Ini ceritaku beberapa tahun silam.
Aku jatuh cinta pada seorang laki laki yang (entah bagaimana) aku lupa atas dasar apa dan atas alasan apa. Aku mendambanya, berharap sempat miliki dia walau hanya satu hari. Yang kemudian (kita) hampir dekat tapi tiba tiba dia menyatakan cinta pada gadis lain (didepanku).
Darinya aku belajar patah hati. Bagaimana bisa aku tidak merasa patah saat hatiku memilih dia tapi dia jelas menyatakan cinta pada gadis lain didepanku. Astaga siapa yang bisa sekuat itu untuk tidak patah hati?
Dari patah hati aku belajar banyak hal. Aku tidak terlahir dari keluarga yang berada. Tidak terlahir untuk hura hura. Jadi untuk marah (pada mereka) memangnya aku siapa? Untuk membeli cinta laki laki itupun aku tak mampu. Aku hanya gadis menyedihkan yang berharap terlalu banyak pada laki laki yang terlahir dari keluarga berada. Aku terlalu percaya diri akan mendapat hati dan raganya. Aku lupa kalau ternyata aku bukan siapa siapa.
Aku harus marah. Tapi tak bisa ku marah pada mereka. Dan apa yang kulakukan setelahnya? Aku menulis. Dari menulis aku belajar sesuatu. Bahwa terkadang satu satunya cara memeluk perih adalah menulis. Dan melampiaskan patah hati, amarah, dendam, dan sakitku adalah menulis. Aku bebas mengutuk tanpa menyakiti perasaan siapapun. Aku bebas berserapah sambil menangis tanpa orang lain harus tau.
Dan inilah aku. Mencintai menulis berkat patah hati pertamaku. Dan aku akan terus menulis berkat patah hati patah hati baru yang ditinggalkan seseorang dimasalalu dan di masa yang akan datang.
Malam lalu, dia membagikan foto bersama pacar barunya. Mesra. Mengoyak hatiku dengan kasar. Menyadarkan bagaimana bodohnya aku (pernah) mengharapkan laki laki seperti dia. Wanitanya sekarang terlahir dari keluarga berada. Malamnya dihabiskan di club untuk hura hura. Liburannya jauh harus terbang dengan pesawat.
Bagaimana bisa? Aku yang hanya biji padi berharap pada mutiara putih yang dikeluarkan kerang? Astaga..
Aku bukan levelnya.
Makanku hanya diwarung padang sederhana minumku cukup susu dingin.
Bukan seperti levelnya yang makannya dicaffe berbintang minumnya bir dari club malam.
Kami berbeda dan aku baru menyadarinya.
Tapi siapa yang tahu dimasa yang akan datang dia adalah pegawai diperusahaanku? (Yang ini becanda) (lagipula who knows?)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar