Rabu, 27 Juni 2018

Aku rindu

Pernah ga lo kangen sama orang, lo tau lo bisa ngehubungin dia kapan aja. Tapi lo takut.

Lo takut ganggu dia.
Lo takut dia risih dengan chat lo yg cuma nanya kabar.
Lo takut dia ga mood buat chat sama orang gapenting kaya lo.
Lo takut semuanya kembali kaya dulu pas lo sama dia masih jd org asing.

Gue lagi ngerasain.
Dan rasanya kaya depresi:(
Seolah serba salah.

Lo kangen dia. Lo mau sharing ke dia. Denger cerita kesehariannya. Keluhannya. Keluguannya. Kepolosannya.
Tapi lo takut dia sibuk. Dan keganggu sama chat lo. Sama lo yang terlalu jauh mau tau tentang hidupnya. Trs dia jadi risih dan menjauh.

Tapi kalo kangennya lo biarin. Lo seperti tersiksa. Karna sejujurnya hati lu cuma mau tau kabarnya. Mau tau kesibukannya. Mau tau hadirnya. Mau tau, apakah lo tetep orang yang dia anggep atau mulai menjadi orang asing seperti dulu.

Lalu apa yg harus gue lakukan?
Ketika rindu mendera, sementara logika mencegah begitu nyata?

Minggu, 24 Juni 2018

Seberapa Penting

Aku tidak tahu. Lebih tepatnya tidak berhak tau. Seberapa penting aku dihidupmu. Aku baru kemarin sore mengenalmu. Mana berhak mempertanyakan seberapa penting aku.

Aku tidak tahu. Lebih tepatnya tidak ingin tahu. Seberapa penting aku dihidupmu. Bukannya tak sabar ingin tahu, aku justru takut dengan kenyataan bahwa tanpaku kamu akan terus baik baik saja.

Aku tidak tahu. Lebih tepatnya tidak penting untukku tau. Seberapa penting aku dihidupmu. Mereka yang telah lama mengisi harimu saja belum tentu penting dihidupmu. Bagaimana aku, bocah kemarin sore yg diijinkan begitu dekat denganmu.

Aku tidak tahu. Dan biarlah aku hidup dengan ketidaktahuan. Terus disisimu lebih penting ketimbang mengetahui seberapa penting aku dihidupmu.

Aku tidak mau tahu. Sedikitpun tidak. Jika saatnya kuharus pergi, biar itu karna keadaan. Bukan karna aku tau, bahwa aku tidak sepenting itu dihidupmu. Seperti yang kuharapkan.

Jumat, 15 Juni 2018

Kehilangan

Ketika keadaan memojokan dan aku ingin berkeluh kesah, kenapa justru hadirmu alpa begitu lama?

Salahkah bila ku rindu kau yg selalu berucap maaf ketika lambat membalas pesanku? Salahkah bila ku rindu kau yg selalu berkeluh kesah padaku? Salahkah bila aku ingin kita selalu berkabar? Bukan menuntutmu menjadi apa yg ku mau. Hanya sedikit bukti untuk tau betapa berarti aku dihidupmu. Ini konyol. Bukankah aku tau bahwa itu semua kesalahan. Memperjuangkanmu itu sudah tugasku. Harusnya tak perlu meminta apapun. Aku saja yg memang bodoh berjuang dengan mengharap balas meski sekadar hadir dan kabarmu.

Kalau kau berubah. Biar aku yg menyerah. Karna memaksakan bukan tipeku. Aku membiarkan kamu mengalir menjalani hari tanpa ku bukan karna aku ingin dicari. Aku hanya tidak ingin lagi mengganggumu. Marah dan benci perihal kamu yg terus lambat membalas pesan. Perihal kamu yang semakin lama kian mendingin. Aku hanya ingin kau sendiri. Bebas tanpa perlu direcoki pengganggu sepertiku.

Bukankah semua orang juga tahu? Kamu yg cuek atau aku yang memilih pergi, ujungnya tetap aku yg merasa kehilangan. Hanya aku. Kehilanganmu.

Selasa, 05 Juni 2018

Kau(1)

Tidakkah kian hari kusemakin mengerti bahwa semua memang ada masanya? Sibuknya yg tak lagi bisa kupahami. Dan hidupku yg monoton kembali tanpa hadirnya. Ini agak memuakkan. Kadang, aku hanya minta dia berkabar disela sibuknya. Agar aku tau bahwa dia tidak melupakanku. Sesekali duakali tak apa.

Sejujurnya, trauma 1 tahun lalu masih tersisa. Aku takut jika akhirnya ada batas lagi diantara kita. Apalagi pembatas itu keparat yg sama saat dia membatasiku dgn devin. Aku takut. Kalau kalau km terpengaruh oleh mereka untuk mencipta jarak. Membuat tembok yg tinggi hingga kutaklagi bisa bersamamu. Aku lebih baik kehilanganmu karna kamu melupakan aku, ketimbang harus terpengaruh oleh "keparat" yg menjelekkan diriku agar kau menjauhiku.

Pesanku selalu sama;
Apapun yg kau dengar perihalku tolong tanyakan kembali padaku. Kamu tau aku tak akan membela diriku sendiri jika aku bersalah. Kamu tau aku tak akan bisa membohongimu. Karna tuhan menciptakan dua telinga agar kau bisa mendengar dari dua sisi berbeda. Sisanya bagaimana hati dan otakmu yg menilai.