Senin, 24 Oktober 2016

Puisi potret keadilan

Dijalanan ini dik,
Orang-orang berlalu lalang.
Bermandikan wewangian kasturi.
Diarak kemewahan.

Ingatkah kau, dik?
Kala itu senja memucat,
Dan kau genggam erat tangan Aa,
Kau cakapkan resah tentang rumah.

Kalau dapat kuingin yang berjendela,
Agar dapat kulihat embun dibalik kaca,
Tapi rumah berpintu sudah cukup.
Asal kita bisa pulang,
Katamu kala itu.

Dik,
Jangan terlalu fasih kau bermimpi,
Sebab keadilan bukan milik kita,
Para jelata yang kelaparan.
Tapi milik mereka yang haus kekuasaan.

Malam telah tanak, Duhai adikku.
Pada kepulan keberapa lagi kau kan memahat kepercayaan?
Sementara keadilan hanya tapak keparat yang menyisakan kepedihan.

Mendekatlah, dik!!
Rebahlah dikau dipangkuan Aa.
Enyahkan harapan akan kedermawanan.
Sebab semerbak kasturi,
Hanya perias bau bangkai.

Aduhai adikku tersayang, Adikku yang malang,
Berhentilah percaya pada keadilan.
Sebab kami, para jelata sebelum dikau.
Pernah percaya,
Tapi keadilan tak kunjung datang,
Diantara waktu waktu yang berprahara.
Untuk kami para jelata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar