Sabtu, 28 Februari 2026

Tidak Menikah Tidak apa-apa

Bermula sejak aku menginjak usia 7tahun. saat itu aku anak yang cukup pintar di usia 7tahun saat aku sudah masuk kelas 3 SD. Aku sudah membantu orangtuaku menjaga toko. Toko Atk yang dibuka sejak 2006 hingga sekarang. Dulu papaku masih bekerja dan toko hanya buka saat malam hari ketika papa sudah pulang. Dengan rasa penasaran aku coba belajar menjaga toko. Menjual barang dan belajar cara fotocopy. Hari demi hari. Tahun demi tahun.

Banyak kejadian yang terjadi diantaranya. Pertikaian rumah tangga yang paling sering. Entah dimulai dengan suara jerit karena tubuh kecil diinjak dengan kaki yang besar. atau suara tangis yang menggerung karena ditendang. begitupun lemparan piring tepat terjadi dibelakang tokoku. didepan rumah mereka.

Sedikit ku ceritakan gambaran kecil. bahwa ditanah yang sekotak itu terdiri beberapa rumah tanah warisan dari eyang. tentu saja saudaraku adalah tetanggaku. dan kalian tau apa yang selanjutnya terjadi. Aku menyaksikan KDRT berulang kali. tidak hanya satu keluarga, tapi beberapa keluarga. yang pada akhirnya sekarang mereka sudah cerai. saat usiaku baru 7 tahun. Aku pernah katakan, bahwa lingkungan membentukku seperti ini. menjadi pribadi yang saat itu penuh rasa takut sampai aku terbentuk dari banyak kehancuran.

Satu-satunya yang aku yakini saat itu hanya Amore. ada namanya dibeberapa judul postinganku. Sejauh yang kutau, dia cukup agamis dan baik. bahkan tidak kasar dan senang merawatku. tapi hidup memang tidak berjalan sesuai keinginan bukan? Aku mencoba mengembalikan dia dan rasa cintanya yang dulu. Tapi takdir memang bukan untukku, dia sudah menikah bahkan sebentar lagi akan punya anak. Aku turut bahagia. mungkin aku memang tidak cukup baik untuknya.

Sampai aku tahu bertemu Al, beberapa postinganku tentangnya juga. Dia meyakinkanku bahwa semua hal adalah pilihan. dimana pada akhirnya semua rencana kususun rapi untuk bersama dia. Separuhku di Amore telah hilang. Sisanya penuh kuberikan pada Al, karena memang hanya itu yang tersisa. Jika tidak dengan Amore, maka Al adalah yang terakhir. Dan seperti yang kalian tahu bahwa dia pergi, bersama seluruh aku yang tersisa.

Hidup tanpa tujuan, hidup tanpa rencana. Kubilang tidak ada yang bisa menghancurkanku karena aku terbentuk dari kehancuran itu sendiri. Tapi kali ini, Kosong. Lagi dan lagi yang kutunggu hanyalah kematian. Aku tidak berharap pada romantisme walaupun jauh disana mungkin ada setitik harapan kecil, kabur. Kubilang, Tidak menikah tidak apa-apa. Mungkin satu-satunya yang akan ku kecewakan adalah papaku. yang nanti akan kuceritakan bahwa selain Devin, ternyata aku punya papa.

Selain trauma itu, Aku merasa hidupku kurang layak karena kedua orangtuaku tidak siap secara mental dan finansial. Menikah bukan sekedar menyempurnakan ibadah dan rezeki sudah diatur. lebih dari itu. berkali-kali kubilang aku tidak ingin punya anak. Bukan semata-mata karena aku tidak suka anak kecil. tapi aku takut bagaimana jika apa yang aku rasa selama hidup, akan dirasakan juga oleh anakku nanti? bagaimana jika fikirnya sama denganku, bahwa aku tidak berharap dilahirkan. setiap hari menunggu kematian. Untuk punya mimpi pun aku tidak bisa berharap. Dengan kapasitas diri yang cukup memadai tapi hidup dilingkungan yang aku tidak bisa tumbuh dan berkembang. Bagaimana jika aku bukan hanya gagal menjadi orang tua, tapi juga gagal jadi manusia? Yang mereka dengar hanya aku yang asal bicara tidak mau menikah, tidak mau punya anak. Tapi mereka tidak tahu, kenapa aku berkata demikian. kenapa aku memutuskan hal yang sebesar itu sendirian. 

Aku tidak benci pernikahan. aku hanya tidak ingin menikah dan punya anak. Sebelumnya kubilang, jika bersama Amore atau Al aku mau. Karena sejak usiaku 5tahun, Amore menyaksikan aku tumbuh. Amore tahu alur ceritaku, dia menerima semua hal dalam hidupku. dan aku yakin bahwa dia bisa menjadi sosok yang meyakinkan bahwa aku mampu dan aku bisa melawan semuanya. dan Al, laki-laki yang kutemui 3 tahun lalu, aku hanya berharap karena dia cukup jujur atas hidupnya. Jadi aku ingin, bersamanya membuat harapan-harapan baru, rencana masa depan yang indah dan meyakinkan seberapa hidup aku saat bersamanya.

Tapi sekarang, aku tidak punya mereka. Aku sendiri, jadi tidak apa jika tidak menikah. Bahkan berdoa agar aku berjodoh dengan maut, bukan dengan manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar