Sabtu, 15 April 2017

Kisah Kasih Seorang Pecinta Sendiri

Lebih baik meninggalkan ketimbang bertahan namun menyesakkan hati. Sebab siapa juga yang ingin bertahan ditengah ketimpangan yang ada. Bukan tak percaya pada pasangan, hanya saja terkadang kenyataan memang selalu menyakitkan. Acapkali orang lebih terbuai oleh sesuatu bernama kebohongan yang membuat bahagia meski sesaat. Dan tidak jarang orang menampik kenyataan meski itu benar sebab itu menyakitkan. Mengapa demikian? Yang orang cakapkan tentang hati dan logika yang tidak berkesinambungan memang benar adanya. Karna tanpa disadari demikian yang terjadi didunia ini.

Salah satunya adalah aku. Aku adalah wanita yang jatuh cinta kepada adik kelasku sendiri. Temanku bilang perhatian yang dia beri hanya sekadar menghormatiku sebagai kaka kelasnya. Itu cara dia menghormati perasaanku. Yap!! Aku memang dengan terang terangan menunjukkan bahwa aku memiliki sebuah rasa yang disebut cinta. Aku bahkan tidak mundur ketika dia menjalin status dengan teman seangkatannya. Kutunggu dia hingga putus. Yang lebih parah lagi aku bukan hanya menunggu kabar putusnya, Aku sempat mengganggu perempuannya. Astaga maafkan pikiranku yang begitu bucin (read: budak cinta). Logikaku tau, betapapun ku mengemis takkan ada seincipun rasa yang akan dibalasnya. Tapi hatiku menyangkalnya, aku percaya jika nanti aku kurus dan cantik dia pasti jatuh hati padaku. Dia pasti akan membalas perasaanku.

Ketika hatiku percaya bahwa nanti dia akan jatuh hati padaku, aku tau aku sedang membohongi diriku. Hanya untuk menciptakan perasaan senang saja. Aku tau itu sesaat. Aku tau aku bodoh. Jangan dikritik kumohon. Aku hanya ingin kalian belajar dari pengalamanku.

Sampai ketika aku mendengar bahwa dia menjalin status kembali dengan perempuan lain. Yang kulakukan hanya menunggu kabar putus darinya. Aku tidak berani mengganggunya karna ketika dia diputus perempuan yang seangkatan dengannya itu, sikapnya berubah. Matanya sering lebih sayu, hatinya sedih, dia jadi pemurung. Semua orang tidak ingin melihat orang yang dicintai sedih, bukan? Akupun demikian, (dengan bodohnya) yang kupikirkan dia harus bahagia meskipun hatiku sebaliknya. Apapun untuk kebahagiaannya.

Kalau kau berpikiran "bahagiain dulu orang tua lo baru lo bahagiain pasangan lo" aku minta maaf sebelumnya. Ini bukan tentang aku tidak mendahulukan orang tuaku ketimbang pasanganku. Kuharap kalian mengerti bahwa aku menulis ini mengarahkan tentang perasaanku. Tentang kisah cintaku. Tentang kebodohan. Tentang budak cinta.

Tidak ada seorangpun yang rela melihat perempuan lain memeluk mesra tubuh orang yang kita cintai. Membuatnya tersenyum bahagia. Hatiku berteriak, seharusnya perempuan yang memeluk mesra tubuhmu adalah aku. Yang membuatmu tersenyum bahagia adalah aku. Tapi nyatanya, aku kalah pada keadaan. Aku bisa saja memeluk mesra tubuhmu tapi aku tau, bukan aku yang kau inginkan. Perempuan itu yang kau inginkan untuk membuatmu bahagia, bukan aku. Aku tau. Dan aku mengalah untuk bahagiamu.

Sebagian kecil orang berkata bahwa ini adalah pengorbanan. Agar tau rasanya berjuang. Agar ketika dapat, kita tau cara menghargainya. sebagian besarnya berkata bahwa ini adalah kebodohan. Sebab kitapun harus bahagia dengan cara apapun. Mengalah boleh saja, tapi memikirkan diri sendiri seharusnya lebih penting. Dan disisi ini aku tau ini bukan pengorbanan, aku tau ini kebodohan. Tapi aku merasa senang menjalaninya begini. Meski aku melupakan kodrat bahwa akupun harus merasakan kebahagiaan.

Kisah ini sedang berjalan. Dia masih menjalin hubungan sampai sekarang. Dan hariku disekolah telah usai, karna aku adalah senior. Mungkin aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Tapi lucunya aku bahkan pernah berpikir begini;

"kubiarkan kamu dengan perempuan lain sekarang. Lima tahun lagi aku akan kembali dan tak akan kubiarkan kamu lepas dari pelukanku. Tiada senggama rindu yang halal bagimu selain aku, Raf."

Iya aku tau itu berlebihan. Siapa yang tau apakah aku terus menyimpan rasa untuk dia atau bisa saja berpaling pada lelaki lain saat ditempat baru. Atau bisa saja lima tahun lagi aku atau bahkan dia sudah tidak tinggal didunia ini. Siapa yang tahu bukan? Yang aku bisa pastikan sekarang hanya beberapa hal. Bahwa aku mencintainya, dia tidak pernah memiliki perasaan denganku, semua perhatiannya hanya sekadar menghargai perasaanku, rasa cintanya kini milik perempuan lain bernama desti, statusku sekarang adalah menunggu kabar dia dan desti putus.

Aku bisa menyimpulkan bahwa aku adalah orang paling bodoh yang amat bucin. Aku pernah berpikir untuk meninggalkan, tapi sekeras apapun aku mencoba hatiku tetap mencintainya. Hal yang sedang aku coba adalah mengikuti pepatah "ketika kamu menerima keadaan yang sebenarnya (bahwa dia tidak akan pernah mencintaimu) kamu tidak akan sulit untuk berpaling darinya. Semua butuh proses. Tapi ingat satu hal, bahwa kamupun perlu bahagia"

Aku ingin menjadi penulis. Bukan karna aku bisa menulis tapi karna aku menyukainya. Aku juga bukan orang yang pandai mengarang. Nilai mengarangku hanya standar anak sekolahan. Tapi aku suka merangkai kata dari kisahku, sebagian besar untuk bernostalgia. Semua kenangan harus kuingat. Meskipun menyakitkan. Sebab tanpa kenangan menyakitkan, aku tak akan pernah belajar dari rasa sakit. Hampir semua tulisanku adalah kisahku. Jika kalian beranggapan bahwa tidak mungkin ada kisah yang seperti aku ceritakan, terserah kalian. Itu hak kalian. Aku hanya mengatakan bahwa aku benar benar jatuh cinta pada adik kelasku.

Ah, aku jadi bingung kemana arah tulisan ini. Awalnya aku ingin berbagi kisah bahwa menjadi orang bodoh itu wajar tapi kita harus tau bahwa life must goes on.
Padahal aku ingin menyampaikan bahwa kisahku harusnya kalian pelajari sebelum jatuh cinta sedalam aku mencintai adik kelasku. Tapi kok jadi ngawur kemana mana ya? He he.

Sebenarnya ini wejangan, amanat, atau curhat(?) Entahlah. Maafkan aku yang tidak konsisten ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar