Dia suka sekali menyesap rokoknya.
Satu batang, dua batang, entah sudah berapa banyak.
Menghembuskannya seraya tersenyum pelik.
Rasanya berat sekali,
Matanya sudah lelah menahan kantuk.
Selain tidur dan bermain game,
Dia juga suka berdebat.
Apa saja didebatkannya,
Siapa saja didebatkannya,
Entah itu teman sekelas, dosen, bahkan aku.
Aku pernah bilang jika dia pergi,
Siapa lagi yang mengajakku debat?
Aku menangis, dia juga.
Aku benci sekali perpisahan
Lelah menghadapi tangis kehilangan
Aku pikir hanya karna itu
Tapi ada rasa yang lain.
Entah sayang sebagai abang,
Atau mencintai layaknya kekasih.
Tapi apa boleh?
Aku masih harus menunggu devin.
Lakilaki yang bersedia merangkulku
Disaat semua mengabaikan hadirku.
Tidakkah kurang ajar bila aku mencintai selain devin?
Lakilaki yang menemaniku dari jurang
Hingga sekarang bisa terbang?
Aku tidak tau.
Maka biar semuanya menjadi abu.
Aku tidak ingin kejelasan.
Apalagi bila menyakitkan.
Aku menyayangi devin,
Dan biarlah terus begitu. Selalu begitu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar