Rabu, 07 Juni 2017

Iqbal.

Kalau dia memilih mendua dan marah. Kau memilih untuk meminta maaf atas kesalahanmu. Datang dengan segala rasa bersalah dimasa lalu. Meski hanya dengan isyarat bahwa kau menyesal aku sudah memaafkanmu. Kamu memang berkhianat. Tapi seharusnya aku lebih kuat bukan? Lagipula patah hatiku harusnya tidak sebesar itu andaiku tak pernah berharap terlalu banyak. Lain kali kucoba mencintai dengan logika, bukan dengan hati. Ah, aku bercanda.

Kamu baik. Entah bagaimana aku selalu merasa kau yang terbaik. Separuh hatiku berkata demikian. Merasakan bahwa meskipun kita hanya kisah masa lalu, tapi kita tetap menjaga pertemanan menjalin persahabatan. Tapi sebaik apapun kamu dan seberapa baikpun hubungan yang bernamakan pertemanan, kita tetaplah seorang mantan kekasih yang punya ribuan cerita untuk dikenang. Hatiku begitu, menyayangkan kisah masa lalu bahkan sampai berharap untuk kita kembali. Tapi bukankah semua orang termasuk kitapun tahu? Bahwa tidak ada yang bisa menjalin cinta yang sama dengan orang yang sama untuk kedua kali. Karna itu akan berbeda, kita akan senantiasa mengungkit kisah masa lalu bahwa dulu kita pernah saling melukai. Lantas menyalahkan siapa yang lebih dulu terlukai lalu bertengkar dan mengulang hal yang sama. Bukankah demikian yang diucap orang banyak? Pabila kita memilih mengulang masa lalu seperti membaca sebuah novel? Kita sudah tahu endingnya. Kecuali kau berniat mengubah endingnya. Kata putus untuk menikah bukan putus untuk berpisah seperti yang pidi baiq bilang.

Ah ya aku tiada bermaksud apa apa. Tapi kelak jika kau membaca ini, kuharap kau mengerti bahwa aku bahagia. Bisa melewati proses dewasa sebab kaupun begitu. Mantan jadi sahabat adalah proses pendewasaankan?
Terimakasih. Untuk masa lalu yang jadi pelajaran. Dan masa kini untuk merakit masa depan.

Dari aku,
Mantan kekasihmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar