Bertemu lagi di diary digitalku. Penuh tentangmu lama-lama. Beberapa hari belakangan km sibuk main game, tak apa aku hanya rasa rindu. Beberapa kali aku scroll chat dan menyadarkan diri sendiri bahwa aku terlalu berusaha untukmu.
Sebabkah itu yang membuatmu seolah menyepelekanku? Karna aku sudah terlalu berjuang sampai kamu tidak merasa perlu effort? Ah, Al. Maaf aku mellow begini. Kemarin ku bilang rasanya sudah biasa saja sekarang. Karna semakin hari tubuhku seperti digantung, tanpa diterima dihidupmu juga tidak ditolak. Dimana aku harus menetap, Al?
Al, aku selalu suka cerita tentangmu. Pelukan dan semua perlakuan manismu saat bersamaku. Tapi begitu menyadari aku bukan siapa-siapa ternyata menohokku sampai sesak. Belum sampai menangis, hanya tertampar kenyataan bahwa aku belum jadi yg kamu mau.
Aku bilang, begini saja tak apa. Tapi, kenapa kian hari kian hilang kamu dariku? Ingin kuberi jeda, agar kamu merasa punya ruang. Barangkali sekaligus merinduku. Tapi yang ada justru kekhawatiranku pabila kamu jadi asing. Jangan sekarang ya, Al? Beri aku waktu atau menepati janji bahwa sampai kapanpun kita tetap teman baik. Aku belum memimpikan sebuah atap bersamamu sih, meskipun nayatanya sudah terjadi ya haha perihal ini hanya aku, kamu dan beberapa temanku yg tau.
Al, kenapa bergejolak disetiap keadaan? Rasa nya perasaanku kian hilang mengingat aku takut mengecewakanmu, bahwa Tuhan akan menghukumku jika menyakitimu ternyata membuat perubahan besar dengan semua rencanaku kedepan. Aku tidak pernah punya niat menyakitimu, apalagi membuat hati baikmu kecewa, hanya takut bahwa semua perasaan yang menggebu ini semu.
Aku tidak tau sampai kapan kamu tetap membatu, atau sampai kapan aku memburumu. Barangkali seperti acapku 2tahun kedepan. Boleh juga jika Tuhan tidak memberi kita waktu. Pahamku soal takdir apa, Al? Selain hadirnya devin, aku tidak tau kemana takdir membawaku. Aku bersyukur devin datang dan sampai saat ini tetap ada untukku. Seperti pertemuan denganmu mungkin hadiah kecil untuk Tuhan liat senyumku. Untuk menghapus risauku, untuk tidak lagi melihatku menulis sambil menangis.
Terimakasih Aldi Yolanda Garnida sudah lahir dan menemukanku di versi terbaikku dan terbaikmu, untuk semua perasaan senang yang kamu cipta. Tetaplah jadi semestaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar