Kamis, 31 Mei 2018

Jatuh Cinta Sama Jo?

Gue?
Jatuh cinta? Sama bang jo?
Omegat gutpipel. Pls.
Gue ga sehebat itu buat berani jatuh cinta. Angan gue ga setinggi itu buat milikin bang jo. Perjuangan gue ga sebesar itu sampe berharap jadi Siapa Siapa dihidupnya.

Dia itu idola. Obsesi kedua setelah devin. Abang yg selalu bilang hal baik sama gue. Yg gapernah bilang "aku pengennya shinta....." Tapi bilangnya "aku berharap kalo shinta...." Gapernah kasar. Selalu lembut. Gapernah marah. Selalu ngelindungin shinta. Jadi tameng paling kokoh saat shinta buat salah. Dia abang. Abang yg selama ini shinta mau. Abang yg shinta selalu impikan. Jd untuk jatuh cinta. Memiliki dan menjalin hubungan aduh pls ya. Jangan halu:))

Sebuah pernyataan

Kalau yang lain dibanggakan, dipamerkan pada temannya, diberitahukan jasanya pada seisi sosial media. Apakah aku merasa cemburu? Merasa iri dan ingin kau umbar bahwa akulah sebagian kecil orang dibalik puncakmu saat ini?

Tidak sayang. Aku tidak perlu dunia tau bahwa akulah yg sedikit menyumbang alasan hingga kau sampai dititik ini. Aku tidak perlu pujian. Ketenaran. Karna kau mengabariku dikala sibukmu saja sudah lebih dari cukup. Kau bercerita tanpa rasa canggung sudah cukup. Kau bersikap lebih terbuka dan berkeluh kesah padaku sudah cukup. Aku tidak perlu segala rumit perihal ketenaranmu diluar sana. Inginku satu, sebagai orang yang selalu kau cari apapun yg terjadi. Sebagai orang yang selalu kau rindukan tiap sibukmu. Sebagai orang yang kelak kau ingat bahwa aku pernah berjuang sebesar itu untukmu. Pernah bertahan selama itu untukmu. Dan pulang dari setiap lelahmu. Karna aku akan selalu berada dirumah. Memasak sup hangat untukmu. Menghilangkan rasa pegal ditubuhmu. Merawat anak kita hingga dewasa. Tak peduli seberapa jarang kau akan pulang. Asal aku tetap jadi rumah yang terus kau rindukan dan selalu ingin kau temui.

Sabtu, 12 Mei 2018

Tak Lagi Sama

dulu kita tak pernah kehabisan topik bicara.
sekarang hanya wacana sederhana
sekadar sepatah dua patah kata
tak ada lagi cerita yang dapat dicecap sesama.
sudah kubilang,
Kita memang sudah berbeda.
Tak lagi sama.
-RB, 2016

Aku (3)

Adalah aku yang mencambuk pedih mengubur rasa. Melupa derita yang membakar seluruh asa. Sudah lama kuhatami kitab luka dengan egomu didalamnya. Apa yang lebih menyakitkan ketimbang melihatmu sibuk mencintai orang yang menyakitimu.
Adalah aku yang menghujam perih mencongkel luka. Melupa sendu yang telah lama terlihat pilu. Sudah lama kuhatami kitab luka dengan bisumu didalamnya. Apa yang lebih menyakitkan ketimbang melihat kau yang disakiti wanita lain.
Adalah aku, penunggu lelaki yang menunggu wanita lain.

Aku (2)

Aku adalah penulis yang buruk. Setiap bait syair dan larik puisiku, tak akan pernah cukup untuk mendeskripsikan keindahanmu.

Aku Ingin

Aku ingin diberi mawar, tapi tanpa mawar hidupku takkan berubah.
Tetap sama.
Aku ingin diberi sebatang coklat, tapi tanpa diberi, aku bisa beli sendiri jika kuingin. Kapan saja kumau.
Aku ingin kamu bersifat romantis, tapi tanpa sifat romantismu aku tetap akan menyayangimu. Sebab, kau tidak alpa saja aku sudah lengkap.
Aku tak perlu mawar, sebatang coklat, dan segala keromantisan. Sebab hadirmu saja telah cukup untukku bahagia.

Rindu (1)

maka apalagi yg ingin kau pamer pada teman temanmu?
tentang aku yg sekarat sebab merindumu?
lantas tertawa,
menertawakan dirimu sendiri yg jua sekarat,
yg habis dimakan gengsi?
dasar keparat!!

Pernahkah?

Pernahkah kau bayangkan susahnya berpaling dari dia yang kau sayang?
Salah satu menjauh, agar yang lain tak terluka
Salah satu mengalah, agar yang lain melupa
Salah satu menghilang agar yang lain terbiasa
Pernahkah terpikirkan olehmu?
Apakah aku terlihat bahagia?
Apakah hubungan ini hanya sebatas status semata untukmu?
Lalu akan kau apakan,
Perasaan orang yang terlanjur masuk dalam setiap ranah kehidupanmu?
- V/16 (sajak liar on line)
Edit by SR, desember 2016.

Rindu(3)

Kamu tau seberapa perih menahan rindu yg nyata?
Sementara hadirmu hanya kesemuan belaka. Tak ada yg tersisa kecuali ruang hampa. Sepi, menggerogoti rasa yg tersisa.

Jo(1)

Bang, aku masih penulis pemula
Sajakku masih rangkaian kata sederhana
Aksaraku pun masih begitu begitu saja
Tapi percayalah bang!!
Meski puisiku tak sarat makna
Sayangku padamu bukan dusta belaka

Rindu(2)

masihkah kau tampikkan rindu yg menggelantung bebas?
terayun hembusan doa akan dia.
yg harap cemas dia baik baik saja.
tapi malu, sebab gengsi.

Terserah Kau Saja

Maka terserah kau sajalah,
Aku hanya peramu rindu.
Kau yg di rindu entah tak peduli atau barangkali membenci.
Maaf jika tingkahku begitu kekanakan dimatamu.
Kau hanya perlu tau yang boleh jadi kau tak ketahui,
Jikalau rindu tak pernah pilih kasih dalam bermuara.
Maka aku bisa apa sekarang?
Rindu padamu bermuara didadaku.
Sedang dirimu boleh jadi tak ingin lagi bertemu.
Padaku.

Dan Aku Jatuh Cinta Pada Puisi

Bacalah puisi tentang firasat. Langit bermula dari pandangan. Dan berakhir di ketidaktahuan. Suatu masa kamu akan mendengar dengung lebah di luar angkasa. Beberapa orang bercocok tanam dan memulai hidup di sana. Bumi tak senyaman rahim. Dan surga begitu menggiurkan. Sepotong daging yang membungkus tulang dan nafsu akan selalu menyimpan kegelisahan. Kegelisahan tertangkap. Mata yang terbuka. Manusia gelisah karena tak bisa menabung nyawa. Hidup bahagia selama-lamanya adalah lelucon paling garing yang diciptakan oleh seorang yang hidupnya paling sepi dan sengsara. Apalagi surga.

Manusia Bumi

Terseok-seok kulangkahkan kaki.
Menjelma jadi manusia bumi.
Ternyata rumit.
Biasa tinggal kukepakkan sayap,
Maka aku kan lintasi cakrawala.
Ditemani kicauan burung,
Tepat dikupingku,
Dilangit mega.

Seperti Cicak

Betapapun kamu mencintai wanita lain, betapapun kamu enggan singgah terlebih tinggal, betapapun kamu toreh luka, betapapun sumber kesakitan hatiku adalah kamu, betapapun kuat usahaku lupakan kamu, betapapun perih melihat cumbuanmu padanya,
Aku tetap disini, seperti cicak. Enggan berpaling apalagi pergi. Kaki dan tanganku kau rantai dengan perhatian mu, hatiku terbelenggu, tapi mataku melihat kepalsuan yg kau cipta. Aksara mesra tentangku hanya buaian belaka. Tapi aku masih enggan berpaling. Berharap kau yang melepas rantai perhatian dan mengusirku pergi dari asmara masa lalu.

Lelaki Bulan September

Tersebab kau
kuumpamakan bintang.
Bersinar,
Tapi jauh.
Tak dapat kugapai

Cerita Masa Lalu

Sebab aku hanya sebuah kesalahan,
Yang pergi meninggalkanmu, mengingkari janji, menggurat perih, meninggalkan luka di tempat yang pernah disiapkan spesial untukku.
Lantas mengemis untuk kembali.
Karna aku hanya perempuan masa lalu yang mengungkit kisah masa lalu hanya untuk mengulang kisah yang sama denganmu tanpa peduli seberapa besar lukamu, seberapa perih luka itu.
Lantas menderai tangis seolah akulah yang kau tinggalkan.
Sebab aku hanya perempuan yang seolah diciptakan untuk membuatmu merasakan sakit. Datang dan pergi sesukaku, membuat luka tanpa ingin tau betapa perih yang kau rasakan.
Lantas menjerit histeris mengatakan pada semua orang bahwa kau yang melukaiku, kaulah yang membuat hubungan kita kacau.
Aku perempuan pendusta yang hebat, semua orang menyalahkanmu. Tapi aku tidak bermaksud apa apa sedikitpun. Aku hanya ingin kau merasa bersalah meskipun aku yang salah agar kita dapat menjalin hubungan seperti dimasa lalu.
Dan aku sangat menyesali itu.
Tapi sekarang aku bersyukur, betapa kamu tau bahwa kita adalah luka. Semakin dekat semakin saling melukai maka kau putuskan mencari kertas bersih. Enggan merapikan kertas usang yang penuh coretan koyak itu.
Sebab kau adalah lelaki berharga.
Dan sekarang aku bersyukur bahwa kamu menetapkan pendirianmu untuk menulis diatas kertas baru bukan kertas usang yang koyak. Sebab apa jadinya hati perempuan baru yang nantinya kau tinggali untuk kesalahan seperti aku jikalau kita mengulang kisah masa lalu.
Dan aku tiada henti hentinya bersyukur, bahwa lelaki berharga yang pergi untuk alasan yang jelas pernah menjadi milikku. Pernah menoreh tawa meski tersisa tangis.
Terimakasih Tuan,
Untuk Dua puluh bulan berharga selama hidup ini.

Untukmu,
Yang hatinya sempat rusak sebabku.

Kehilangan

Kita semua tahu,
Tidak ada yang tidak baik baik saja setelah kehilangan. Itu sebabnya aku membiarkan kamu dengan dia. Aku ingin mengusik berharap hubungan kalian segera berakhir, tapi untuk apa? Untuk kesedihanmu kehilangan dia? Aku memang bukan malaikat, tapi aku tidak sejahat itu untuk melukai perasaanmu. Kau tau aku menyayangimu, oleh sebab itu pula aku menunggumu. Jika kamu harus kehilangan dia, itu atas keinginan perempuanmu atau lebih baik atas keinginanmu. Dan bukan karna aku.

“akan kutunggu waktu dimana kamu bisa mencintaiku. kapanpun itu aku tak perduli, asal penantianku berujung denganmu. Meski waktu itu datang diakhir masa hidupku.”

Senja Dan Malam

Selamat petang, Sayang
Senja sudah mulai hilang sekarang. Berganti gelap malam yang panjang.
Seperti kisah kita, akulah senja dan dia adalah malam.
Malam menutupi senja begitu rapat hingga kini ku tak terlihat.
Bukankah selalu begitu? Malam memang lebih menawan ketimbang senja yang hanya lewat sebagai bayangan.

Ketakutan

Pernahkah kalian berpikir bahwa akupun manusia?
Punya rasa takut dan trauma seperti kalian.
Tidakkah kalian ingin tanya padaku berapa usiaku saat ini?
Aku masih seorang anak yang baru tumbuh dewasa.
Jangan anggap aku tak ada.
Karna sebelum tamparanmu dipipi istrimu mendarat,
Aku tepat disampingmu.
Menutup telinga rapat rapat.
Gemetar tanganku ini.
Ketakutan.
Beberapa bulan lalu,
hanya dua meter jaraknya dari aku berdiam diri,
Piring-piring berterbangan dari rumah yang lain.
Teriakan perempuan oleh sebab badannya diinjak suami begitu nyaring ditelingaku.
Barang barang dilempar kesana kemari membuat riuh keadaan satu rumah.
Tapi aku bisa apa?
Menutup telinga rapat rapat.
Gemetar tanganku ini.
Ketakutan.
Terus ketakutan.
Aku selalu saja ketakutan.
Kenapa selalu aku yang jadi saksi?
Seolah sengaja menggores trauma.
Seolah sengaja membiarkanku tenggelam dalam ketakutan.
Membiarkanku membenci sebuah pernikahan.
Kenapa?
Kenapa pertengkaran suami istri yang berujung perceraian aku yang menyaksikan?
Kenapa bukan orang lain?
Agar aku tak jatuh cinta?
Atau agar aku benci tentang pernikahan?
Bolehkah sesekali kalian pertimbangkan?
Bertengkar adalah hak kalian.
Silahkan bertengkar sampai salah satu dari kalian mati.
Aku tidak peduli.
Tidak akan mau tau.
Tapi jangan didekatku.
Jangan sampai pertengkaran kalian buatku salah mengartikan sebuah pernikahan.

Aku

Jika pagi bukan milikku,
Biar malam temani sepiku.
Jika kau adalah pagi itu.
Cukup bayangmu yang kuperlu.
Aku sudah muak dengan segala cerita cinta tentang romantisme.
gombalan biadab dengan janji semanis madu sudah taklagi mampu membiusku.
Aku,
Pemurka cinta telah lahir dari sebuah patah hati paling menyakitkan.

kita

Maka kau pujilah dia sebagaimana kehendak hatimu.
Aku pengakhir cerita hanya bisa tersenyum lega,
Tak mengapa tak dianggap ada,
Sebab ku hidup bukan untuk meninggalkan nama,
Tapi karya.
Untuk dikenang.

sajak perpisahan

Hari telah berganti,
Kini kita tiba diujung perpisahan ini
Tapi tak usah bersedih hati,
Tak perlu jua ditangisi.
Sebab perpisahan ini tak abadi.
Hanya saja sekadar tak bersama lagi.
Coba tengok ke belakang sebentar.
Bersama kita bernostalgia ke masa lampau.
Sahabat, ingatkah kali pertama kita berjumpa?
Beragam dari kita terlahir dari sabang hingga merauke.
Dipertemukan disebuah tempat.
Menuntaskan dahaga akan ilmu.
Untuk menjadi generasi penerus bangsa.
Selama ini,
Perbedaan tak pernah kita pedulikan.
Karena kita adalah kawan tanpa persaingan.
Keluarga kedua dalam jalinan persahabatan.
Oya, ingatkah engkau?
Dulu, kita pernah menapaki jalan terjal,
Penuh batu juga ranjau.
Bahkan tak jarang kita tersandung dan jatuh.
Masalah seringkali datang silih berganti
Lika-liku sudah biasa kita lewati.
Tapi kita tak pernah goyah,
Karena kita saling menopang.
Perpisahan ini bagai kilat.
Waktu seolah berjalan lebih cepat.
Ternyata sudah tiga tahun terlewat.
Ah, rasanya baru kemarin ya?
Tapi hidup ini selalu punya dua hal.
Tanjakan dan turunan.
Pun pertemuan dan perpisahan.
Tak terasa..
Sudah tiga tahun,
Kita bersama arungi waktu dalam menimba ilmu..
Sampai akhirnya, hari ini...
Kita telah berada dipersimpangan.
Kita terus melangkah dan melangkah.
Tapi arahnya sudah berbeda, tak lagi sama.
Kita masih harus sama sama berjuang.
Ditempat yang berbeda, dengan teman yang berbeda pula.
Sahabatku..
Hari ini, perpisahan kan ku awali dengan sujumput peluk hangat seorang sahabat,
Dan kan di akhiri dengan sebentang rapalan doa dengan khidmat.
Semoga kita senantiasa bersuka cita dunia akhirat.