Aku tidak tau mengapa semenyakitkan ini.
Separah itukah aku jatuh padamu?
Hingga sakit yg kau gores seolah hanyalah luka jatuh dari sepeda.
Bukankah ini berbeda? Ini sama sekali tidak sama.
Luka yg kau gores oleh sebab tubuhmu telah dijamah perempuan lain dengan luka goresan antara lutut dengan aspal itu jelas terlihat letak perbedaannya.
Semua orang tau mana yg lebih menyakitkan.
Dan kenapa aku masih menyimpan rasa padamu?
Masih pula kusemai benih asa,
Seolah kan kutuai kebahagiaan bersamamu.
Seolah masa depan adalah milik kita.
Apakah sedangkal itu otakku?
Seolah kebahagiaanku hanyalah kamu, bermuasal dari hadirmu.
Seolah hidupku telah didedikasikan untuk memohon kebahagiaan padamu.
Apakah aku begitu rendah kini?
Terjatuh dalam pesonamu yg membuatku seperti jalang,
Berlutut dan memohon rasa cintaku dibalas dengan cinta yang setimpal.
Apa boleh kurendahkan diriku untukmu yang bahkan tidak peduli dengan hadirku?
Tidak. Aku tau tidak boleh. Aku telah berusaha sebanyak yang orang orang tau.
Bagaimana kubangkit dari pesonamu, bagaimana kubiarkan tangan tangan halus perempuan lain menjamah tubuhmu sesuka mereka,
Bagaimana kubunuh rindu yg menikamku tiap waktu.
Dan aku tau,
Aku tidak boleh lagi berharap padamu.
Tapi bukankah kau tau?
Sesulit apa mengenyahkan seseorang yang tiap hari kita tatap.
Bertemu disetiap jam istirahat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar