapan yang aku punya, Ay. Aku menyerahkannya utuh untuk kamu, tidak ada yang tersisa. Aku sudah tidak punya tenaga untuk jatuh cinta. Bahkan jika harus menjalin hubungan, itu hanya sebatas transaksional. Tidak akan ada cinta, tidak akan ada harapan, tidak akan ada mimpi, bahkan bila perlu tidak ada saja. Berjodoh dengan maut seperti doa-doaku pada Tuhan.

Aku ingin menghukum kamu. Dengan mempublish jahatnya kamu memperlakukanku. Akan. Aku masih punya semua chat kita. Aku masih punya foto kebersamaan kita. Jika aku hancur, setidaknya perempuan yang dekat denganmu harus tahu bahwa ada perempuan yang terluka saat itu terjadi. Aku membayar segalanya dengan sangat mahal, Ay. Dan aku ingin kamu meminta maaf atas perlakuanmu. Bukan menyalahkanku karena aku yang membuat "kita" seperti ini. Aku ingin kamu menyesali segalanya. Bahwa membunuh harapan terakhir itu, melahirkan luka dan dendam yang tidak terhapus oleh waktu. Tapi oleh balasan. Agar kamu paham, bahwa aku mengajarimu untuk menjadi laki-laki yang tidak membunuh harapan hidup perempuan lain.

Minggu, 22 Maret 2026

Devin dan Sebuah Alasan

Gue punya keluarga.
Yang keliatannya baik baik aja.
Tapi,
Dengan sejuta masalah didalamnya.
Termasuk dengan hal paling sensitif dimuka bumi.
Yang bikin gue gabisa lanjut kuliah seperti temen temen gue.
Saat SMP gue udah tau,
Gue gapunya harapan sekalipun berharap.
Gue gakan pernah berhasil sekalipun mencoba berkalikali.
Gue gapunya sebuah lilin digelapnya masa depan gue.
Gue gatau.
Buat gue,
Saat itu gue benci dunia dan segala isinya.
Masalah itu menghancurkan mimpi yg bahkan belum gue bentuk.
Berontak sama keadaan.
Mengutuk waktu.
Menghajar masa lalu.
Sampe lupa kalo ada yg mesti disyukuri lagi.

Dan ketika lulus sma,
Gue kehilangan harap.
Kalian ga ngerti.
Guepun ga yakin apakah gue bisa menjelaskan.
Gue Hilang arah
Imanpun rasanya udah jauh dr hati gue.
Gue hampir mau bunuh diri
Karna gue rasa hidup gue udah ga berarti.
Ujungnya gue cuma bakal jadi sampah.
Cuma itu yg ada dipikiran gue.

Dan saat itu juga,
Gue ketemu dia yg ciptain bahagia.
Belajar bersyukur atas apapun.
Bahagia yg dia kasih.
Temen temen baru.
Namanya devin.
Satu hal yang meriset otak gue saat itu hanya gue harus kerja.
Gajinya buat ongkos nemuin dia.
Kebahagiaan gue.
Mulai disitu gue mau nerima keadaan.
Kalo tanpa kuliah hidup gue bakal baik baik aja.
Dan alesan gue adalah devin.

Kalau kalian bertanya kenapa selalu ngorbanin apapun buat devin?
He is my everything.
Ketika dunia bahkan keluarga gue sendiri ngancurin harap gue.
Dia jadi lentera yg bikin gue kuat saat itu.
Dia jadi satusatunya orang yg bikin gue nerima keadaan dan ngelaluin semuanya sampe saat ini.
Devin gatau.
Dia gatau betapa berartinya dia bagi gue.
Dan diapun gaperlu tau.

Gue cuma cape,
Banyak orang yg nyalahin keberadaan devin.
Nyuruh gue buat nabung drpd harus ngasih ini itu atau ongkos nemuin dia.
No. U r not understand.
Seperti yang salah satu sahabat gue pernah bilang.
Ngasih ini itu bukan karna ngerasa banyak uang.
Tp karna pengen buat seseorang itu seneng.
Apa salahnya bikin bahagia sumber kebahagiaan gue? :')

Atau sesekali coba bidik misi.
No. Again and again u r not understand.
Penghasilan bokap gue bahkan sepuluh kali lipat umr. Bisa bayar ukt sampe 2-3 semester sekaligus.
Tapi masalah itu masih harus diselesaiin.
Masalah itu yg bikin semuanya ga cukup.
Masalah itu.. Aib keluarga gue.

Setelah 12 tahun gue nyimpen semuanya sendiri.
Its enough.
World must know.
Betapa berartinya devin,
Buat gue.

Menyerah

Barangkali pada akhirnya setiap manusia punya rasa menyerah pada hidupnya masing-masing. Dengan segala luka yang dilewati. Caranya berbeda, ada yang dengan mengakhiri hidup, atau melanjutkan hidup tanpa alasan. Hidup hanya sekedar masih hidup. Tidak peduli dengan apa kata orang, bahkan tidak peduli dengan dirinya sendiri.

Mungkin seperti di fase yang aku alami saat ini, selain karena tanggung jawab, aku hidup karena masih hidup. Tidak peduli makan atau tidak, sehat atau sakit, bahkan menunggu kematian hari demi hari. Terdengar dramatis, tapi 3 tahun lalu. Separuh yang tersisa dibawa pergi manusia yang memberi harap. Manusia yang ingin aku bersamai sampai tua. Mnausia yang dengannya aku menyusun banyak rencana masa depan. Manusia yang ku kira adalah hadiah Tuhan, tapi ternyata bahagia itu hanya sementara. yang pada akhirnya harus ku bayar dengan luka. yang pada akhirnya, aku benar-benar kehilangan, bukan lagi separuh jiwaku, tapi seluruh yang tersisa. Keinginan mati itu adalagi setelah dia pergi, padahal sebelumnya membayangkan bisa membangun banyak bisnis, merajut masing-masing mimpi kita, punya anak kembar, dan berbincang seumur hidup. Kenyataan yang terjadi dia pergi, membawa seluruh jiwaku yang tersisa. Bahkan serpihannya pun sudah tidak ada. Lagi-lagi hidup karena masih hidup. Lalu memikirkan, mati dengan cara apa yang tidak merepotkan. Mungkin tenggelam di Laut? cukup hilang dari muka bumi. Atau barangkali menjual beberapa organ tubuh agar setidaknya bermanfaat untuk orang lain? hahaha. Malam-malam panjang ini hanya isi kepala yang berisik. Perlu dituang, karena sudah tidak punya siapapun dalam hidup, maka tulisan adalah tempat yang tepat untuk menuangkan isi kepala yang berisik.