Minggu, 22 Maret 2026

Menyerah

Barangkali pada akhirnya setiap manusia punya rasa menyerah pada hidupnya masing-masing. Dengan segala luka yang dilewati. Caranya berbeda, ada yang dengan mengakhiri hidup, atau melanjutkan hidup tanpa alasan. Hidup hanya sekedar masih hidup. Tidak peduli dengan apa kata orang, bahkan tidak peduli dengan dirinya sendiri.

Mungkin seperti di fase yang aku alami saat ini, selain karena tanggung jawab, aku hidup karena masih hidup. Tidak peduli makan atau tidak, sehat atau sakit, bahkan menunggu kematian hari demi hari. Terdengar dramatis, tapi 3 tahun lalu. Separuh yang tersisa dibawa pergi manusia yang memberi harap. Manusia yang ingin aku bersamai sampai tua. Mnausia yang dengannya aku menyusun banyak rencana masa depan. Manusia yang ku kira adalah hadiah Tuhan, tapi ternyata bahagia itu hanya sementara. yang pada akhirnya harus ku bayar dengan luka. yang pada akhirnya, aku benar-benar kehilangan, bukan lagi separuh jiwaku, tapi seluruh yang tersisa. Keinginan mati itu adalagi setelah dia pergi, padahal sebelumnya membayangkan bisa membangun banyak bisnis, merajut masing-masing mimpi kita, punya anak kembar, dan berbincang seumur hidup. Kenyataan yang terjadi dia pergi, membawa seluruh jiwaku yang tersisa. Bahkan serpihannya pun sudah tidak ada. Lagi-lagi hidup karena masih hidup. Lalu memikirkan, mati dengan cara apa yang tidak merepotkan. Mungkin tenggelam di Laut? cukup hilang dari muka bumi. Atau barangkali menjual beberapa organ tubuh agar setidaknya bermanfaat untuk orang lain? hahaha. Malam-malam panjang ini hanya isi kepala yang berisik. Perlu dituang, karena sudah tidak punya siapapun dalam hidup, maka tulisan adalah tempat yang tepat untuk menuangkan isi kepala yang berisik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar