Rabu, 21 November 2018

About me (5)

Gue adalah orang yang berambisi.
Ga sekalipun gue melewatkan hari tanpa ekspektasi.
Segalanya punya planning.
Tapi gue gapernah punya rasa takut.
Entah itu keberuntungan atau kesialan.
Yg gue tau, gue gapernah takut gagal.
Makanya gue gapernah punya plan b.
Dan ketika gue gagal, gue depresi.
Gue mencoba lagi.
Tapi jatuh lagi.
Berkalikali.
Sampe gue nyerah buat percaya sama semua harapan.
Gue putusasa.
Semuanya adalah kesiasiaan.

Sampe saat gue dititik terpuruk,
Devin hadir dihidup gue.
Yg buat gue perlahan bangkit.
Dengan seluruh harap yg gue rakit buih demi buih.
Dengan bahagia yg devin kasih.
Dengan segala pelajaran hidup.
Gue tau bahwa hidup sesuai ekspektasi adalah bunuhdiri.

Perlahan,
Gue mulai mengendalikan diri.
Mencoba menerima takdir illahi.
Berhenti mengutuk dunia ini.
Dan mulai menjalani hidup baru.

Tanpa kehadiran devin,
Gue hanyalah gadis Malang.
Menyedihkan.
Hidup lunta tanpa arah tujuan.

About me (1)

Dari kecil.
Gue terlahir dari keluarga yg selalu cukup bahkan sering lebih..
Apapun yg gue butuhin udah tersedia gitu aja.
Apapun yg gue inginin sekali sebut langsung beli.
Gue dibesarkan dengan manja,
Dengan keras kepala apapun yg gue mau adalah keharusan.
Kalo engga bisa, gue nangis.
Gamau tidur, gamau makan.
Sekalinya mau jajan, taunya keracunan.
Konyol.

Makin gede,
Keadaan berubah.
Dunia berputar.
Kondisi dibawah.
Ga kekurangan. Tapi cuma cukup.
Gue dididik buat jadi wanita tangguh.
Sifat keras kepala gue makin jadi.
Apapun yg gue mau adalah keharusan.
Tp papa bilang gue harus kerja keras buat dapetin apa yg gue mau.
Gaboleh pake cucuran airmata lagi.
Apapun itu,
Gue lakuin.

Rabu, 14 November 2018

Tahun kedua.

Aku sudah coba berhenti berekspektasi.
Agar kecewaku tak terlalu berarti.
Tapi kali ini,
Aku hanya ingin sekadar ucapan terimakasih.
Tapi tak kudapati,
Dan sialnya aku patah hati.

Sedih sekali.
Tak sekalipun kamu membuatku terbang tinggi.
Tapi saat kau jatuhi,
Rasanya aku hampir mati.

Oke ini mulai berlebihan, aku mengerti.

Devin (1)

Aku ingin berhenti.
Tapi kutakbisa pungkiri,
Kau yang selama ini dihati.
Menyuburkan jiwa yg mati.

Aku tersesat, dalam gulita putusasa.
Dan kau ada, menghadirkan sepercik cahaya.
Menuntunku untuk bahagia.
Menyadarkan bahwa ini semua hanya sementara.

Hadirmu..
Lebih dari segudang lagu.
Pengobat luka beku membiru
Juga memar pada jiwaku