Sebab aku hanya sebuah kesalahan,
Yang pergi meninggalkanmu, mengingkari janji, menggurat perih, meninggalkan luka di tempat yang pernah disiapkan spesial untukku.
Lantas mengemis untuk kembali.
Karna aku hanya perempuan masa lalu yang mengungkit kisah masa lalu hanya untuk mengulang kisah yang sama denganmu tanpa peduli seberapa besar lukamu, seberapa perih luka itu.
Lantas menderai tangis seolah akulah yang kau tinggalkan.
Sebab aku hanya perempuan yang seolah diciptakan untuk membuatmu merasakan sakit. Datang dan pergi sesukaku, membuat luka tanpa ingin tau betapa perih yang kau rasakan.
Lantas menjerit histeris mengatakan pada semua orang bahwa kau yang melukaiku, kaulah yang membuat hubungan kita kacau.
Aku perempuan pendusta yang hebat, semua orang menyalahkanmu. Tapi aku tidak bermaksud apa apa sedikitpun. Aku hanya ingin kau merasa bersalah meskipun aku yang salah agar kita dapat menjalin hubungan seperti dimasa lalu.
Dan aku sangat menyesali itu.
Tapi sekarang aku bersyukur, betapa kamu tau bahwa kita adalah luka. Semakin dekat semakin saling melukai maka kau putuskan mencari kertas bersih. Enggan merapikan kertas usang yang penuh coretan koyak itu.
Sebab kau adalah lelaki berharga.
Dan sekarang aku bersyukur bahwa kamu menetapkan pendirianmu untuk menulis diatas kertas baru bukan kertas usang yang koyak. Sebab apa jadinya hati perempuan baru yang nantinya kau tinggali untuk kesalahan seperti aku jikalau kita mengulang kisah masa lalu.
Dan aku tiada henti hentinya bersyukur, bahwa lelaki berharga yang pergi untuk alasan yang jelas pernah menjadi milikku. Pernah menoreh tawa meski tersisa tangis.
Terimakasih Tuan,
Untuk Dua puluh bulan berharga selama hidup ini.
Untukmu,
Yang hatinya sempat rusak sebabku.