Halo, Amore?
Bagaimana kabarmu?
Dari luar kau terlihat baik baik saja.
Tapi paru paru basahmu bagaimana?
Apakah sudah membaik? Atau malah memburuk?
Ah, kuharap kau baik baik saja, ex' Amore.
Oya. Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin kusampaikan padamu.
Kau tau?
Tujuh tahun lamanya aku tidak pernah memiliki orang lain yang menyayangiku seperti kamu. Maksudku, aku pernah disayangi hanya saja aku yang tak menyayanginya. Atau kami pernah saling jatuh cinta tapi kami tidak bersama. Tidak menjalin hubungan yang disebut sebut relationship seperti yang menyandang kita tujuh tahun lalu.
Kamu tau kamu bukan satu satunya yang menjalin hubungan itu denganku. Bahkan kamu saja sudah jadi yang keempat saat aku baru jadi yang kedua. Aku tidak bermaksud tinggi hati. Sama sekali tidak. Aku malah merasa dulu aku begitu mudahnya didapatkan. Murah. Tapi sebenarnya tidak begitu. Kau tau aku bukan perempuan murahan. Kau tau beberapa dari mereka hanya pelampiasan untuk membuang rasa kesal karna kamu yang mengutamakan game ketimbang aku. Kamu tau aku kurang perhatian darimu. Dan bukankah kamu menyadari bahwa kamu tidak pernah meluangkan banyak waktu untukku? Aku kalah dengan hobimu. Yah, aku kalah pada keadaan.
Entah bagaimana aku harus mengakui bahwa aku belum bisa menerima kenyataan bahwa sekarang kamu bukan lagi milikku. Karna setelah tujuh tahun, diantara semuanya kamulah yang masih terkenang. Bahkan tidak hanya terkenang. Kamu sudah membuat ruang khusus didalam sini. Di tempat dimana singgasana rafly kusediakan. Rafly atau siapapun nanti bisa tinggal disinggasana tanpa mengusik ruanganmu. Tidak ada yang dapat masuk ke tempatmu. Jangankan untuk masuk, untuk menemukan ruanganmu saja mereka tidak akan mampu. Sebab kau, kenangan tentang kau, tidak akan terhapus dari otakku, bahkan hatiku.
Yang kutau, aku tidak pernah lupa tentang kita meski sudah tujuh tahun berlalu. Hanya ingatan tentang kamu yang begitu detailnya kuingat. Ingin bernostalgia?
* kamu ingat saat kita tour ke lembang bandung disana kita ke desa yang memiliki lebih dari seribu sapi? Saat jalan, mantanku, teman kita, menggodaku. Seharusnya kita jalan berdua waktu itu, tapi dia mengganggu. Jadilah kita jalan bertiga.
* apa kamu juga ingat hari itu setelah tour kamu memberiku coklat? Saat jalan pulang, aku dipanggil temen kita.
"Shin.. Shinn.."
"Kenapa dit?"
"Nih buat lu, tadi dia nitip. Katanya tolong kasih ke lu "
"Lah kenapa dia ga ngasih sendiri?"
"Au. Katanya malu."
"Oyaudah makasih ya."
Aku cuma bisa senyum sambil geleng geleng. Seenggaknya satu hal yang aku tau, bahwa kamu udah nunjukin cara kamu berjuang. Nyisihin sebagian uang jajan untuk beliin coklat itu perjuangan lho. Percaya deh, aku menghargai apa yang kamu beri dan apa yang kamu lakukan. Tapi sayangnya, itu pemberian pertama dan terakhir kamu. He he.
* kamu ingat saat kita renang, kamu meminta minumku dan yang kuberikan padamu adalah minuman baru. Itu memang sengaja kusiapkan untukmu. Memang dari rumah kuingin memberi itu untukmu. Saat kau berkata "shin.." "Ya?" "Makasih ya" dan aku mengangguk tersenyum. Kau tau? Rasanya baru kali itu aku benar benar jatuh cinta.
* ingat saat ibumu tau bahwa kita menjalin hubungan dan ibumu menyuruhmu putuskan aku? Ibumu tau dari semua sms dariku yang tak pernah kau hapus. Lucu rasanya kalau mengingat itu. Aku tau ibumu bukannya tidak menyukaiku, hanya saja kita terlalu dini untuk saling menyayangi waktu itu. Percayalah, itu caranya menyayangimu.
* inget ga tiap malem aku nelpon kamu. Karna setiap saat rasanya aku selalu rindu. Ah orang jatuh cinta memang selalu begitukan? Aku sampai meminjam hp kakaku untuk menelponmu agar murah hehe. Karna aku pakai gsm dan kau pakai cdma. Saat bertelepon kau selalu mengumpat agar tidak ketahuan mama atau bapakmu. Ah lucu deh. Btw, aku jadi rindu saat menunggu telponku kau jawab lantas saat kau mengangkatnya kau berbisik "halo.." Pelan, tapi terdengar mempesona he he.
* kamu ingat ketika kamu kusuruh datang sebab aku rindu? Itu malam minggu. Kau jalan dari rumahmu yang lumayan kalau berjalan kaki. Kamu menghampiriku, mengobrol sebentar lalu kamu pulang karna kamu harus menepati janji pada mamamu untuk pulang dengan segera.
* kamu ingat ketika kita reuni, saat kau datang aku refleks mencubit pipimu dan bilang "gue kangenn.." Lalu kau malah salah tingkah? Itu pertemuan pertama kita setelah sekian bulan karna kesibukan disekolah baru. Aku tidak peduli apa kata teman yang lain. Yang jelas aku rindu kamu. Sangat rindu.
* kamu ingat ketika kita bermain dirumah teman kita, (ah aku enggan menyebut namanya. Dia bukan temanku lagi sekarang). Saat aku sedang tiduran dilantai dengan bantal, kamu bilang ingin minum dan aku membuatkan milo dingin untukmu. Apa kamu ingat ketika aku membuatkan milo, kau malah memeluk bantal yang aku pakai buat tidur tadi dengan gemas. Kau ciumi seolah itu adalah aku. Oh ayolah, akui saja. Aku melihatmu begitu.
* kamu ingat saat kau menulis status di media sosial bahwa kamu tidak suka kalau "dia" menjelek jelekkan aku didepanmu. Dan aku baru tahu bahwa "dia" yang kau maksud adalah ibumu. Oh percayalah, kau tidak seharusnya begitu. Biar bagaimanapun dia ibumu. Meskipun ibumu tidak menyukaiku, aku tidak apa. Akan kucoba membuatnya menyayangiku.
* kamu inget saat kita berantem hebat, dengan amarah kau bilang aku jablay? Pelacur? Aku tidak marah kalau seisi dunia menyebutku begitu karna aku tidak akan peduli. Tapi yang berkata demikian adalah kamu. Laki laki yang amat kusayang, yang amat kuhargai, yang amat kuhormati, yang amat kupercaya. Satu kalimat, membuat luka yang tidak akan pernah hilang dari ingatanku. Karna aku mengenalmu sebagai lelaki yang baik. Aku pernah menjalin hubungan dengan bajingan, tapi tidak satupun yang berani mengatakan bahwa aku pelacur bahkan saat kami bertengkar sekalipun. Hanya kamu yang berani, dan kamu membuatku kecewa.
* kamu ingat juga ketika aku berniat balas dendam perselingkuhanmu dengan selingkuh dengan sahabatmu, otniel. Keadaan sedang runyam tapi aku ingin kita jalan untuk memperbaiki keadaan. Itu malam minggu ya? Kita naik komedi putar dan duduk bersebelahan. Entah apa yg kita pikirkan. Kita hanya saling diam.
* apa kamu juga ingat malam itu? kurasa benar benar malam terakhir kita. Kita habis jalan bersama lantas cerita tentang hantu dan kau ketakutan. Astaga baru kali itu aku melihatmu begitu. Aku tidak pernah tau bahwa kau takut hantu dan sejenisnya. Tapi aku tidak menertawakanmu, aku memelukmu. Memelukmu dari belakang. Aku tidak bermaksud apapun, sungguh. Aku hanya ingin memberi ketenangan. karna kulihat kau begitu ketakutan. Dan apa kamu tau? Itu kali pertama aku memeluk seorang laki laki selain papaku. Aku berani sebab aku percaya padamu. Tapi hari berikutnya segalanya berubah.
Ah, takkan cukup sehari semalam untuk menceritakan semua yang kuingat. Ini bukan berlebihan. Aku benar benar mengingatnya. Kau tanya saja padaku, maka aku akan menceritakan padamu. Tentang tujuh tahun lalu dan kisahnya. Lagipula, apakah kau mengingat semua kejadian yang kuceritakan diatas? Tak apa bila kau lupa. Aku mengerti.
Aku bukannya terus mengharapkanmu. Lagipula saat kau memutuskan meninggalkanku untuk menjalin hubungan dengan kakak kelasmu waktu itu, semua orang taunya aku yang menghancurkan hubungan kita. Akulah penjahatnya. Nanti orang akan berpikiran -masa dia yang mutusin dia yang ngemis ngemis kembali. Ngejilat ludah sendiri- padahal... yang tau kisah ini kita berdua kan? Kamu tau pada detik terakhir aku bertahan mati matian untuk hubungan kita. Aku mempertahankannya. Tapi semua orang tau, cinta itu dua pihak. Gabisa jadi cinta kalau salah satunya aja yang berjuang. Sedang kamu memilih melepaskan.
Hati kita bisa kembali. Tapi keadaan tidak begitu. Mungkin hanya aku yang kalah pada keadaan. Sebab saat aku masih bernostalgia seperti saat ini, kau sudah membuang jauh ingatan tentang kita. Kau sudah menjalin hubungan dengan banyak perempuan setelah aku. Kau memutuskan untuk tidak kembali. Aku juga inginnya begitu. Tapi perpisahan kita terlalu kasar, hingga aku masih belum terbangun dari tujuh tahun lalu.
Aku minta maaf karna masih ingin mengulang kisah masa lalu. Aku tau itu tidak mungkin, semua orang akan menertawakan kita kalau benar kita akan kembali bersama. Semua temanmu membenciku, semua temanku pun membencimu. Aneh kalau kita seperti dulu. Tapi semua orang tau, menyakitkan rasanya saat dulu pernah sedekat nadi kini jauh sekali.
Bukannya aku tidak punya komitmen. Aku memang mencintai rafly, bahkan amat mencintainya. Tapi kau selalu membangun ruang tersembunyi untuk tidak kulupakan. Tolong beri aku waktu untuk menerima bahwa kita tidak akan pernah kembali. Semuanya telah berbeda. Semuanya telah berubah. Dan...
Semuanya telah berakhir.