Minggu, 02 Desember 2018

Me, my problem, and Devin's presence.

Oke.
Kali ini aku akan menceritakan segalanya. Aku tidak ingin berdiam lagi. Menyimpannya. Membuat sesak.
Aku tidak tahu.
Bagaimana memulainya.
Kepada siapa harus dibagikannya.
Aku hanya bisa menuangkan lewat tulisan, tak mampu jika harus menceritakan lewat lisan.

2005.
Masalah dimulai.
Papa bekerja disalah satu kantor daerah jakarta. Sudah lama. Mama hanya ibu rumah tangga. Saat itu, hanya ada kakak ku dan aku. Adik adikku belum ada. Ketimbang tak ada kegiatan, mama berjualan baju keliling. Sambil mengantarku dan kaka ke sekolah. Mama termasuk terkenal dikalangan orangtua, guru bahkan yayasan sekolah. Sampai saat, langganan mama didaerah suatu kampung,  berurusan dengan para rentenir. Karna sudah seperti sahabat, mama dimintai tolong. Tapi bukan berupa uang, karna mamapun harus minta ijin sama papa soal itu. Dan papa pun tak akan mengijinkan mengingat keperluanku dan kaka yg masi banyak. Satu satunya cara, si "sahabat" meminta tolong pinjam ktp dan ttd mama untuk meminjam direntenir lain. Tujuannya gali lubang tutup lubang. Mama menyetujuinya. Semakin lama semakin banyak yg meminta tolong lewat mama. Entah karna takut kehilangan pelanggan atau atas nama persahabatan mama menyetujuinya ditambah iming iming sang "sahabat" bila uang dari rentenir cair ada "upah" untuk mama. Usiaku masih Lima tahun saat itu. Tidak tau. Tidak mengerti soal urusan dewasa. Yang aku mengerti hanya sekolah dan bermain. Tidak lebih.

Pada awal awal, mereka hanya menggunakan KTP mama. Cicilannya mereka yg bayarkan. Lantas lambat laun, mereka kabur. Dan setelah berbulan bulan; akhirnya para rentenir ini kerumah. Menagih sejumlah uang yang dipinjam atas nama mama. Banyak sekali jumlahnya. Ditambah bunga berbulan bulan. Keluargaku hampir hancur, papa menyerah atas kebodohan mama. Yang aku ingat saat itu; mama bersujud dikaki papa untuk tidak pergi meninggalkan rumah. Demi aku dan kaka.
Kau tau rusaknya keluargaku atas kebodohan mamaku? Itu berdampak pada psikologisku dan kaka.

Karna itu,
Papa memutar otak untuk melunasi semuanya. Gajinya yg sudah masuk umr jakartapun tidak akan cukup. Akhirnya, papa membuka usaha fotocopy. Pelan pelan, hingga income nya enam kali lipat dari gaji umr nya saat itu. Perlahan membaik, meskipun harus meminjam sejumlah uang ke bank untuk menutup semua hutang direntenir. Setidaknya, Bunga nya tidak akan melonjak karna cicilan bertahun tahun.
Tapi karna itu pula, kakaku harus berhenti sekolah. Lulus sd, kakaku tidak langsung melanjutkan ke smp karna keberatan biaya. Perhitungan papa begitu; kalau kaka sekolah biayanya gamungkin cukup. Dan tidak mungkin aku yang diberhentikan karna aku masih kelas 3 sd. Iya. Psikologi kakaku berontak. Entah bagaimana dia sekuat itu. Dia menjalani gap yearnya dengan bekerja. Usianya 13 tahun dan dia sudah bekerja. Meskipun hanya jaga counter pulsa. Gajinya buat dia shopping; menghibur diri. Papa tak pernah minta. Karna papa paling mengerti, bahwa ada yg rusak ketika mimpi yang belum terbentuk sudah hancur karna kesalahan mama. Aku tidak tau, kenapa kaka tidak pernah membenci mama seperti aku.

Setahun kemudian kakaku didaftarkan disebuah pesantren. Karna untuk melanjutkan disekolah negeri, rasanya tidak mungkin untuk seseorang yang pernah gapyear. Dan untungnya; kakaku menerima. Bahwa pesantren bukan sesuatu yang buruk. Aku tetap menjalani hariku dengan biasa. Dengan ambisi paling kuat. Aku harus sekolah dinegeri. Titik. Tekatku bukan tanpa alasan. Aku mungkin tidak bisa membantu papa melunasi hutang itu. Tapi aku tidak ingin menyusahkannya. Aku harus sekolah dinegeri karna tidak perlu bayaran perbulan dan uang ini itu selain seragam. Karna bukupun sudah gratis untuk sekolah negeri. Aku maunya, SMP 2 saat itu. Ambisiku kuat, tekatku mantap. Tapi yang kudapat; kecewa.
Aku malah ditempatkan di smp 4. Padahal harapku; kalo ga smp2 ya smp5. Sama cinta monyetku saat itu. Tapi entah bagaimana, Tuhan memberiku jalan lain. Manusia berencana, Tuhan menentukan. Kesibukan dari perbedaan sekolah membuat hubungan hampir 2 tahun itu berakhir. Aku tidak punya seorang special lagi. Aku kehilangan rasa cinta terbesarku. Sisanya kulalui dengan bertepuk sebelah tangan. Iya. Semenyedihkan itu. Malang sekali takdirku. Tapi aku tak butuh kasian siapapun. Aku bisa melewatinya. Meski harus berderai luka.

Kelas 3smp aku butuh pelajaran tambahan. Kursus adalah keinginan untuk tekat kuat masuk sma negeri. Aku ingin sma2 saat itu. Tapi dengan kondisi keuangan keluarga, aku tidak tau apakah mungkin. Perlahan aku bicara soal kursus pada papa. Berat rasanya. Harus menambah beban papa saat itu. Tapi aku benar benar butuh. Dan papa mengerti lantas mewujudkan inginku. Papa selalu tau apa yg kubutuh. Papa selalu mengerti aku. Meskipun aku tau, berat yg papa rasa harus bekerja ekstra untuk membayar biaya kursus yg ga sedikit tiap bulannya. Aku berhasil melalui ujianku dengan manis. Aku anak yang pintar. Aku tidak butuh bermulut manis untuk mendapat teman. Semua teman dengan sukarela mendekatiku. Tapi; lagilagi aku gagal masuk sma yg kuingin. Aku hanya dapat dipilihan keduaku di sma7. Aku tidak tau, apa yang kurang dari usahaku. Aku bertekat lalu gagal. Bertekat lalu gagal. Aku bisa apa selain melalui semuanya?

Di kelas 2 sma kakaku, ia berkenalan dengan seorang pria. Dekat. Saling jatuh cinta lalu menjalin hubungan. Kakaku melawati masa sma nya dengan sangat manis. Dengan cinta dan dukungan orang terkasih. Sedang aku hanya yakin dengan sahabat yang selalu ada. Beberapa pria datang lalu pergi. Tak ada yang benar benar niat untuk menetap. Dan rasa cintaku; tak pernah sedalam dulu. Bersama cinta monyetku.

Menginjak kelas 3sma, semua sahabatku sibuk kursus demi mimpi mengejar PTN yang mereka mau. Aku? Untuk apa aku minta kursus kembali sama papa kalau pada akhirnya aku tidak akan melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah? Mimpiku sudah hancur jauh sebelum aku membentuk mimpi itu. Harapku sudah lebur bahkan sebelum aku berharap. Dan orang yang menghancurkannya adalah ibuku. Orang yang harusnya membesarkanku dan menemaniku menggapai mimpiku. Orang yang harusnya aku hormatin dan sayangin.
Aku marah? Aku sangat marah.
Aku benci? Jangan tanya berapa sering aku dan mama bertengkar hanya karna sepele. Lantas aku makan diluar. Tak berbicara hingga berbulan bulan. Melalui ujianku tanpa doa mama. Mungkin itu yang menggagalkan semua tekatku.

Entah bagaimana aku tidak bisa menceritakan perihal masalahku pada sahabatku.
Dengan semua alasan yang kubuat untuk menutupi bahwa aku ga mampu buat lanjut kuliah. Aku gamau dikasianin. Aku gabutuh simpati. Aku gamau aib keluargaku tersebar. Dan aku gatau apakah aku bisa menceritakannya. Darimana aku harus memulai dan sejujurnya aku takut dengan reaksi mereka. Entah itu menjauh karna aku selalu berpurapura kuat dan seperti menjadi orang lain. Atau mereka menatapku dengan iba atas masalah yang tak kunjung selesai menimpaku. Sebelas tahun, masalah itu ga juga habis. Masih membayangi keluargaku.
Kalau katanya aku bisa pakai bidikmisi, rasanya gamungkin di acc kalau tau bahwa income papa sebulan bisa langsung bayar dua semester sekaligus. Tapi aku tau aku tak mungkin memberatkan papa dengan biaya pendidikanku lagi. Dan aku lulus sma; umurku 17.

Apa yang kulakukan?
Berpikir. Usiaku baru 17. Teman temanku melewati 17nya dengan perayaan sweetseventeen dan hadiah Mobil. Sedang aku harus menghadapi kenyataan harus siap bekerja. Aku tidak tau; apa yang harus kukerjakan. Apakah aku bisa bekerja. Apakah aku siap. Mentalku rendahan sekali. Aku masih ingin main main. Masih ingin hurahura. Masih ingin belajar dijenjang kuliah.

Saat itu;
Mentalku sakit.
Aku hilang tujuan.
Tersesat, hilang arah.
Aku tidak tau untuk apalagi melanjutkan hidup.
Aku tidak ingin bekerja saat itu.
Karna aku masih belia. Masih ingin sekali menikmati masa remaja.
Tapi aku kehilangan masa remajaku.
Semua orang tau;
Aku bukan hamba yg taat pada Tuhan.
Imanpun sudah jauh.
Sudah gapeduli soal dosa.
Dan bukan ketidakmungkinan kalau aku memutuskan mengakhiri segalanya saat itu; bunuhdiri.
Ini bukan drama, kalian tidak akan mengerti. Melewati semuanya sendiri. Kakaku punya orang special dihidupnya. Ada semangat untuk terus hidup. Dan ada rasa cinta yang harus dia pertahankan untuk terus tinggal didunia.
Tapi aku tidak.
Aku tidak punya cinta.
Aku tidak punya orang lain yg menguatkanku. Yg tau kisahku dan mengerti semua keterpurukanku.
Bahkan orangtuaku yg menghancurkan masa depanku,
Tidak akan bisa menahanku untuk terus hidup.
Aku mati rasa.

Ditengah bimbang.
Aku sempat menonton ajang pencarian bakat.
Ada salah satu peserta yang kulihat terlalu banyak gaya. Yang aku lihat perihal dirinya adalah benci. Tengil; opiniku. Karna termasuk acara yang musiknya asik aku mengikuti acara itu tiap minggu.
Sampai ketika, si peserta tengil ini harus pulang karna progress nya yang menurun. Dipikirku; dia tak terganti. Karna kualitasnya yg berarti. Tapi nyatanya; saat dia terganti, aku malah patah hati. Malah berharap dia terus sampai akhir. Sejak saat itu aku sadar bahwa aku suka dia. Sampai saat dua episode kemudian ada episode dimana semua peserta yang sempat terganti bisa kembali lagi dengan sistem wildcard. Disitu, dia membuktikan diri bahwa dia akan merebut tempatnya lagi. Aku liat, gimana berjuangnya dia. Gimana egoisnya dia buat ngambil apa yg harusnya jadi milik dia. Gimana kuatnya dia.
Dan ketika babak live;
Aku mau ketemu dia.
Mau peluk dia.
Mau bilang semangat dan gaboleh sampe ke eliminasi lagi.
Dia pantes menang dengan kualitasnya. Musik Indonesia bakal lebih baik dengan hadirnya dia.
Dan ketika nekat pertama kali ke jakarta nemuin dia; aku mulai tau semua kisahnya.

Dia adalah inspirasi.
Sekaligus motivasiku untuk terus hidup.
Entah bagaimana;
Tiap ketemu dia, bahagia melingkupi aku.
Bahagia yang udah lama banget aku lupa rasanya.
Bertemu dia seperti menciptakan stock bahagia dihidupku.
Makanya; bertemu dia adalah harus.
Perlu ongkos karna gamungkin beratin beban papa cuma buat main main.
Akhirnya aku nerima keadaan.
Aku kerja. Gajinya buat ongkos ketemu dia. Nemuin bahagia aku.
Bawain sesuatu biar dia seneng. Nyenengin orang yg udah bikin bahagia itu gapapa kan?
Banyak orang bilang;
"Lu kerja cuma buat dia?"
Kalo iya jawabannya kenapa?
Kalau dipresepsikan,
Apakah ada nominal rupiah yang mampu "membeli" bahagia? "Menyelamatkan" nyawa?

Dia membuatku kenal dengan banyak temen. Dengan segala cerita hidup. Yang menyadarkan bahwa aku masih jauh lebih beruntung. Perlahan aku menerima semua. Meski masih harus mengutuk takdir. Masih harus memaki keadaan dilahirkan dengan mama yang seperti itu. Dia membuatku pulih meski sangat pelan. Kubilang mentalku sakit. Aku tidak punya alasan untuk hidup. Tapi dia hadir sebagai obat. Penyembuhan diriku atas segala sakit dan kecewaku pada dunia beserta isinya.

Namanya devin sanjaya. Malaikatku. Obatku. Insipirasiku. Alasan terkuatku.

Ketika sahabat aku sendiri bilang bahwa devin bikin aku jadi budak cinta, aku terluka. Bukan karna dia sebut aku budak cinta. Tapi karna dia sahabatku. Seharusnya dia tau. Bahwa rasa cintaku telah lama mati. Aku sayang devin karna dia "malaikatku". Pemberi bahagia disemua keterpurukanku. Sejak itu juga aku sadar; dia bukan sahabatku. Aku selama ini sendiri. Aku tidak punya Siapa Siapa. Orangtuaku menghancurkan masa depanku. Sahabatku tidak mengerti semua keterpurukanku. Aku sendiri..
Dan "malaikat" itu hadir.
Menjadi alasan kuat aku bertahan sampai sini.
Menjadi alasan kenapa aku masih berpijak dibumi.
Dan semua orang menyalahkan keberadaan devin dihidupku.

Semua kisah hidupnya,
Semua sifatnya,
Adalah sama sepertiku.
Tapi dia bisa berhasil.
Dan aku harap, akupun begitu.
Dia inspirasi. Motivator secara ga langsung. Pemberi bahagia. Yang membuat hariku ga sehampa dulu.
Karna, aku cuma punya devin.
Untuk terus melanjutkan hidup.

Devin selalu marah tiap aku bawa sesuatu buat dia. Devin bilang ngerepotin. Mending uangnya ditabung. Andai devin tau, bahwa ga ada nominal yg mampu menghitung semua bahagia yg dia beri. Semua obat yang dia kasih buat penyembuhan diriku. Karna tanpa dia, aku gamungkin mampu bertahan lebih lama lagi.
Belasan tahun aku ngelaluin semua sendiri, aku sekarat tanpa "obat".

Semoga kelak,
Setelah baca ini,
Siapapun yang udah nyalahin keberadaan devin dihidupku mengerti.
Betapa berartinya dia selama ini.
Aku tidak pernah merasa rugi. Memberi apapun untuk hadirnya sebagai penopang aku yg rapuh.
Sebagai obat aku yang sekarat.

Aku menceritakannya bukan karna ingin menyebar aib keluargaku.
Aku ingin kalian mengerti
Bahwa aku sudah pernah sekarat sendiri.
Silahkan hina aku.
Hakimi semua lemahku.
Yang gabisa ngelewatin semuanya sendiri bahkan sampe kepikiran bunuh diri.
Asal jangan salahkan devin,
Jangan salahin hadirnya dihidupku.
Dia lebih dari segalanya.
Satu satunya perban disaat semua menghujam belati.
Disaat semua terdiam melihatku terluka.
Memar ungu dimana mana.
Hanya devin.
Penenang saat aku ingin berteriak depresi.
Terimakasih, ka devin.
Atas hadirmu dihidupku.

Rabu, 21 November 2018

About me (5)

Gue adalah orang yang berambisi.
Ga sekalipun gue melewatkan hari tanpa ekspektasi.
Segalanya punya planning.
Tapi gue gapernah punya rasa takut.
Entah itu keberuntungan atau kesialan.
Yg gue tau, gue gapernah takut gagal.
Makanya gue gapernah punya plan b.
Dan ketika gue gagal, gue depresi.
Gue mencoba lagi.
Tapi jatuh lagi.
Berkalikali.
Sampe gue nyerah buat percaya sama semua harapan.
Gue putusasa.
Semuanya adalah kesiasiaan.

Sampe saat gue dititik terpuruk,
Devin hadir dihidup gue.
Yg buat gue perlahan bangkit.
Dengan seluruh harap yg gue rakit buih demi buih.
Dengan bahagia yg devin kasih.
Dengan segala pelajaran hidup.
Gue tau bahwa hidup sesuai ekspektasi adalah bunuhdiri.

Perlahan,
Gue mulai mengendalikan diri.
Mencoba menerima takdir illahi.
Berhenti mengutuk dunia ini.
Dan mulai menjalani hidup baru.

Tanpa kehadiran devin,
Gue hanyalah gadis Malang.
Menyedihkan.
Hidup lunta tanpa arah tujuan.

About me (1)

Dari kecil.
Gue terlahir dari keluarga yg selalu cukup bahkan sering lebih..
Apapun yg gue butuhin udah tersedia gitu aja.
Apapun yg gue inginin sekali sebut langsung beli.
Gue dibesarkan dengan manja,
Dengan keras kepala apapun yg gue mau adalah keharusan.
Kalo engga bisa, gue nangis.
Gamau tidur, gamau makan.
Sekalinya mau jajan, taunya keracunan.
Konyol.

Makin gede,
Keadaan berubah.
Dunia berputar.
Kondisi dibawah.
Ga kekurangan. Tapi cuma cukup.
Gue dididik buat jadi wanita tangguh.
Sifat keras kepala gue makin jadi.
Apapun yg gue mau adalah keharusan.
Tp papa bilang gue harus kerja keras buat dapetin apa yg gue mau.
Gaboleh pake cucuran airmata lagi.
Apapun itu,
Gue lakuin.

Rabu, 14 November 2018

Tahun kedua.

Aku sudah coba berhenti berekspektasi.
Agar kecewaku tak terlalu berarti.
Tapi kali ini,
Aku hanya ingin sekadar ucapan terimakasih.
Tapi tak kudapati,
Dan sialnya aku patah hati.

Sedih sekali.
Tak sekalipun kamu membuatku terbang tinggi.
Tapi saat kau jatuhi,
Rasanya aku hampir mati.

Oke ini mulai berlebihan, aku mengerti.

Devin (1)

Aku ingin berhenti.
Tapi kutakbisa pungkiri,
Kau yang selama ini dihati.
Menyuburkan jiwa yg mati.

Aku tersesat, dalam gulita putusasa.
Dan kau ada, menghadirkan sepercik cahaya.
Menuntunku untuk bahagia.
Menyadarkan bahwa ini semua hanya sementara.

Hadirmu..
Lebih dari segudang lagu.
Pengobat luka beku membiru
Juga memar pada jiwaku

Sabtu, 08 September 2018

Delapan September

Selamat malam idolaku.
Inspirasi sekaligus sumber kebahagiaanku.
Ini malam atau kemarin hatimu tak lagi baik baik saja kan?
Aku tak ingin lagi menangisi
Perihalmu yang kerap patah hati
Karna kupikir, dirimu yg bermain api
Hatimu keras sekali
Hingga bisa patah dan terlukai
Sudah kucoba tak peduli
Walau akhirnya aku ingin sekali mengobati.

Bagaimana sekarang?
Aku ingin sekali mengeringkan lukamu
Dalam diksi yang kutuang jadi puisi
Lewat doa doa pada semesta yang diaminkan langit malam
Melalui pucuk pucuk asa agar kau lebih kuat dari ini
Benar kata seseorang,
Kami tidak suka melihatmu menjadi lemah
Tapi pada akhirnya
Kau urus perkaramu sendiri,
lagi lagi bukan karna kutak peduli
Hanya sedikit memberimu ruang tuk renungi.

Aku, dia, kami, mereka
Hanya dapat mengaminkan satu hal
Semoga kau bahagia selalu.
Devin sanjaya atau dwi adji sanjaya.
Tak penting namamu.
Kau berada disisi kami
Dan bahagia untuk kami
Sudah cukup bagi devinisi.

Sabtu, 01 September 2018

Percayalah

Percayalah.
Bagaimana rasaku padamu itu sama persis seperti kepada si biru.
Sebatas mencari kebahagiaan.
Sebatas berhenti mengutuk keadaan.
Dengan si biru atau denganmu, Aku tidak lagi membenci dunia dan segala isinya.

Kalian berdua mungkin alasan Tuhan untuk ku tetap bertahan.
Aku hampir kehilangan semua harapku,
Sampai kalian datang dan memberi semua arti.
Aku pelan pelan memahami,
Bahwa setidaknya dunia tak seburuk itu.
Dan itu berkat kalian berdua.

Jika sikapku yang terlalu royal membuatmu berpikir bahwa itu adalah cinta,
Percayalah. Kau salah.

Karna apa yg kulakukan untukmu pasti akan kulakukan untuk si biru juga.
Meskipun dengan cara yang berbeda.
Percayalah,
Jika itu cinta,
Bagaimana bisa aku menyimpan rasa untuk dua orang yang berbeda? Pun bertolak belakang?
Tak satupun hati mampu terisi dua cinta.

Lagipula,
Kau tak tau kisah laluku.
Bahwa penghianatan dan kecewa telah menghancurkan rasa cinta dalam diriku.
Merubahku jadi mesin pembunuh tak berperasa manusia.
Sebab aku lupa rasanya di manusiakan oleh manusia.

Senin, 20 Agustus 2018

Patah Hati yang Terlupa

Aku pernah mencintaimu begitu pekat.
Lalu keadaan membuat kita sangat rekat.
Dan entah bagaimana kau pergi membuat sekat.
Melarangku untuk mengejarmu apalagi mendekat.

Sampai dihari ini,
Lucu sekali.
Betapa naif diriku yang dulu mendambamu.
Sedang kau mendamba puan yang lain.

Aku sampai lupa.
Kapan hari jadi kita.
Kapan hari saat kau meninggalkanku.
Memilih untuk mencintai yang kemudian menghianatimu.

Aku lupa.
Benar benar lupa.
Bagaimana rasanya mencintaimu saat itu.
Bagaimana air mataku tak kunjung kering,
Saat kau memutuskan pergi.

Aku masih lupa.
Atau barangkali tak akan teringat lagi.
Bagaimana nestapa yg kau cipta.
Hingga membuat luka.

Masalahnya,
Luka itu tak membuatku rapuh,
Justru malah menjadikanku pribadi tangguh.
Sampai sampai,
Ketangguhan itu menghilangkan rasa cinta dalam hatiku.
Menghapus kasih dalam benakku.
Menggilas rasa peduliku,
Hingga membunuh dua tiga orangpun,
Aku sudah mampu.

Senin, 13 Agustus 2018

Kami baik baik saja

Ya.
Kami baik baik saja.
Malam itu telah dijelaskan segalanya.
Aku mengerti,
Diapun memahami.
Segalanya telah jelas.

Aku yang perasa.
Dia yang memang abai.
Kami berdua sama sama salah.
Tapi tak apa,
Sekarang kami baik baik saja.

Aku tak lagi takut,
Perihal pemikirannya tentang apa kata orang.
Karna sekarang,
Aku percaya padanya,
Seperti dia percaya padaku.

Katanya,
Tak perlu dengar cakap yang lain
Bilang saja;
"Oh gitu ya? Oohh"
Candanya manis.

Aku tak akan lagi berpikir untuk pergi.
Aku tak akan lagi berpikir untuk menangisi.
Karna segalanya telah jelas,
Kami baik baik saja.

Kalau kami tak lagi bertegur sapa lewat chatting semata,
Bukan karna sedang bertengkar
Tapi memang tak ada lagi yg perlu dibicarakan.
Kan ku bilang, kami baik baik saja.

Ya,
Terlepas aturan keparat.
Atau teman yang lebih keparat.
Kami tidak peduli.
Karna mulai hari ini.
Kami akan selalu baik baik saja.

Minggu, 12 Agustus 2018

Sekarang Aku Mengerti

Maaf..
Lagi lagi hanya maaf yang kuucap.
Tapi percayalah,
Semalam membuatku mengerti segalanya.
Bahwa yang orang bilang perihal kamu yang baik adalah benar.

Aku yang tak baik.
Meniti prasangka yg belum tentu benar.
Kamu baik,
Orang lain yg menjadikanmu pion yg jahat.
Aku tidak peduli,
Jika kamu meminta merahasiakan segalanya.
Karna memang itu yang aku pinta,
Penjelasanmu.

Dengan begitu,
Aku tak perlu meniti prasangka.
Mencipta halusinasi jahat perihalmu
Mendatangkan tanda tanya,
Menerka kenapa kamu terlihat jahat dimataku,
Sedangkan dimata orang lain kau begitu suci, sempurna.

Sekarang, Shinta mengerti bang.
Amat mengerti.
Maaf atas segala prasangka,
Dan terimakasih penjelasan semalam.
Setelah ini, shinta akan selalu percaya sama abang.

Selasa, 07 Agustus 2018

Ternyata....

Saya yang terlalu perasa.
Juga anda yg selalu mengabaikan saya.
Saya pikir setelah semuanya,
Anda dan saya adalah kemungkinan.
Dengan ketakutan saya beberapa bulan lalu bahwa semuanya ada masanya.
Yang kemudian anda yakinkan bahwa kita pasti bertemu lagi.
Bahwa yg kemarin dibandara saat mengantarmu pulang ke kampung halaman adalah bukan yg terakhir.
Anda berniat untuk mengingkari?
Ah kenapa saya tidak terkejut ya.
Mungkin memang sudah digariskan begitu,
Banyak orang berjanji hanya untuk diingkari.

Sabtu, 04 Agustus 2018

Aku rindu, Bang.

Aku tak marah,
Meski seringkali kau buat resah.

Aku tak benci,
Meski seringkali kau abai.

Aku tak apa,
Bila kau tiada.

Aku tak murka,
Bila kau dan aku tak berjumpa.

Aku tidak baik baik saja.
Tapi tak mengapa.

Semoga kau sadar,
Bahwa aku sudah memperjuangkamu begitu besar.

Karna aku bukan meminta hatimu,
Aku hanya ingin beberapa jam untuk bertemu.
Sebab aku begitu rindu.
Hanya itu.

Bang, Shinta rindu sekali

Pelukan semalam hangat, bang.
Tidak pernah sebegininya Aku merindu ka devin,
Tapi denganmu,
Padahal aku bilang tak apa bila kau tak bisa bertemu.
Tapi kenapa semalam membuat kita bertemu?
Dengan peluk hangat selama itu.

Aku menangis bang.
Basah.
Terasa sekali dipundakmu yang nyaman.

Kau terus memelukku.
Membiarkan kulepas rindu yg menyiksa.
Erat sekali.
Lama.

Sampai akhirnya kamu menghilang.
Seolah fatamorgana,
Dan aku membuka mata.
Mimpinya terasa nyata bang.
Karna bantalku ikut basah
Dengan mata yg sembab.
Hidung yg memerah.
Dan perasan yang hancur.

Kamis, 02 Agustus 2018

Maaf

Maaf..
Maaf telah membuatmu berada diposisi rumit.
Memaksamu terus ada disisiku.
Dengan upayaku, dan utang budimu.

Aku tidak bermaksud.
Hanya saja aku ingin kau disini.
Temani sepi.
Tak harus memiliki.
Yang penting ragamu disini.

Sebut saja ini egois.
Aku tak marah,
Karna itu kenyataan.
Aku butuh hadirmu,
Peluk hangat penawar rindu.

Aku butuh kasihmu.
Penenang tangisku,
Disetiap malam keparat nun sendu,
Biru.

Buat apa

Beberapa jam lagi kita ada dikota yang sama
Hanya perlu 2400detik untuk bertemu

Tapi..
Buat apa kamu kesini?
Kalau kita tak bisa tersenyum bersama lagi?

Buat apa kamu pulang?
Sementara tak bisa mengobati rindu yg terus mengajak perang.

Buat apa..
Buat apa kita dikota yang berdekatan?
Tapi hadirmu, tak kudapatkan.

Buat apa?

Senin, 30 Juli 2018

Abang, Aku rindu

Mau bilang rindu.
Tapi takut kau abaikan.
Mau bilang selamat malam.
Tapi masih takut kau abaikan.

Kadang aku merasa diam adalah yg terbaik.
Hilang lebih baik lagi.

Seolah menjauh pergi
Padahal hanya memahami sibukmu
Seolah ingin dicari
Padahal memang sengaja agar kau tak terganggu

Karna..
Aku hanyalah pohon kecil
Ada dan tiada tak pengaruh apa apa
Tapi kamu adalah matahari
Tanpamu aku mati

Karna..
Aku hanyalah air hujan
Yang kau jatuhkan berkalikali
Tapi kamu adalah awan
Tanpamu aku tak ada

Dan seperti itu perasaan malam ini
Memendam rindu yg pelik
Ingin menyampaikan tapi takut terabaikan
Tak menyampaikan tapi masih harap angin malam menyampaikan.
Mengitari tubuhnya,
Membuatnya gigil.
Memberitahu bahwa rindu sebeku itu.
Didadaku.

Rabu, 27 Juni 2018

Aku rindu

Pernah ga lo kangen sama orang, lo tau lo bisa ngehubungin dia kapan aja. Tapi lo takut.

Lo takut ganggu dia.
Lo takut dia risih dengan chat lo yg cuma nanya kabar.
Lo takut dia ga mood buat chat sama orang gapenting kaya lo.
Lo takut semuanya kembali kaya dulu pas lo sama dia masih jd org asing.

Gue lagi ngerasain.
Dan rasanya kaya depresi:(
Seolah serba salah.

Lo kangen dia. Lo mau sharing ke dia. Denger cerita kesehariannya. Keluhannya. Keluguannya. Kepolosannya.
Tapi lo takut dia sibuk. Dan keganggu sama chat lo. Sama lo yang terlalu jauh mau tau tentang hidupnya. Trs dia jadi risih dan menjauh.

Tapi kalo kangennya lo biarin. Lo seperti tersiksa. Karna sejujurnya hati lu cuma mau tau kabarnya. Mau tau kesibukannya. Mau tau hadirnya. Mau tau, apakah lo tetep orang yang dia anggep atau mulai menjadi orang asing seperti dulu.

Lalu apa yg harus gue lakukan?
Ketika rindu mendera, sementara logika mencegah begitu nyata?

Minggu, 24 Juni 2018

Seberapa Penting

Aku tidak tahu. Lebih tepatnya tidak berhak tau. Seberapa penting aku dihidupmu. Aku baru kemarin sore mengenalmu. Mana berhak mempertanyakan seberapa penting aku.

Aku tidak tahu. Lebih tepatnya tidak ingin tahu. Seberapa penting aku dihidupmu. Bukannya tak sabar ingin tahu, aku justru takut dengan kenyataan bahwa tanpaku kamu akan terus baik baik saja.

Aku tidak tahu. Lebih tepatnya tidak penting untukku tau. Seberapa penting aku dihidupmu. Mereka yang telah lama mengisi harimu saja belum tentu penting dihidupmu. Bagaimana aku, bocah kemarin sore yg diijinkan begitu dekat denganmu.

Aku tidak tahu. Dan biarlah aku hidup dengan ketidaktahuan. Terus disisimu lebih penting ketimbang mengetahui seberapa penting aku dihidupmu.

Aku tidak mau tahu. Sedikitpun tidak. Jika saatnya kuharus pergi, biar itu karna keadaan. Bukan karna aku tau, bahwa aku tidak sepenting itu dihidupmu. Seperti yang kuharapkan.

Jumat, 15 Juni 2018

Kehilangan

Ketika keadaan memojokan dan aku ingin berkeluh kesah, kenapa justru hadirmu alpa begitu lama?

Salahkah bila ku rindu kau yg selalu berucap maaf ketika lambat membalas pesanku? Salahkah bila ku rindu kau yg selalu berkeluh kesah padaku? Salahkah bila aku ingin kita selalu berkabar? Bukan menuntutmu menjadi apa yg ku mau. Hanya sedikit bukti untuk tau betapa berarti aku dihidupmu. Ini konyol. Bukankah aku tau bahwa itu semua kesalahan. Memperjuangkanmu itu sudah tugasku. Harusnya tak perlu meminta apapun. Aku saja yg memang bodoh berjuang dengan mengharap balas meski sekadar hadir dan kabarmu.

Kalau kau berubah. Biar aku yg menyerah. Karna memaksakan bukan tipeku. Aku membiarkan kamu mengalir menjalani hari tanpa ku bukan karna aku ingin dicari. Aku hanya tidak ingin lagi mengganggumu. Marah dan benci perihal kamu yg terus lambat membalas pesan. Perihal kamu yang semakin lama kian mendingin. Aku hanya ingin kau sendiri. Bebas tanpa perlu direcoki pengganggu sepertiku.

Bukankah semua orang juga tahu? Kamu yg cuek atau aku yang memilih pergi, ujungnya tetap aku yg merasa kehilangan. Hanya aku. Kehilanganmu.

Selasa, 05 Juni 2018

Kau(1)

Tidakkah kian hari kusemakin mengerti bahwa semua memang ada masanya? Sibuknya yg tak lagi bisa kupahami. Dan hidupku yg monoton kembali tanpa hadirnya. Ini agak memuakkan. Kadang, aku hanya minta dia berkabar disela sibuknya. Agar aku tau bahwa dia tidak melupakanku. Sesekali duakali tak apa.

Sejujurnya, trauma 1 tahun lalu masih tersisa. Aku takut jika akhirnya ada batas lagi diantara kita. Apalagi pembatas itu keparat yg sama saat dia membatasiku dgn devin. Aku takut. Kalau kalau km terpengaruh oleh mereka untuk mencipta jarak. Membuat tembok yg tinggi hingga kutaklagi bisa bersamamu. Aku lebih baik kehilanganmu karna kamu melupakan aku, ketimbang harus terpengaruh oleh "keparat" yg menjelekkan diriku agar kau menjauhiku.

Pesanku selalu sama;
Apapun yg kau dengar perihalku tolong tanyakan kembali padaku. Kamu tau aku tak akan membela diriku sendiri jika aku bersalah. Kamu tau aku tak akan bisa membohongimu. Karna tuhan menciptakan dua telinga agar kau bisa mendengar dari dua sisi berbeda. Sisanya bagaimana hati dan otakmu yg menilai.

Kamis, 31 Mei 2018

Jatuh Cinta Sama Jo?

Gue?
Jatuh cinta? Sama bang jo?
Omegat gutpipel. Pls.
Gue ga sehebat itu buat berani jatuh cinta. Angan gue ga setinggi itu buat milikin bang jo. Perjuangan gue ga sebesar itu sampe berharap jadi Siapa Siapa dihidupnya.

Dia itu idola. Obsesi kedua setelah devin. Abang yg selalu bilang hal baik sama gue. Yg gapernah bilang "aku pengennya shinta....." Tapi bilangnya "aku berharap kalo shinta...." Gapernah kasar. Selalu lembut. Gapernah marah. Selalu ngelindungin shinta. Jadi tameng paling kokoh saat shinta buat salah. Dia abang. Abang yg selama ini shinta mau. Abang yg shinta selalu impikan. Jd untuk jatuh cinta. Memiliki dan menjalin hubungan aduh pls ya. Jangan halu:))

Sebuah pernyataan

Kalau yang lain dibanggakan, dipamerkan pada temannya, diberitahukan jasanya pada seisi sosial media. Apakah aku merasa cemburu? Merasa iri dan ingin kau umbar bahwa akulah sebagian kecil orang dibalik puncakmu saat ini?

Tidak sayang. Aku tidak perlu dunia tau bahwa akulah yg sedikit menyumbang alasan hingga kau sampai dititik ini. Aku tidak perlu pujian. Ketenaran. Karna kau mengabariku dikala sibukmu saja sudah lebih dari cukup. Kau bercerita tanpa rasa canggung sudah cukup. Kau bersikap lebih terbuka dan berkeluh kesah padaku sudah cukup. Aku tidak perlu segala rumit perihal ketenaranmu diluar sana. Inginku satu, sebagai orang yang selalu kau cari apapun yg terjadi. Sebagai orang yang selalu kau rindukan tiap sibukmu. Sebagai orang yang kelak kau ingat bahwa aku pernah berjuang sebesar itu untukmu. Pernah bertahan selama itu untukmu. Dan pulang dari setiap lelahmu. Karna aku akan selalu berada dirumah. Memasak sup hangat untukmu. Menghilangkan rasa pegal ditubuhmu. Merawat anak kita hingga dewasa. Tak peduli seberapa jarang kau akan pulang. Asal aku tetap jadi rumah yang terus kau rindukan dan selalu ingin kau temui.

Sabtu, 12 Mei 2018

Tak Lagi Sama

dulu kita tak pernah kehabisan topik bicara.
sekarang hanya wacana sederhana
sekadar sepatah dua patah kata
tak ada lagi cerita yang dapat dicecap sesama.
sudah kubilang,
Kita memang sudah berbeda.
Tak lagi sama.
-RB, 2016

Aku (3)

Adalah aku yang mencambuk pedih mengubur rasa. Melupa derita yang membakar seluruh asa. Sudah lama kuhatami kitab luka dengan egomu didalamnya. Apa yang lebih menyakitkan ketimbang melihatmu sibuk mencintai orang yang menyakitimu.
Adalah aku yang menghujam perih mencongkel luka. Melupa sendu yang telah lama terlihat pilu. Sudah lama kuhatami kitab luka dengan bisumu didalamnya. Apa yang lebih menyakitkan ketimbang melihat kau yang disakiti wanita lain.
Adalah aku, penunggu lelaki yang menunggu wanita lain.

Aku (2)

Aku adalah penulis yang buruk. Setiap bait syair dan larik puisiku, tak akan pernah cukup untuk mendeskripsikan keindahanmu.

Aku Ingin

Aku ingin diberi mawar, tapi tanpa mawar hidupku takkan berubah.
Tetap sama.
Aku ingin diberi sebatang coklat, tapi tanpa diberi, aku bisa beli sendiri jika kuingin. Kapan saja kumau.
Aku ingin kamu bersifat romantis, tapi tanpa sifat romantismu aku tetap akan menyayangimu. Sebab, kau tidak alpa saja aku sudah lengkap.
Aku tak perlu mawar, sebatang coklat, dan segala keromantisan. Sebab hadirmu saja telah cukup untukku bahagia.

Rindu (1)

maka apalagi yg ingin kau pamer pada teman temanmu?
tentang aku yg sekarat sebab merindumu?
lantas tertawa,
menertawakan dirimu sendiri yg jua sekarat,
yg habis dimakan gengsi?
dasar keparat!!

Pernahkah?

Pernahkah kau bayangkan susahnya berpaling dari dia yang kau sayang?
Salah satu menjauh, agar yang lain tak terluka
Salah satu mengalah, agar yang lain melupa
Salah satu menghilang agar yang lain terbiasa
Pernahkah terpikirkan olehmu?
Apakah aku terlihat bahagia?
Apakah hubungan ini hanya sebatas status semata untukmu?
Lalu akan kau apakan,
Perasaan orang yang terlanjur masuk dalam setiap ranah kehidupanmu?
- V/16 (sajak liar on line)
Edit by SR, desember 2016.

Rindu(3)

Kamu tau seberapa perih menahan rindu yg nyata?
Sementara hadirmu hanya kesemuan belaka. Tak ada yg tersisa kecuali ruang hampa. Sepi, menggerogoti rasa yg tersisa.

Jo(1)

Bang, aku masih penulis pemula
Sajakku masih rangkaian kata sederhana
Aksaraku pun masih begitu begitu saja
Tapi percayalah bang!!
Meski puisiku tak sarat makna
Sayangku padamu bukan dusta belaka

Rindu(2)

masihkah kau tampikkan rindu yg menggelantung bebas?
terayun hembusan doa akan dia.
yg harap cemas dia baik baik saja.
tapi malu, sebab gengsi.

Terserah Kau Saja

Maka terserah kau sajalah,
Aku hanya peramu rindu.
Kau yg di rindu entah tak peduli atau barangkali membenci.
Maaf jika tingkahku begitu kekanakan dimatamu.
Kau hanya perlu tau yang boleh jadi kau tak ketahui,
Jikalau rindu tak pernah pilih kasih dalam bermuara.
Maka aku bisa apa sekarang?
Rindu padamu bermuara didadaku.
Sedang dirimu boleh jadi tak ingin lagi bertemu.
Padaku.

Dan Aku Jatuh Cinta Pada Puisi

Bacalah puisi tentang firasat. Langit bermula dari pandangan. Dan berakhir di ketidaktahuan. Suatu masa kamu akan mendengar dengung lebah di luar angkasa. Beberapa orang bercocok tanam dan memulai hidup di sana. Bumi tak senyaman rahim. Dan surga begitu menggiurkan. Sepotong daging yang membungkus tulang dan nafsu akan selalu menyimpan kegelisahan. Kegelisahan tertangkap. Mata yang terbuka. Manusia gelisah karena tak bisa menabung nyawa. Hidup bahagia selama-lamanya adalah lelucon paling garing yang diciptakan oleh seorang yang hidupnya paling sepi dan sengsara. Apalagi surga.

Manusia Bumi

Terseok-seok kulangkahkan kaki.
Menjelma jadi manusia bumi.
Ternyata rumit.
Biasa tinggal kukepakkan sayap,
Maka aku kan lintasi cakrawala.
Ditemani kicauan burung,
Tepat dikupingku,
Dilangit mega.

Seperti Cicak

Betapapun kamu mencintai wanita lain, betapapun kamu enggan singgah terlebih tinggal, betapapun kamu toreh luka, betapapun sumber kesakitan hatiku adalah kamu, betapapun kuat usahaku lupakan kamu, betapapun perih melihat cumbuanmu padanya,
Aku tetap disini, seperti cicak. Enggan berpaling apalagi pergi. Kaki dan tanganku kau rantai dengan perhatian mu, hatiku terbelenggu, tapi mataku melihat kepalsuan yg kau cipta. Aksara mesra tentangku hanya buaian belaka. Tapi aku masih enggan berpaling. Berharap kau yang melepas rantai perhatian dan mengusirku pergi dari asmara masa lalu.

Lelaki Bulan September

Tersebab kau
kuumpamakan bintang.
Bersinar,
Tapi jauh.
Tak dapat kugapai

Cerita Masa Lalu

Sebab aku hanya sebuah kesalahan,
Yang pergi meninggalkanmu, mengingkari janji, menggurat perih, meninggalkan luka di tempat yang pernah disiapkan spesial untukku.
Lantas mengemis untuk kembali.
Karna aku hanya perempuan masa lalu yang mengungkit kisah masa lalu hanya untuk mengulang kisah yang sama denganmu tanpa peduli seberapa besar lukamu, seberapa perih luka itu.
Lantas menderai tangis seolah akulah yang kau tinggalkan.
Sebab aku hanya perempuan yang seolah diciptakan untuk membuatmu merasakan sakit. Datang dan pergi sesukaku, membuat luka tanpa ingin tau betapa perih yang kau rasakan.
Lantas menjerit histeris mengatakan pada semua orang bahwa kau yang melukaiku, kaulah yang membuat hubungan kita kacau.
Aku perempuan pendusta yang hebat, semua orang menyalahkanmu. Tapi aku tidak bermaksud apa apa sedikitpun. Aku hanya ingin kau merasa bersalah meskipun aku yang salah agar kita dapat menjalin hubungan seperti dimasa lalu.
Dan aku sangat menyesali itu.
Tapi sekarang aku bersyukur, betapa kamu tau bahwa kita adalah luka. Semakin dekat semakin saling melukai maka kau putuskan mencari kertas bersih. Enggan merapikan kertas usang yang penuh coretan koyak itu.
Sebab kau adalah lelaki berharga.
Dan sekarang aku bersyukur bahwa kamu menetapkan pendirianmu untuk menulis diatas kertas baru bukan kertas usang yang koyak. Sebab apa jadinya hati perempuan baru yang nantinya kau tinggali untuk kesalahan seperti aku jikalau kita mengulang kisah masa lalu.
Dan aku tiada henti hentinya bersyukur, bahwa lelaki berharga yang pergi untuk alasan yang jelas pernah menjadi milikku. Pernah menoreh tawa meski tersisa tangis.
Terimakasih Tuan,
Untuk Dua puluh bulan berharga selama hidup ini.

Untukmu,
Yang hatinya sempat rusak sebabku.

Kehilangan

Kita semua tahu,
Tidak ada yang tidak baik baik saja setelah kehilangan. Itu sebabnya aku membiarkan kamu dengan dia. Aku ingin mengusik berharap hubungan kalian segera berakhir, tapi untuk apa? Untuk kesedihanmu kehilangan dia? Aku memang bukan malaikat, tapi aku tidak sejahat itu untuk melukai perasaanmu. Kau tau aku menyayangimu, oleh sebab itu pula aku menunggumu. Jika kamu harus kehilangan dia, itu atas keinginan perempuanmu atau lebih baik atas keinginanmu. Dan bukan karna aku.

“akan kutunggu waktu dimana kamu bisa mencintaiku. kapanpun itu aku tak perduli, asal penantianku berujung denganmu. Meski waktu itu datang diakhir masa hidupku.”

Senja Dan Malam

Selamat petang, Sayang
Senja sudah mulai hilang sekarang. Berganti gelap malam yang panjang.
Seperti kisah kita, akulah senja dan dia adalah malam.
Malam menutupi senja begitu rapat hingga kini ku tak terlihat.
Bukankah selalu begitu? Malam memang lebih menawan ketimbang senja yang hanya lewat sebagai bayangan.

Ketakutan

Pernahkah kalian berpikir bahwa akupun manusia?
Punya rasa takut dan trauma seperti kalian.
Tidakkah kalian ingin tanya padaku berapa usiaku saat ini?
Aku masih seorang anak yang baru tumbuh dewasa.
Jangan anggap aku tak ada.
Karna sebelum tamparanmu dipipi istrimu mendarat,
Aku tepat disampingmu.
Menutup telinga rapat rapat.
Gemetar tanganku ini.
Ketakutan.
Beberapa bulan lalu,
hanya dua meter jaraknya dari aku berdiam diri,
Piring-piring berterbangan dari rumah yang lain.
Teriakan perempuan oleh sebab badannya diinjak suami begitu nyaring ditelingaku.
Barang barang dilempar kesana kemari membuat riuh keadaan satu rumah.
Tapi aku bisa apa?
Menutup telinga rapat rapat.
Gemetar tanganku ini.
Ketakutan.
Terus ketakutan.
Aku selalu saja ketakutan.
Kenapa selalu aku yang jadi saksi?
Seolah sengaja menggores trauma.
Seolah sengaja membiarkanku tenggelam dalam ketakutan.
Membiarkanku membenci sebuah pernikahan.
Kenapa?
Kenapa pertengkaran suami istri yang berujung perceraian aku yang menyaksikan?
Kenapa bukan orang lain?
Agar aku tak jatuh cinta?
Atau agar aku benci tentang pernikahan?
Bolehkah sesekali kalian pertimbangkan?
Bertengkar adalah hak kalian.
Silahkan bertengkar sampai salah satu dari kalian mati.
Aku tidak peduli.
Tidak akan mau tau.
Tapi jangan didekatku.
Jangan sampai pertengkaran kalian buatku salah mengartikan sebuah pernikahan.

Aku

Jika pagi bukan milikku,
Biar malam temani sepiku.
Jika kau adalah pagi itu.
Cukup bayangmu yang kuperlu.
Aku sudah muak dengan segala cerita cinta tentang romantisme.
gombalan biadab dengan janji semanis madu sudah taklagi mampu membiusku.
Aku,
Pemurka cinta telah lahir dari sebuah patah hati paling menyakitkan.

kita

Maka kau pujilah dia sebagaimana kehendak hatimu.
Aku pengakhir cerita hanya bisa tersenyum lega,
Tak mengapa tak dianggap ada,
Sebab ku hidup bukan untuk meninggalkan nama,
Tapi karya.
Untuk dikenang.

sajak perpisahan

Hari telah berganti,
Kini kita tiba diujung perpisahan ini
Tapi tak usah bersedih hati,
Tak perlu jua ditangisi.
Sebab perpisahan ini tak abadi.
Hanya saja sekadar tak bersama lagi.
Coba tengok ke belakang sebentar.
Bersama kita bernostalgia ke masa lampau.
Sahabat, ingatkah kali pertama kita berjumpa?
Beragam dari kita terlahir dari sabang hingga merauke.
Dipertemukan disebuah tempat.
Menuntaskan dahaga akan ilmu.
Untuk menjadi generasi penerus bangsa.
Selama ini,
Perbedaan tak pernah kita pedulikan.
Karena kita adalah kawan tanpa persaingan.
Keluarga kedua dalam jalinan persahabatan.
Oya, ingatkah engkau?
Dulu, kita pernah menapaki jalan terjal,
Penuh batu juga ranjau.
Bahkan tak jarang kita tersandung dan jatuh.
Masalah seringkali datang silih berganti
Lika-liku sudah biasa kita lewati.
Tapi kita tak pernah goyah,
Karena kita saling menopang.
Perpisahan ini bagai kilat.
Waktu seolah berjalan lebih cepat.
Ternyata sudah tiga tahun terlewat.
Ah, rasanya baru kemarin ya?
Tapi hidup ini selalu punya dua hal.
Tanjakan dan turunan.
Pun pertemuan dan perpisahan.
Tak terasa..
Sudah tiga tahun,
Kita bersama arungi waktu dalam menimba ilmu..
Sampai akhirnya, hari ini...
Kita telah berada dipersimpangan.
Kita terus melangkah dan melangkah.
Tapi arahnya sudah berbeda, tak lagi sama.
Kita masih harus sama sama berjuang.
Ditempat yang berbeda, dengan teman yang berbeda pula.
Sahabatku..
Hari ini, perpisahan kan ku awali dengan sujumput peluk hangat seorang sahabat,
Dan kan di akhiri dengan sebentang rapalan doa dengan khidmat.
Semoga kita senantiasa bersuka cita dunia akhirat.

Kamis, 01 Maret 2018

Devin Sanjaya, My Happiness

Beritahu aku bahwa hidupku akan baik baik saja tanpa kamu ka.
Selama ini alasan aku kian hari kian kuat itu karna ka devin
Aku menjadi diriku sendiri
Egoku tamengku

Dan itu kudapat dari hidupmu ka
Benar. Ini bukan hal yang baik
Tapi tanpa ego
Aku mungkin sudah depresi dan bunuh diri

Kamu bukan cuma idola
Kamu pencipta rasa senang yang permanen dihidupku
Segala hal yang ku lakukan adalah caraku berterimakasih
Atas kekuatan yang ka devin terus beri.

Aku menghabiskan segala yang aku punya hanya untuk menemui hadirmu,
Aku tak peduli aku kehilangan semuanya.
Asal aku ga kehilangan pencipta rasa senang yang buatku jauh lebih kuat dari sebelumnya
Pertahananku
Alasanku
Itu ka devin

Tapi bisakah ka devin pecahkan hatiku yang kian mengeras dan beritahu bahwa aku akan lebih bahagia tanpa ka devin?

You are my idol. My second home. My happiness. My spirit. My everything❤❤

Rabu, 14 Februari 2018

Kisah 7 tahun lalu

Setiap malam kita menanam mimpi. Menenun ribuan harapan.
Perlahan.
Merajut untaian masa depan.

Kesalahan pabila ku masih inginkan engkau tuk lengkapi mimpiku.
Dosa pabila kuingin dikau lah harapan yg kupunya.

Sebab tujuh tahun lalu kita sama sama tau, bahwa kita tidak satu.
Aku saja yang sedemikian gila mendambamu tetap disisi
Sementara aku dengan enak berselir hati
Mematahkan kepercayaanmu
Melukai hatimu yang begitu agungkan aku.

Tidak. Tidak akan ada maaf lagi yang terucap dariku.
Itu sudah basi bagimu
Kata maaf tak sebanding dengan sakitnya engkau.
Yang lalu biar jadi pelajaran katamu kala itu.
"Jangan lagi kau ulangi pada setelahku. Tidak ada yg berhak patah lagi karnamu. Cukup aku." Perkataanmu buatku gila akan rasa bersalah.

"Kalau kau melakukan kesalahan tak apa. Manusia pernah khilaf begitupun engkau. Kukira kau bidadari, tapi setelah kesalahan ini ku baru sadar kau juga manusia." Candamu, sambil menghapus tangisku.

Bukannya berhenti aku malah terus menangis ingin memeluk tapi rasanya sudah tidak pantas.
Wanita pendosa sepertiku hanya buat kau sakit.

Bukan aku tidak menyesal akan dosa masa lalu. Aku hanya tak ingin bayangmu terus hantuiku.
Seperti saat ini.
Membuka luka lama yang sudah dijahit rapat rapat.

Kamis, 25 Januari 2018

Alasan bertahan

Kenapa suka sama idola begitu? Islam tapi kaya gapunya tuhan. Telinga ditindik, mabok mabokan, club tiap malam, jarang sholat, rambut di cat padahal orang islam yg rambutnya di cat kan ga akan nyium wangi surga.

Udah sering banget ditanya begini. Sampe gatau mau ngomong apalagi. Percaya lah gue tidak memungkiri apa yang kalian katakan. Tapi pls, dia gak sehina yang kalian liat. Dan kalian juga ga sesuci yang kalian fikirin saat mengklaim dia begitu rendah.

Tanpa dia, mungkin gue hidup seperti manekin. Jalani hari yang monoton. Nyerah sama keadaan. Pasrah sama semua mimpi yang gue citakan. Membiarkan kehidupan menyeret gua entah kemana. Gue ga akan peduli. Karna tanpa dia, mungkin gue orang yang gapunya tujuan hidup.

Tanpa dia, mungkin gue ga akan kenal kalian. Temen temen gue yang amat gue sayang, betapa beruntungnya karna dia gue bisa jadi bagian yang kalian sebut keluarga.

Tanpa dia, Gue ga akan tau kalo ternyata "iniloh kebersamaan yang gua cari" "ini kebahagiaan yang gua tunggu".

Tanpa dia, gue akan lupa caranya bahagia. Caranya ngabisin waktu dengan hal yang gua suka. Dan tanpa dia, mungkin gue bakal terus menerus diliputi emosi karna marah sama dunia yang ga adil.

Perihal dia yang buruk, gue gapernah ambil pusing. Bukan urusan gue ketika dia bertingkah menyimpang. Dia melakukan semuanya secara sadar dan tau konsekuensinya. Gue ga berhak menghakimi hidupnya.

Perihal cat rambut, tolong beri ayat yang menyatakan bahwa mengecat rambut adalah hal yang haram dan dilarang dalam islam. Beri ke saya ayat beserta artinya. Agar kalian tau apakah yang kalian bicarakan sesuai dengan fakta atau hanya menghakimi idola saya secara sepihak.

Kenapa saya membuat ini?

Karna saya gerah dan muak ketika dia yang memberikan saya alasan untuk terus bertahan di salahkan keberadaannya. Harusnya kalian berterima kasih, karna tanpa dia saya tidak akan disini bersama kalian. Saya akan berdiam diri di rumah. Berkedip dan bernapas tanpa harus melakukan apa apa.

Kalau bukan karna dia, saya sudah pergi dari sini sejak lama tak perlu menunggu Lima bulan lagi lamanya.  Saya pastikan, kalau bukan karna dia saya sudah angkat kaki dari sini sejak 3 bulan lalu. Dia adalah alasan terkuat saya masih berada disini.

Dua kehidupan

Aku punya dua kehidupan.
Kehidupan asli dan kehidupan lain. Kalau boleh aku hanya meminta kehidupan lain saja. Sebab rasanya kehidupan lain tidak mengenal kata luka. Hanya janji kebahagiaan disana. Aku bahagia. tidak melulu mengeluh emosi dan marah seperti kehidupan asli. Dikehidupan asli aku seperti pemberontak keadaan. Ingin segera mengakhiri hidup saja.

Dikehidupan lain aku ingin terus hidup. Tapi sebaliknya, kehidupan asliku membuatku muak dan ingin cepat kembali ke alam sana. Nerakapun tak apa. Sebab rasanya tempat ini jauh lebih buruk dari neraka.

Kalau hari itu aku tidak nekat pergi ke Jakarta dan bertemu banyak orang juga mendatangi sang idola. Mungkin keputusanku tentang kematian sudah bulat. Tapi aku masih menimbang bahwa dikehidupan lain aku ingin terus berjuang dan membiarkan kebahagiaan perlahan menghampiri hidupku.

Akan ada masanya aku akan pergi dari kehidupan asli. Hanya perlu 5 bulan untuk terus rasa derita. Nanti aku akan pergi menetap dikehidupan lain. Semoga Lima bulan berlalu dengan cepat. Kuharap begitu.