Amore.
Malam ini bunga tidurku adalah kamu, tentang kita.
Entah bagaimana kita diseret ke masa lalu. Ke enam tahun lalu.
Hari itu kamu merekam kegiatan kita.
Setiap moment kamu abadikan dalam kamera ponsel.
Rekaman terakhir kamu meminta aku membacakan sebuah puisi, dan kau mengiringi dengan gitar. Seusainya kita tertawa. Bahagia. Seolah tidak akan pernah ada masalah. Seolah semua berjalan baik baik saja.
Aku tidak mengerti.
Selama ini aku hampir baik baik saja tanpamu.
Rinduku telah dikuasai oleh lelaki yang gemar bermain futsal itu. Dan bukan kamu.
Lantas, kenapa malam itu kau hadir dimimpiku?
Memaniskan kenangan pahit yang telah kita kubur dalam dalam.
Mencerahkan warna kelam dalam cerita masa lalu.
Aku benar benar tidak mengerti. Maksudku, acapkali orang bilang kalau bermimpi tentang seseorang berarti salah satunya atau keduanya sedang rindu. Dan aku tidak merindukanmu, tapi apa mungkin kamu merindukanku? Lagipula kau sudah punya pendamping atau bahkan jangankan untuk merinduiku, untuk mengingat namaku pun mungkin kau enggan.
Apa hanya bunga tidur belaka? Tak ada artinya barang sepatah makna?
Aku tidak tau.
Tapi kalau boleh meminta aku tak ingin bermimpi tentang dirimu lagi. Apalagi tentang kita dimasa lalu. Sebab lembaran itu telah tertimbun jauh didasar atau bahkan sudah hancur. Tapi lembaran yang hancur itu menyisakan kenangan. Seperti kopi yang meninggalkan ampasnya. Tapi kenangan kita bukan kopi yang mudah dimaniskan dengan gula. Kenangan itu takkan hilang, sebab kenangan itu luka. Kau tau setiap luka selalu ada bekasnya? Begitupun kenangan kita.
Keadaan selalu berubah tanpa disadari. Tapi yang kutahu pasti, perubahan keadaan macam apapun takkan membuat kita kembali seperti enam tahun lalu. Kalau berbicara jodoh. Aku selalu ingin itu adalah kamu. Tapi ketidakmungkinan memaksaku menerima kenyataan.
Bahwa kamu dan aku adalah luka paling biru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar