Minggu, 30 April 2017

Bunga Tidurku.

Amore.
Malam ini bunga tidurku adalah kamu, tentang kita.
Entah bagaimana kita diseret ke masa lalu. Ke enam tahun lalu.

Hari itu kamu merekam kegiatan kita.
Setiap moment kamu abadikan dalam kamera ponsel.
Rekaman terakhir kamu meminta aku membacakan sebuah puisi, dan kau mengiringi dengan gitar. Seusainya kita tertawa. Bahagia. Seolah tidak akan pernah ada masalah. Seolah semua berjalan baik baik saja.

Aku tidak mengerti.
Selama ini aku hampir baik baik saja tanpamu.
Rinduku telah dikuasai oleh lelaki yang gemar bermain futsal itu. Dan bukan kamu.
Lantas, kenapa malam itu kau hadir dimimpiku?
Memaniskan kenangan pahit yang telah kita kubur dalam dalam.
Mencerahkan warna kelam dalam cerita masa lalu.

Aku benar benar tidak mengerti. Maksudku, acapkali orang bilang kalau bermimpi tentang seseorang berarti salah satunya atau keduanya sedang rindu. Dan aku tidak merindukanmu, tapi apa mungkin kamu merindukanku? Lagipula kau sudah punya pendamping atau bahkan jangankan untuk merinduiku, untuk mengingat namaku pun mungkin kau enggan.

Apa hanya bunga tidur belaka? Tak ada artinya barang sepatah makna?

Aku tidak tau.
Tapi kalau boleh meminta aku tak ingin bermimpi tentang dirimu lagi. Apalagi tentang kita dimasa lalu. Sebab lembaran itu telah tertimbun jauh didasar atau bahkan sudah hancur. Tapi lembaran yang hancur itu menyisakan kenangan. Seperti kopi yang meninggalkan ampasnya. Tapi kenangan kita bukan kopi yang mudah dimaniskan dengan gula. Kenangan itu takkan hilang, sebab kenangan itu luka. Kau tau setiap luka selalu ada bekasnya? Begitupun kenangan kita.

Keadaan selalu berubah tanpa disadari. Tapi yang kutahu pasti, perubahan keadaan macam apapun takkan membuat kita kembali seperti enam tahun lalu. Kalau berbicara jodoh. Aku selalu ingin itu adalah kamu. Tapi ketidakmungkinan memaksaku menerima kenyataan.
Bahwa kamu dan aku adalah luka paling biru.

Kamis, 27 April 2017

Untuk Raka dan Billa.

Kabari saja barang sepatah.
Beritahu bila sedang sibuk menyiapkan masa depan untuknya.
Tak perlu lari mengutuk keadaan.
Sebab yang dia butuh hanya kepastian.

Jangan kau tinggalkan dia sesuka kelakuanmu.
Sebab sibuk untuknya juga bukan alasan yang baik.
Dia merindukanmu, Tuan.
Jangan buatnya begitu gila sebab merindu sepatah kabarmu.

Bukan.
Aku tidak bermaksud ikut campur.
Aku hanya pernah merasa begitu,
Sebab kau temanku, Tuan.
Aku juga tak ingin kau menyesal ketika dia bersama yang lain.
Perhatikan hatinya sedikit.
Egois boleh, tapi secukupnya.
Agar kau tidak menangisi keadaan.
Apalagi menghajar kenyataan.

Rabu, 26 April 2017

Surat Untuk Malam

Malam,
Jika esok bukan waktu untuk bertemu dengannya,
Lantas kapan?
Aku takut waktu tak izinkan aku bertatap muka dengannya lagi.
Takut waktuku habis sebelum meninggalkan peluk hangat kerinduan didada bidangnya.

Kalau itu terjadi,
Bolehkah kupinta pertolonganmu?
Jangan biar anginmu menghempas terlalu kencang didekatnya.
Nanti dia gigil.
Biar rindu yang kau titip pada anginmu perlahan mengitari tubuhnya.
Semoga dia rasa,
Rindu bukan sekedar tamu.
Tapi ngilu.

Minggu, 23 April 2017

Teruntuk Lelaki dibulan September.

Aku tidak tau mengapa semenyakitkan ini.

Separah itukah aku jatuh padamu?
Hingga sakit yg kau gores seolah hanyalah luka jatuh dari sepeda.
Bukankah ini berbeda? Ini sama sekali tidak sama.

Luka yg kau gores oleh sebab tubuhmu telah dijamah perempuan lain dengan luka goresan antara lutut dengan aspal itu jelas terlihat letak perbedaannya.

Semua orang tau mana yg lebih menyakitkan.

Dan kenapa aku masih menyimpan rasa padamu?
Masih pula kusemai benih asa,
Seolah kan kutuai kebahagiaan bersamamu.
Seolah masa depan adalah milik kita.

Apakah sedangkal itu otakku?
Seolah kebahagiaanku hanyalah kamu, bermuasal dari hadirmu.
Seolah hidupku telah didedikasikan untuk memohon kebahagiaan padamu.

Apakah aku begitu rendah kini?
Terjatuh dalam pesonamu yg membuatku seperti jalang,
Berlutut dan memohon rasa cintaku dibalas dengan cinta yang setimpal.

Apa boleh kurendahkan diriku untukmu yang bahkan tidak peduli dengan hadirku?
Tidak. Aku tau tidak boleh. Aku telah berusaha sebanyak yang orang orang tau.
Bagaimana kubangkit dari pesonamu, bagaimana kubiarkan tangan tangan halus perempuan lain menjamah tubuhmu sesuka mereka,
Bagaimana kubunuh rindu yg menikamku tiap waktu.

Dan aku tau,
Aku tidak boleh lagi berharap padamu.
Tapi bukankah kau tau?
Sesulit apa mengenyahkan seseorang yang tiap hari kita tatap.
Bertemu disetiap jam istirahat.

Minggu, 16 April 2017

Untukmu, Amore.

Halo, Amore?
Bagaimana kabarmu?
Dari luar kau terlihat baik baik saja.
Tapi paru paru basahmu bagaimana?
Apakah sudah membaik? Atau malah memburuk?
Ah, kuharap kau baik baik saja, ex' Amore.

Oya. Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin kusampaikan padamu.

Kau tau?
Tujuh tahun lamanya aku tidak pernah memiliki orang lain yang menyayangiku seperti kamu. Maksudku, aku pernah disayangi hanya saja aku yang tak menyayanginya. Atau kami pernah saling jatuh cinta tapi kami tidak bersama. Tidak menjalin hubungan yang disebut sebut relationship seperti yang menyandang kita tujuh tahun lalu.

Kamu tau kamu bukan satu satunya yang menjalin hubungan itu denganku. Bahkan kamu saja sudah jadi yang keempat saat aku baru jadi yang kedua. Aku tidak bermaksud tinggi hati. Sama sekali tidak. Aku malah merasa dulu aku begitu mudahnya didapatkan. Murah. Tapi sebenarnya tidak begitu. Kau tau aku bukan perempuan murahan. Kau tau beberapa dari mereka hanya pelampiasan untuk membuang rasa kesal karna kamu yang mengutamakan game ketimbang aku. Kamu tau aku kurang perhatian darimu. Dan bukankah kamu menyadari bahwa kamu tidak pernah meluangkan banyak waktu untukku? Aku kalah dengan hobimu. Yah, aku kalah pada keadaan.

Entah bagaimana aku harus mengakui bahwa aku belum bisa menerima kenyataan bahwa sekarang kamu bukan lagi milikku. Karna setelah tujuh tahun, diantara semuanya kamulah yang masih terkenang. Bahkan tidak hanya terkenang. Kamu sudah membuat ruang khusus didalam sini. Di tempat dimana singgasana rafly kusediakan. Rafly atau siapapun nanti bisa tinggal disinggasana tanpa mengusik ruanganmu. Tidak ada yang dapat masuk ke tempatmu. Jangankan untuk masuk, untuk menemukan ruanganmu saja mereka tidak akan mampu. Sebab kau, kenangan tentang kau, tidak akan terhapus dari otakku, bahkan hatiku.

Yang kutau, aku tidak pernah lupa tentang kita meski sudah tujuh tahun berlalu. Hanya ingatan tentang kamu yang begitu detailnya kuingat. Ingin bernostalgia?

* kamu ingat saat kita tour ke lembang bandung disana kita ke desa yang memiliki lebih dari seribu sapi? Saat jalan, mantanku, teman kita, menggodaku. Seharusnya kita jalan berdua waktu itu, tapi dia mengganggu. Jadilah kita jalan bertiga.

* apa kamu juga ingat hari itu setelah tour kamu memberiku coklat? Saat jalan pulang, aku dipanggil temen kita.
"Shin.. Shinn.."
"Kenapa dit?"
"Nih buat lu, tadi dia nitip. Katanya tolong kasih ke lu "
"Lah kenapa dia ga ngasih sendiri?"
"Au. Katanya malu."
"Oyaudah makasih ya."
Aku cuma bisa senyum sambil geleng geleng. Seenggaknya satu hal yang aku tau, bahwa kamu udah nunjukin cara kamu berjuang. Nyisihin sebagian uang jajan untuk beliin coklat itu perjuangan lho. Percaya deh, aku menghargai apa yang kamu beri dan apa yang kamu lakukan. Tapi sayangnya, itu pemberian pertama dan terakhir kamu. He he.

* kamu ingat saat kita renang, kamu meminta minumku dan yang kuberikan padamu adalah minuman baru. Itu memang sengaja kusiapkan untukmu. Memang dari rumah kuingin memberi itu untukmu. Saat kau berkata "shin.." "Ya?" "Makasih ya" dan aku mengangguk tersenyum. Kau tau? Rasanya baru kali itu aku benar benar jatuh cinta.

* ingat saat ibumu tau bahwa kita menjalin hubungan dan ibumu menyuruhmu putuskan aku? Ibumu tau dari semua sms dariku yang tak pernah kau hapus. Lucu rasanya kalau mengingat itu. Aku tau ibumu bukannya tidak menyukaiku, hanya saja kita terlalu dini untuk saling menyayangi waktu itu. Percayalah, itu caranya menyayangimu.

* inget ga tiap malem aku nelpon kamu. Karna setiap saat rasanya aku selalu rindu. Ah orang jatuh cinta memang selalu begitukan? Aku sampai meminjam hp kakaku untuk menelponmu agar murah hehe. Karna aku pakai gsm dan kau pakai cdma. Saat bertelepon kau selalu mengumpat agar tidak ketahuan mama atau bapakmu. Ah lucu deh. Btw, aku jadi rindu saat menunggu telponku kau jawab lantas saat kau mengangkatnya kau berbisik "halo.." Pelan, tapi terdengar mempesona he he.

* kamu ingat ketika kamu kusuruh datang sebab aku rindu? Itu malam minggu. Kau jalan dari rumahmu yang lumayan kalau berjalan kaki. Kamu menghampiriku, mengobrol sebentar lalu kamu pulang karna kamu harus menepati janji pada mamamu untuk pulang dengan segera.

* kamu ingat ketika kita reuni, saat kau datang aku refleks mencubit pipimu dan bilang "gue kangenn.." Lalu kau malah salah tingkah? Itu pertemuan pertama kita setelah sekian bulan karna kesibukan disekolah baru. Aku tidak peduli apa kata teman yang lain. Yang jelas aku rindu kamu. Sangat rindu.

* kamu ingat ketika kita bermain dirumah teman kita, (ah aku enggan menyebut namanya. Dia bukan temanku lagi sekarang). Saat aku sedang tiduran dilantai dengan bantal, kamu bilang ingin minum dan aku membuatkan milo dingin untukmu. Apa kamu ingat ketika aku membuatkan milo, kau malah memeluk bantal yang aku pakai buat tidur tadi dengan gemas. Kau ciumi seolah itu adalah aku. Oh ayolah, akui saja. Aku melihatmu begitu.

* kamu ingat saat kau menulis status di media sosial bahwa kamu tidak suka kalau "dia" menjelek jelekkan aku didepanmu. Dan aku baru tahu bahwa "dia" yang kau maksud adalah ibumu. Oh percayalah, kau tidak seharusnya begitu. Biar bagaimanapun dia ibumu. Meskipun ibumu tidak menyukaiku, aku tidak apa. Akan kucoba membuatnya menyayangiku.

* kamu inget saat kita berantem hebat, dengan amarah kau bilang aku jablay? Pelacur? Aku tidak marah kalau seisi dunia menyebutku begitu karna aku tidak akan peduli. Tapi yang berkata demikian adalah kamu. Laki laki yang amat kusayang, yang amat kuhargai, yang amat kuhormati, yang amat kupercaya. Satu kalimat, membuat luka yang tidak akan pernah hilang dari ingatanku. Karna aku mengenalmu sebagai lelaki yang baik. Aku pernah menjalin hubungan dengan bajingan, tapi tidak satupun yang berani mengatakan bahwa aku pelacur bahkan saat kami bertengkar sekalipun. Hanya kamu yang berani, dan kamu membuatku kecewa.

* kamu ingat juga ketika aku berniat balas dendam perselingkuhanmu dengan selingkuh dengan sahabatmu, otniel. Keadaan sedang runyam tapi aku ingin kita jalan untuk memperbaiki keadaan. Itu malam minggu ya? Kita naik komedi putar dan duduk bersebelahan. Entah apa yg kita pikirkan. Kita hanya saling diam.

* apa kamu juga ingat malam itu? kurasa benar benar malam terakhir kita. Kita habis jalan bersama lantas cerita tentang hantu dan kau ketakutan. Astaga baru kali itu aku melihatmu begitu. Aku tidak pernah tau bahwa kau takut hantu dan sejenisnya. Tapi aku tidak menertawakanmu, aku memelukmu. Memelukmu dari belakang. Aku tidak bermaksud apapun, sungguh. Aku hanya ingin memberi ketenangan. karna kulihat kau begitu ketakutan. Dan apa kamu tau? Itu kali pertama aku memeluk seorang laki laki selain papaku. Aku berani sebab aku percaya padamu. Tapi hari berikutnya segalanya berubah.

Ah, takkan cukup sehari semalam untuk menceritakan semua yang kuingat. Ini bukan berlebihan. Aku benar benar mengingatnya. Kau tanya saja padaku, maka aku akan menceritakan padamu. Tentang tujuh tahun lalu dan kisahnya. Lagipula, apakah kau mengingat semua kejadian yang kuceritakan diatas? Tak apa bila kau lupa. Aku mengerti.

Aku bukannya terus mengharapkanmu. Lagipula saat kau memutuskan meninggalkanku untuk menjalin hubungan dengan kakak kelasmu waktu itu, semua orang taunya aku yang menghancurkan hubungan kita. Akulah penjahatnya. Nanti orang akan berpikiran -masa dia yang mutusin dia yang ngemis ngemis kembali. Ngejilat ludah sendiri- padahal... yang tau kisah ini kita berdua kan? Kamu tau pada detik terakhir aku bertahan mati matian untuk hubungan kita. Aku mempertahankannya. Tapi semua orang tau, cinta itu dua pihak. Gabisa jadi cinta kalau salah satunya aja yang berjuang. Sedang kamu memilih melepaskan.

Hati kita bisa kembali. Tapi keadaan tidak begitu. Mungkin hanya aku yang kalah pada keadaan. Sebab saat aku masih bernostalgia seperti saat ini, kau sudah membuang jauh ingatan tentang kita. Kau sudah menjalin hubungan dengan banyak perempuan setelah aku. Kau memutuskan untuk tidak kembali. Aku juga inginnya begitu. Tapi perpisahan kita terlalu kasar, hingga aku masih belum terbangun dari tujuh tahun lalu.

Aku minta maaf karna masih ingin mengulang kisah masa lalu. Aku tau itu tidak mungkin, semua orang akan menertawakan kita kalau benar kita akan kembali bersama. Semua temanmu membenciku, semua temanku pun membencimu. Aneh kalau kita seperti dulu. Tapi semua orang tau, menyakitkan rasanya saat dulu pernah sedekat nadi kini jauh sekali.

Bukannya aku tidak punya komitmen. Aku memang mencintai rafly, bahkan amat mencintainya. Tapi kau selalu membangun ruang tersembunyi untuk tidak kulupakan. Tolong beri aku waktu untuk menerima bahwa kita tidak akan pernah kembali. Semuanya telah berbeda. Semuanya telah berubah. Dan...
Semuanya telah berakhir.

Sabtu, 15 April 2017

Kisah Kasih Seorang Pecinta Sendiri

Lebih baik meninggalkan ketimbang bertahan namun menyesakkan hati. Sebab siapa juga yang ingin bertahan ditengah ketimpangan yang ada. Bukan tak percaya pada pasangan, hanya saja terkadang kenyataan memang selalu menyakitkan. Acapkali orang lebih terbuai oleh sesuatu bernama kebohongan yang membuat bahagia meski sesaat. Dan tidak jarang orang menampik kenyataan meski itu benar sebab itu menyakitkan. Mengapa demikian? Yang orang cakapkan tentang hati dan logika yang tidak berkesinambungan memang benar adanya. Karna tanpa disadari demikian yang terjadi didunia ini.

Salah satunya adalah aku. Aku adalah wanita yang jatuh cinta kepada adik kelasku sendiri. Temanku bilang perhatian yang dia beri hanya sekadar menghormatiku sebagai kaka kelasnya. Itu cara dia menghormati perasaanku. Yap!! Aku memang dengan terang terangan menunjukkan bahwa aku memiliki sebuah rasa yang disebut cinta. Aku bahkan tidak mundur ketika dia menjalin status dengan teman seangkatannya. Kutunggu dia hingga putus. Yang lebih parah lagi aku bukan hanya menunggu kabar putusnya, Aku sempat mengganggu perempuannya. Astaga maafkan pikiranku yang begitu bucin (read: budak cinta). Logikaku tau, betapapun ku mengemis takkan ada seincipun rasa yang akan dibalasnya. Tapi hatiku menyangkalnya, aku percaya jika nanti aku kurus dan cantik dia pasti jatuh hati padaku. Dia pasti akan membalas perasaanku.

Ketika hatiku percaya bahwa nanti dia akan jatuh hati padaku, aku tau aku sedang membohongi diriku. Hanya untuk menciptakan perasaan senang saja. Aku tau itu sesaat. Aku tau aku bodoh. Jangan dikritik kumohon. Aku hanya ingin kalian belajar dari pengalamanku.

Sampai ketika aku mendengar bahwa dia menjalin status kembali dengan perempuan lain. Yang kulakukan hanya menunggu kabar putus darinya. Aku tidak berani mengganggunya karna ketika dia diputus perempuan yang seangkatan dengannya itu, sikapnya berubah. Matanya sering lebih sayu, hatinya sedih, dia jadi pemurung. Semua orang tidak ingin melihat orang yang dicintai sedih, bukan? Akupun demikian, (dengan bodohnya) yang kupikirkan dia harus bahagia meskipun hatiku sebaliknya. Apapun untuk kebahagiaannya.

Kalau kau berpikiran "bahagiain dulu orang tua lo baru lo bahagiain pasangan lo" aku minta maaf sebelumnya. Ini bukan tentang aku tidak mendahulukan orang tuaku ketimbang pasanganku. Kuharap kalian mengerti bahwa aku menulis ini mengarahkan tentang perasaanku. Tentang kisah cintaku. Tentang kebodohan. Tentang budak cinta.

Tidak ada seorangpun yang rela melihat perempuan lain memeluk mesra tubuh orang yang kita cintai. Membuatnya tersenyum bahagia. Hatiku berteriak, seharusnya perempuan yang memeluk mesra tubuhmu adalah aku. Yang membuatmu tersenyum bahagia adalah aku. Tapi nyatanya, aku kalah pada keadaan. Aku bisa saja memeluk mesra tubuhmu tapi aku tau, bukan aku yang kau inginkan. Perempuan itu yang kau inginkan untuk membuatmu bahagia, bukan aku. Aku tau. Dan aku mengalah untuk bahagiamu.

Sebagian kecil orang berkata bahwa ini adalah pengorbanan. Agar tau rasanya berjuang. Agar ketika dapat, kita tau cara menghargainya. sebagian besarnya berkata bahwa ini adalah kebodohan. Sebab kitapun harus bahagia dengan cara apapun. Mengalah boleh saja, tapi memikirkan diri sendiri seharusnya lebih penting. Dan disisi ini aku tau ini bukan pengorbanan, aku tau ini kebodohan. Tapi aku merasa senang menjalaninya begini. Meski aku melupakan kodrat bahwa akupun harus merasakan kebahagiaan.

Kisah ini sedang berjalan. Dia masih menjalin hubungan sampai sekarang. Dan hariku disekolah telah usai, karna aku adalah senior. Mungkin aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Tapi lucunya aku bahkan pernah berpikir begini;

"kubiarkan kamu dengan perempuan lain sekarang. Lima tahun lagi aku akan kembali dan tak akan kubiarkan kamu lepas dari pelukanku. Tiada senggama rindu yang halal bagimu selain aku, Raf."

Iya aku tau itu berlebihan. Siapa yang tau apakah aku terus menyimpan rasa untuk dia atau bisa saja berpaling pada lelaki lain saat ditempat baru. Atau bisa saja lima tahun lagi aku atau bahkan dia sudah tidak tinggal didunia ini. Siapa yang tahu bukan? Yang aku bisa pastikan sekarang hanya beberapa hal. Bahwa aku mencintainya, dia tidak pernah memiliki perasaan denganku, semua perhatiannya hanya sekadar menghargai perasaanku, rasa cintanya kini milik perempuan lain bernama desti, statusku sekarang adalah menunggu kabar dia dan desti putus.

Aku bisa menyimpulkan bahwa aku adalah orang paling bodoh yang amat bucin. Aku pernah berpikir untuk meninggalkan, tapi sekeras apapun aku mencoba hatiku tetap mencintainya. Hal yang sedang aku coba adalah mengikuti pepatah "ketika kamu menerima keadaan yang sebenarnya (bahwa dia tidak akan pernah mencintaimu) kamu tidak akan sulit untuk berpaling darinya. Semua butuh proses. Tapi ingat satu hal, bahwa kamupun perlu bahagia"

Aku ingin menjadi penulis. Bukan karna aku bisa menulis tapi karna aku menyukainya. Aku juga bukan orang yang pandai mengarang. Nilai mengarangku hanya standar anak sekolahan. Tapi aku suka merangkai kata dari kisahku, sebagian besar untuk bernostalgia. Semua kenangan harus kuingat. Meskipun menyakitkan. Sebab tanpa kenangan menyakitkan, aku tak akan pernah belajar dari rasa sakit. Hampir semua tulisanku adalah kisahku. Jika kalian beranggapan bahwa tidak mungkin ada kisah yang seperti aku ceritakan, terserah kalian. Itu hak kalian. Aku hanya mengatakan bahwa aku benar benar jatuh cinta pada adik kelasku.

Ah, aku jadi bingung kemana arah tulisan ini. Awalnya aku ingin berbagi kisah bahwa menjadi orang bodoh itu wajar tapi kita harus tau bahwa life must goes on.
Padahal aku ingin menyampaikan bahwa kisahku harusnya kalian pelajari sebelum jatuh cinta sedalam aku mencintai adik kelasku. Tapi kok jadi ngawur kemana mana ya? He he.

Sebenarnya ini wejangan, amanat, atau curhat(?) Entahlah. Maafkan aku yang tidak konsisten ini.

Selasa, 04 April 2017

Alasan yang Lo Pertanyakan.

Lu beruntung. Lo punya segala yang lo ingin. Masa depan lo cerah, tapi kenapa lo masih mencaci keadaan? Mengutuk kenyataan?

Lo punya mimpi yang bisa dengan gampang lo wujudin. Lo punya tubuh yang semua orang idamkan, lo punya wajah yang jadi tipe semua cowok di dunia. Dan bahkan lo sangat keren dengan punya pacar yang jelek tapi lu ga pandang rupa. Bahkan denger cerita lo yang kalo jalan lo yang bayarin adalah cerita cewe paling keren yang pernah gua denger. Lo cantik, semua cewe cantik biasanya mau sama cowo ganteng meskipun jelek seenggaknya banyak duit buat dimanfaatin doang. Tapi lo engga. Lo punya pacar yang jelek, gendut, dan pelit tapi lo ga peduli. Hobi yang bikin kalian cocok. Dan cewe cantik macem lu adalah langka. Dan ketika gua tau masih ada spesies kaya lu dan sahabatan pula sama gua, gua bangga. Gua bahagia bisa kenal sama lo, gua bakal cerita ke orang orang kalo lu adalah sahabat gua yang cantik sekaligus keren.

Kita deket banget sampe milen bilang kita kaya sodara. Gua sering nginep dirumah lu sampe numpang masak segala macem. Dan orang tua lo.. Ahh, lo beruntung punya mereka. Nyokap lo sayang banget sama lo sampe gua juga dianggep kaya anak sendiri kali sama nyokap lu. Nyokap bokap budeh bahkan om tante lo kenal gue, deket sama gue.

Tapi semuanya berubah ketika lo kenal sama si brengsek. Oke, maksud gua bukan brengsek yang secara harfiah, dia baik kata orang, dia pinter, dia ganteng kata orang, dia putih kek albino dan hal hal positif semacamnya. Tapi dia brengsek karna ngubah lo jadi bucin. Lo like a bitch. Apalagi When you say "dia baik dan dia ganteng. Siapa yg gamau? Senenglah gua dideketin sama dia" lo udah ga keren lagi. Lo sama aja kaya cewe cantik lainnya. Gue kecewa sama kepercayaan gue sendiri kalo ga semua cewe cantik itu sama (kepengen cowo ganteng) tapi ternyata kenyataan emang selalu nyakitin kan? Lo sama kaya cewe diluar sana. Menjijikan. Yang jatuh cinta karna pandang rupa.

Dulu, sebelum lu berubah, pas lu masih jadi cewek keren, gue suka sama cowok. Yeah, he is rafly. Dan lo sama yang lain ga setuju gua suka sama rafly karna rafly brengsek lahh, bajingan lahh, cowo yang lebih ganteng dari rafly banyak lahh, dan lain lain gue tau disitu lo sama yang lain berharap gua berhenti suka sama rafly. Tapi gua gamau denger gua maunya suka terus sama rafly meskipun dia sukanya orang lain. Disitu gua sadar kalo hidup memberi dua pilihan. Dan pilihan itu adalah gua ninggalin rafly dan tetep sama sahabat gua atau gua ninggalin sahabat gua dan tetep suka sama rafly. Gua pilih gua tetep suka sama rafly. Gua memilih untuk engga mencampuri urusan sahabat gua lagi jadi mereka gaperlu urusin perasaan gua sama rafly.

Tapi kemudian mereka yang mutusin buat nerima gua yang maunya suka sama rafly. Jadilah kita barengan lagi. Sementara, lo juga sama. Gue memberi lo dua pilihan lo milih si brengsek dan kehilangan gua sebagai sahabat lo atau lo milih kita tetep sahabatan dan kehilangan si brengsek. Tapi kayanya lo kurang peka ya kalo gua memberi dua pilihan itu? Atau lo cuma pura pura bego? Hah?

Dan keadaan lo malah makin deket sama Si brengsek. Oke menurut gua lo pilih si brengsek daripada persahabatan kita. Jangan heran kalo gua sangat membenci lo. Kalo lo bilang persahabatan itu yang menerima apa adanya silahkan cari orang yang hatinya ga gampang kecewa. Dari awal kita mutusin buat bersahabat lo adalah cewe keren karna lo beda dari cewek cantik lainnya. Gua percaya dengan sangat kalo lu adalah pecinta tanpa pandang rupa. Dan jujur aja gue benci sama semua orang yang jatuh cinta cuma karna rupa. Dan ketika lo berubah jadi orang yang dengan tipe suka sama orang karna rupanya, lo udah masuk daftar orang yang paling gua benci. Gue kecewa ternyata lo yang gua bangga banggain sama aja kaya orang orang. Menjijikan.

Gue pengen kita gausah kenal lagi. Yang lalu biar tinggal kenangan. Jangan diinget lagi. Jalanin hidup masing masing aja. Lo sama si brengsek dan gua sama anak anak yang lain. Gua ga butuh cewek menjijikan kaya lo lagi. Apalagi jadi sahabat gua. Ga akan pernah mau.

Tapi lo tau? Yang paling nyakitin ketika gua mutusin buat ga sahabatan sama lo lagi adalah keluarga lo terutama nyokap lo yang sayang sama gua. Gua gangerti apa lo cerita kalo kita berantem atau emang nyokap lu mau ngechat gua aja iseng iseng. Tante masih sering nanyain kabar gua, ingetin gua buat belajar ingetin buat berusaha dan berdoa. Bahkan bokap nyokap gua gapernah begitu. Oke mungkin bukannya ga peduli. Mereka juga begitu sama gue dengan cara yang lain tapi entahlah mungkin dengan cara mereka sendiri yang gue ga ngerti. Mungkin aja kan....

Gue bisa sahabatan sama lo di grugi tapi untuk sedeket dulu antara gue sama lo jangan berharap selama lo masih sama si brengsek. Kalo dalem hati lo bilang "emang lo siapa ngatur gua dikira gua mau kali sahabatan sama lo" terserah. Tapi seinget gua lo pernah bilang "shin, apa kita bakal terus kaya gini?"(maksudnya sahabatan deket banget) sering banget lo nanya itu dan jawaban gua tetep sama "tergantung lo nya. Kalo lo masih asik gua juga bakal asik. Tapi kalo lo nyebelin ya ga tau mungkin bakal canggung" gua gapernah janjiin 'iya kita bakal begini terus' engga pernah gua bilang gitu sekalipun. Gua punya ingetan yang kuat sama hal hal kaya gt. Gua selalu bilang "tergantung....." Karna gua tau keadaan bisa berubah tanpa disadari. Ya kaya gini misalnya. Siapa yg nyangka kita berantem cuma gara gara gua gasuka lo jalan sama si brengsek yakan?

Dan gua juga inget terakhir kita curhat panjang lebar sebelum lo berubah disaat kita sama sama bolos pelajaran ekonomi dan kita malah curhat diperpus lo juga bilang "gua mulai menyukai cerita sama lu". Kecuali kalo lo naif buat ngakuin kalo emang lo (pernah) mau sahabatan sama gua.

Setiap orang punya egokan?
Yah.
Lo milih tetep jalan ama si brengsek karna menurut lo gua gada hak sedikitpun buat ngatur.
Gua milih buat ga sahabatan sama lo lagi karna lo lebih milih si brengsek.

Sederhana tapi entah kenapa.lo gapernah ngerti kenapa gua benci lo sample males ngomong sama lo lagi.