Minggu, 02 Desember 2018

Me, my problem, and Devin's presence.

Oke.
Kali ini aku akan menceritakan segalanya. Aku tidak ingin berdiam lagi. Menyimpannya. Membuat sesak.
Aku tidak tahu.
Bagaimana memulainya.
Kepada siapa harus dibagikannya.
Aku hanya bisa menuangkan lewat tulisan, tak mampu jika harus menceritakan lewat lisan.

2005.
Masalah dimulai.
Papa bekerja disalah satu kantor daerah jakarta. Sudah lama. Mama hanya ibu rumah tangga. Saat itu, hanya ada kakak ku dan aku. Adik adikku belum ada. Ketimbang tak ada kegiatan, mama berjualan baju keliling. Sambil mengantarku dan kaka ke sekolah. Mama termasuk terkenal dikalangan orangtua, guru bahkan yayasan sekolah. Sampai saat, langganan mama didaerah suatu kampung,  berurusan dengan para rentenir. Karna sudah seperti sahabat, mama dimintai tolong. Tapi bukan berupa uang, karna mamapun harus minta ijin sama papa soal itu. Dan papa pun tak akan mengijinkan mengingat keperluanku dan kaka yg masi banyak. Satu satunya cara, si "sahabat" meminta tolong pinjam ktp dan ttd mama untuk meminjam direntenir lain. Tujuannya gali lubang tutup lubang. Mama menyetujuinya. Semakin lama semakin banyak yg meminta tolong lewat mama. Entah karna takut kehilangan pelanggan atau atas nama persahabatan mama menyetujuinya ditambah iming iming sang "sahabat" bila uang dari rentenir cair ada "upah" untuk mama. Usiaku masih Lima tahun saat itu. Tidak tau. Tidak mengerti soal urusan dewasa. Yang aku mengerti hanya sekolah dan bermain. Tidak lebih.

Pada awal awal, mereka hanya menggunakan KTP mama. Cicilannya mereka yg bayarkan. Lantas lambat laun, mereka kabur. Dan setelah berbulan bulan; akhirnya para rentenir ini kerumah. Menagih sejumlah uang yang dipinjam atas nama mama. Banyak sekali jumlahnya. Ditambah bunga berbulan bulan. Keluargaku hampir hancur, papa menyerah atas kebodohan mama. Yang aku ingat saat itu; mama bersujud dikaki papa untuk tidak pergi meninggalkan rumah. Demi aku dan kaka.
Kau tau rusaknya keluargaku atas kebodohan mamaku? Itu berdampak pada psikologisku dan kaka.

Karna itu,
Papa memutar otak untuk melunasi semuanya. Gajinya yg sudah masuk umr jakartapun tidak akan cukup. Akhirnya, papa membuka usaha fotocopy. Pelan pelan, hingga income nya enam kali lipat dari gaji umr nya saat itu. Perlahan membaik, meskipun harus meminjam sejumlah uang ke bank untuk menutup semua hutang direntenir. Setidaknya, Bunga nya tidak akan melonjak karna cicilan bertahun tahun.
Tapi karna itu pula, kakaku harus berhenti sekolah. Lulus sd, kakaku tidak langsung melanjutkan ke smp karna keberatan biaya. Perhitungan papa begitu; kalau kaka sekolah biayanya gamungkin cukup. Dan tidak mungkin aku yang diberhentikan karna aku masih kelas 3 sd. Iya. Psikologi kakaku berontak. Entah bagaimana dia sekuat itu. Dia menjalani gap yearnya dengan bekerja. Usianya 13 tahun dan dia sudah bekerja. Meskipun hanya jaga counter pulsa. Gajinya buat dia shopping; menghibur diri. Papa tak pernah minta. Karna papa paling mengerti, bahwa ada yg rusak ketika mimpi yang belum terbentuk sudah hancur karna kesalahan mama. Aku tidak tau, kenapa kaka tidak pernah membenci mama seperti aku.

Setahun kemudian kakaku didaftarkan disebuah pesantren. Karna untuk melanjutkan disekolah negeri, rasanya tidak mungkin untuk seseorang yang pernah gapyear. Dan untungnya; kakaku menerima. Bahwa pesantren bukan sesuatu yang buruk. Aku tetap menjalani hariku dengan biasa. Dengan ambisi paling kuat. Aku harus sekolah dinegeri. Titik. Tekatku bukan tanpa alasan. Aku mungkin tidak bisa membantu papa melunasi hutang itu. Tapi aku tidak ingin menyusahkannya. Aku harus sekolah dinegeri karna tidak perlu bayaran perbulan dan uang ini itu selain seragam. Karna bukupun sudah gratis untuk sekolah negeri. Aku maunya, SMP 2 saat itu. Ambisiku kuat, tekatku mantap. Tapi yang kudapat; kecewa.
Aku malah ditempatkan di smp 4. Padahal harapku; kalo ga smp2 ya smp5. Sama cinta monyetku saat itu. Tapi entah bagaimana, Tuhan memberiku jalan lain. Manusia berencana, Tuhan menentukan. Kesibukan dari perbedaan sekolah membuat hubungan hampir 2 tahun itu berakhir. Aku tidak punya seorang special lagi. Aku kehilangan rasa cinta terbesarku. Sisanya kulalui dengan bertepuk sebelah tangan. Iya. Semenyedihkan itu. Malang sekali takdirku. Tapi aku tak butuh kasian siapapun. Aku bisa melewatinya. Meski harus berderai luka.

Kelas 3smp aku butuh pelajaran tambahan. Kursus adalah keinginan untuk tekat kuat masuk sma negeri. Aku ingin sma2 saat itu. Tapi dengan kondisi keuangan keluarga, aku tidak tau apakah mungkin. Perlahan aku bicara soal kursus pada papa. Berat rasanya. Harus menambah beban papa saat itu. Tapi aku benar benar butuh. Dan papa mengerti lantas mewujudkan inginku. Papa selalu tau apa yg kubutuh. Papa selalu mengerti aku. Meskipun aku tau, berat yg papa rasa harus bekerja ekstra untuk membayar biaya kursus yg ga sedikit tiap bulannya. Aku berhasil melalui ujianku dengan manis. Aku anak yang pintar. Aku tidak butuh bermulut manis untuk mendapat teman. Semua teman dengan sukarela mendekatiku. Tapi; lagilagi aku gagal masuk sma yg kuingin. Aku hanya dapat dipilihan keduaku di sma7. Aku tidak tau, apa yang kurang dari usahaku. Aku bertekat lalu gagal. Bertekat lalu gagal. Aku bisa apa selain melalui semuanya?

Di kelas 2 sma kakaku, ia berkenalan dengan seorang pria. Dekat. Saling jatuh cinta lalu menjalin hubungan. Kakaku melawati masa sma nya dengan sangat manis. Dengan cinta dan dukungan orang terkasih. Sedang aku hanya yakin dengan sahabat yang selalu ada. Beberapa pria datang lalu pergi. Tak ada yang benar benar niat untuk menetap. Dan rasa cintaku; tak pernah sedalam dulu. Bersama cinta monyetku.

Menginjak kelas 3sma, semua sahabatku sibuk kursus demi mimpi mengejar PTN yang mereka mau. Aku? Untuk apa aku minta kursus kembali sama papa kalau pada akhirnya aku tidak akan melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah? Mimpiku sudah hancur jauh sebelum aku membentuk mimpi itu. Harapku sudah lebur bahkan sebelum aku berharap. Dan orang yang menghancurkannya adalah ibuku. Orang yang harusnya membesarkanku dan menemaniku menggapai mimpiku. Orang yang harusnya aku hormatin dan sayangin.
Aku marah? Aku sangat marah.
Aku benci? Jangan tanya berapa sering aku dan mama bertengkar hanya karna sepele. Lantas aku makan diluar. Tak berbicara hingga berbulan bulan. Melalui ujianku tanpa doa mama. Mungkin itu yang menggagalkan semua tekatku.

Entah bagaimana aku tidak bisa menceritakan perihal masalahku pada sahabatku.
Dengan semua alasan yang kubuat untuk menutupi bahwa aku ga mampu buat lanjut kuliah. Aku gamau dikasianin. Aku gabutuh simpati. Aku gamau aib keluargaku tersebar. Dan aku gatau apakah aku bisa menceritakannya. Darimana aku harus memulai dan sejujurnya aku takut dengan reaksi mereka. Entah itu menjauh karna aku selalu berpurapura kuat dan seperti menjadi orang lain. Atau mereka menatapku dengan iba atas masalah yang tak kunjung selesai menimpaku. Sebelas tahun, masalah itu ga juga habis. Masih membayangi keluargaku.
Kalau katanya aku bisa pakai bidikmisi, rasanya gamungkin di acc kalau tau bahwa income papa sebulan bisa langsung bayar dua semester sekaligus. Tapi aku tau aku tak mungkin memberatkan papa dengan biaya pendidikanku lagi. Dan aku lulus sma; umurku 17.

Apa yang kulakukan?
Berpikir. Usiaku baru 17. Teman temanku melewati 17nya dengan perayaan sweetseventeen dan hadiah Mobil. Sedang aku harus menghadapi kenyataan harus siap bekerja. Aku tidak tau; apa yang harus kukerjakan. Apakah aku bisa bekerja. Apakah aku siap. Mentalku rendahan sekali. Aku masih ingin main main. Masih ingin hurahura. Masih ingin belajar dijenjang kuliah.

Saat itu;
Mentalku sakit.
Aku hilang tujuan.
Tersesat, hilang arah.
Aku tidak tau untuk apalagi melanjutkan hidup.
Aku tidak ingin bekerja saat itu.
Karna aku masih belia. Masih ingin sekali menikmati masa remaja.
Tapi aku kehilangan masa remajaku.
Semua orang tau;
Aku bukan hamba yg taat pada Tuhan.
Imanpun sudah jauh.
Sudah gapeduli soal dosa.
Dan bukan ketidakmungkinan kalau aku memutuskan mengakhiri segalanya saat itu; bunuhdiri.
Ini bukan drama, kalian tidak akan mengerti. Melewati semuanya sendiri. Kakaku punya orang special dihidupnya. Ada semangat untuk terus hidup. Dan ada rasa cinta yang harus dia pertahankan untuk terus tinggal didunia.
Tapi aku tidak.
Aku tidak punya cinta.
Aku tidak punya orang lain yg menguatkanku. Yg tau kisahku dan mengerti semua keterpurukanku.
Bahkan orangtuaku yg menghancurkan masa depanku,
Tidak akan bisa menahanku untuk terus hidup.
Aku mati rasa.

Ditengah bimbang.
Aku sempat menonton ajang pencarian bakat.
Ada salah satu peserta yang kulihat terlalu banyak gaya. Yang aku lihat perihal dirinya adalah benci. Tengil; opiniku. Karna termasuk acara yang musiknya asik aku mengikuti acara itu tiap minggu.
Sampai ketika, si peserta tengil ini harus pulang karna progress nya yang menurun. Dipikirku; dia tak terganti. Karna kualitasnya yg berarti. Tapi nyatanya; saat dia terganti, aku malah patah hati. Malah berharap dia terus sampai akhir. Sejak saat itu aku sadar bahwa aku suka dia. Sampai saat dua episode kemudian ada episode dimana semua peserta yang sempat terganti bisa kembali lagi dengan sistem wildcard. Disitu, dia membuktikan diri bahwa dia akan merebut tempatnya lagi. Aku liat, gimana berjuangnya dia. Gimana egoisnya dia buat ngambil apa yg harusnya jadi milik dia. Gimana kuatnya dia.
Dan ketika babak live;
Aku mau ketemu dia.
Mau peluk dia.
Mau bilang semangat dan gaboleh sampe ke eliminasi lagi.
Dia pantes menang dengan kualitasnya. Musik Indonesia bakal lebih baik dengan hadirnya dia.
Dan ketika nekat pertama kali ke jakarta nemuin dia; aku mulai tau semua kisahnya.

Dia adalah inspirasi.
Sekaligus motivasiku untuk terus hidup.
Entah bagaimana;
Tiap ketemu dia, bahagia melingkupi aku.
Bahagia yang udah lama banget aku lupa rasanya.
Bertemu dia seperti menciptakan stock bahagia dihidupku.
Makanya; bertemu dia adalah harus.
Perlu ongkos karna gamungkin beratin beban papa cuma buat main main.
Akhirnya aku nerima keadaan.
Aku kerja. Gajinya buat ongkos ketemu dia. Nemuin bahagia aku.
Bawain sesuatu biar dia seneng. Nyenengin orang yg udah bikin bahagia itu gapapa kan?
Banyak orang bilang;
"Lu kerja cuma buat dia?"
Kalo iya jawabannya kenapa?
Kalau dipresepsikan,
Apakah ada nominal rupiah yang mampu "membeli" bahagia? "Menyelamatkan" nyawa?

Dia membuatku kenal dengan banyak temen. Dengan segala cerita hidup. Yang menyadarkan bahwa aku masih jauh lebih beruntung. Perlahan aku menerima semua. Meski masih harus mengutuk takdir. Masih harus memaki keadaan dilahirkan dengan mama yang seperti itu. Dia membuatku pulih meski sangat pelan. Kubilang mentalku sakit. Aku tidak punya alasan untuk hidup. Tapi dia hadir sebagai obat. Penyembuhan diriku atas segala sakit dan kecewaku pada dunia beserta isinya.

Namanya devin sanjaya. Malaikatku. Obatku. Insipirasiku. Alasan terkuatku.

Ketika sahabat aku sendiri bilang bahwa devin bikin aku jadi budak cinta, aku terluka. Bukan karna dia sebut aku budak cinta. Tapi karna dia sahabatku. Seharusnya dia tau. Bahwa rasa cintaku telah lama mati. Aku sayang devin karna dia "malaikatku". Pemberi bahagia disemua keterpurukanku. Sejak itu juga aku sadar; dia bukan sahabatku. Aku selama ini sendiri. Aku tidak punya Siapa Siapa. Orangtuaku menghancurkan masa depanku. Sahabatku tidak mengerti semua keterpurukanku. Aku sendiri..
Dan "malaikat" itu hadir.
Menjadi alasan kuat aku bertahan sampai sini.
Menjadi alasan kenapa aku masih berpijak dibumi.
Dan semua orang menyalahkan keberadaan devin dihidupku.

Semua kisah hidupnya,
Semua sifatnya,
Adalah sama sepertiku.
Tapi dia bisa berhasil.
Dan aku harap, akupun begitu.
Dia inspirasi. Motivator secara ga langsung. Pemberi bahagia. Yang membuat hariku ga sehampa dulu.
Karna, aku cuma punya devin.
Untuk terus melanjutkan hidup.

Devin selalu marah tiap aku bawa sesuatu buat dia. Devin bilang ngerepotin. Mending uangnya ditabung. Andai devin tau, bahwa ga ada nominal yg mampu menghitung semua bahagia yg dia beri. Semua obat yang dia kasih buat penyembuhan diriku. Karna tanpa dia, aku gamungkin mampu bertahan lebih lama lagi.
Belasan tahun aku ngelaluin semua sendiri, aku sekarat tanpa "obat".

Semoga kelak,
Setelah baca ini,
Siapapun yang udah nyalahin keberadaan devin dihidupku mengerti.
Betapa berartinya dia selama ini.
Aku tidak pernah merasa rugi. Memberi apapun untuk hadirnya sebagai penopang aku yg rapuh.
Sebagai obat aku yang sekarat.

Aku menceritakannya bukan karna ingin menyebar aib keluargaku.
Aku ingin kalian mengerti
Bahwa aku sudah pernah sekarat sendiri.
Silahkan hina aku.
Hakimi semua lemahku.
Yang gabisa ngelewatin semuanya sendiri bahkan sampe kepikiran bunuh diri.
Asal jangan salahkan devin,
Jangan salahin hadirnya dihidupku.
Dia lebih dari segalanya.
Satu satunya perban disaat semua menghujam belati.
Disaat semua terdiam melihatku terluka.
Memar ungu dimana mana.
Hanya devin.
Penenang saat aku ingin berteriak depresi.
Terimakasih, ka devin.
Atas hadirmu dihidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar