Minggu, 23 Oktober 2016

Cerpen dua sisi

Shinta POV

Langkahku terhenti saat mataku menangkap sosok yang telah lama alpa dari pandanganku. Hanya tinggal beberapa langkah lagi aku akan berpapasan dengannya. Aku bersenandung kecil, berharap bisa menenangkan rasa yang bergejolak. Tap.. Tap.. Tap.. Langkahku semakin mengecil. BRUKK. "Maaf." lirihnya pelan. "Eh, iya.." "eh. Hai!!" "hai.." balasku cepat seraya mengatur kembali dera napasku serta menstabilkan letupan letupan kecil yang bergejolak. "Hmm, duluan ya?" ucapnya ragu. Aku termenung sesaat, "Shin?" "hah?eh?iya.. Yaudah. Hati hati yaa." ucapku setelah tersadar dari lamunanku. Ia kembali melanjutkan langkahnya, masih dapat kedengar ketukan sepatunya dengan aspal jalan, beberapa langkah, kemudian hening.
"Hel, Kurasa sampai kapanpun rasa itu takkan pernah terbalas. Mereka benar Hel, ada saatnya aku berhenti. Aku tak berhenti mencinta, pun putus asa. Hanya saja ada sesuatu yang tak bisa dipaksa seperti perasaan kamu. Dan sialnya ada hal lumrah yang mewajarkan demikian. Maaf Hel, Aku.. Aku.. Ah, selamat tinggal" batinku. Aku menoleh, mendapati dirinya sedang tersenyum menatapku. Senyum hangat, begitu hangat merengkuh rasa yang menggigil kedinginan.

Helmi POV

Setengah berlari Aku melewati teman temanku, entah teman seperjuangan, senior, pun junior yang tengah berlalu lalang menuju kantin. Mataku terus menatap ujung sepatuku. Tanpa sadar, Aku menabrak bahu seseorang. Brukk. "maaf." lirihku pelan. Aku mendongak, mendapati seseorang yang begitu kukenal. "Eh, iya.." balasnya "suara itu.." batinku. "Eh, hai?" sapaku terlihat tenang meski harus kuakui sebenarnya aku cukup gugup. "Hai." balasnya cepat. Kemudian, keheningan terjadi beberapa saat diantara kami. "Hmm, duluan ya?" ucapku pelan, membuka sekaligus menutup obrolan dan yang pasti memecah keheningan. Aku benci saat keheningan menyelip diantara kami, membiarkan mataku berputar kesegala arah hanya untuk tidak bertatapan dengannya. "Shin?" aku mengibaskan tanganku didepan wajahnya, menyadarkannya dari keheningan yang tercipta. "Hah?eh?iya? Yaudah. Hati hati ya.." sedikit mengangguk, Aku kembali meneruskan langkahku. Tap.. Tap.. Tap.. Pelan ku melangkah. Kemudian terhenti, Aku menoleh, memutar tubuhku. Ia masih terpaku ditempatnya. Entah apa yang ia pikirkan, "Shin, gue udah jatuh meski ga sejatuh lo. Makasih buat cinta dan perhatian yang lo kasih selama ini. Gue perlu waktu, Shin. Tolong bersabar sebentar, dan ajarin gue caranya mencinta, buat ngebales perasaan lo." batinku. Aku tersenyum tulus padanya, berharap ia menoleh. Aku masih terpaku disini, radius tiga meter dari tempatnya berdiri, menatap punggungnya. Kemudian ia menolehke arahku, Astaga!! Dia menoleh, membalas senyumku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar