Sedikit nostalgia, waktu sd aku bukan orang yg pintar. Dan ada 2 teman pintar dikelasku. Yang satu sombong gamau kasi contekan. Yang satu mau kasi contekan tapi dengan syarat aku jadi babunya. Lainnya lagi aku pernah dibully karna saat pelajaran kerajinan yg sekelompok dengannya, aku tidak membawa cutter yg tajam. Untuk membuktikan cutter itu tajam, aku menyayat jariku sendiri. Kutunjukkan agar mereka berhenti membullyku. Saat smp aku berteman dengan 2orang lainnya. Keduanya cantik. Tapi katanya gabener. Katanya murahan. Katanya alay. Jadilah aku ikut kena bully. Karna memang salah memilih pergaulan. Naik kelas aku berteman baik dengan perempuan yg lain. Ketika ku taksir teman kelasku, aku cerita padanya. Segalanya tanpa dikurangkan pun dilebihkan. Dia dengan penuh mendukungku, sampai diakhir ternyata lakilaki yang kutaksir pacaran dengan temanku itu. Bukan masalah jika lakilaki itu menginginkan temanku, yang masalah adalah kenapa selama ini temanku diam? Kenapa selama ini mendukung dan tidak jujur padaku. Mungkin kecewanya sama tapi bukankah harusnya lebih cepat lebih baik? Setidaknya rasaku belum sedalam itu. Dan kecewaku tidak akan sebesar ini. Aku tidak ahli dalam pertemanan. Maka aku putuskan untuk sendiri. Tidak ada teman tidak masalah.
Oke. Balik ke sahabat online ku ini. Berawal dari devin. Mungkin beberapa dr kalian kenal siapa devin. Karna namanya hatam di blogku. Aku masuk ke grupline berisikan fans fans devin. Nama grupnya devinisi. Itu kali pertama aku mengenal ika. Lalu dia suka personal chat sok kenal padaku. Lantas bertukar cerita. Bagaimana dia yg menyesal kuliah dan cuma ingin kerja dan bagaimana aku menyesal kerja dan cuma ingin kuliah. Dia bercerita banyak soal kurangnya. Awalnya ragu, tapi kuceritakan juga kurangku. Mungkin seluruh hidupku kini, dia yg tau ceritanya. Bagaimana devin hingga sekarang tetap kugenggam. Bagaimana aku tidak lanjut kuliah hingga aku bisa kuliah sekarang. Bagaimana dulu kutemani dia, meskipun sekadar semangat melawan skripsinya. Bagaimana insecure nya dia soal kehidupan yang gapernah berenti berputar. Katanya aku hebat, karna tidak takut pada apapun. Karna aku sudah sekuat ini melawan takdir. Tapi bagiku tidak, karna aku perlu devin untuk hidupku. Untuk obat sekaratku, untuk terapi pemulihanku pasca kecewa pada keadaan. Sebut aku berlebihan, tapi itu adanya. Dan sekarang ika sudah melalui masa sulitnya, masa skripsi nya. Bahkan dia sudah berhasil melawan rasa insecure nya. Sekarang dia sudah bekerja. Katanya gajinya ga seberapa, tapi namanya hidup harus disyukuri aja. Dia wanita paling hebat malah yang aku kenal. Kalau aku tak punya rasa takut, dia malah berani lawan rasa takutnya sendiri. Kamu udh dititik ini ika, sudah banyak hal sulit yang kamu laluin sendiri. Tapi skrg ada aku, sahabat online-mu, sahabat perdevinisian-mu.
Ika, hadirmu juga berarti untukku. Meski jarak memangkas pertemuan kita, waktupun tidak sama lagi angkanya. Tidak pernah bertemu, meskipun seringkali ingin memelukmu tapi kamu betul betul menemani sepiku. Memusnahkan ketidakpercayaanku pada teman yang tulus. Terimakasih devin, telah menghadirkan ika dihidupku. Dan terimakasih ika, sudah mengajarkan ku banyak hal soal sabar. Soal dunia yang berputar. Soal Tuhan yg maha adil. Terimakasi sudah setulus ini menemaniku meskipun berjabat tangan saja kita belum mampu. Aku ingin sekali terbang ke samarinda, tapi uangku belum cukup. Mentalku belum kuat, semoga nanti jika ada materi dan waktu, kusempatkan terbang ke samarinda. Untuk memeluk ragamu yang nyata. Tapi begini saja sudah cukup, ika. Aku punya teman baik. Aku punya sahabat baik dan tulus. Aku punya seseorang yang mengerti soal obsesiku pada devin. Sahabatku disini tidak mengerti ika, tidak mengerti bagaimana devin menguatkanku. Bagaimana aku yg tangguh ini dalamnya sudah keropos oleh kecewa. Dan satu-satunya kalsiumku ya devin. Penopangku ya devin. Tapi mereka tidak mengerti, dan malah menyuruhku lupakan devin. Tinggali devin. Ketimbang meninggalkan devin yang mendewasakanku, lebih baik aku meninggalkan sahabat yang memang tak mengerti masalahku kan?
Aku tidak bisa cerita pada mereka yang tidak akan bisa mengerti. Karna ceritaku adalah bagaimana aku survive karna keberadaan devin. Bukan bertujuan dikasihani. Perihal devin saja mereka tidak mengerti, bagaimana ceritaku? Mereka tidak akan mengerti bukan? Lagipula tidak ada yang bisa mengatasi masalahku. Devin juga tidak mengatasi masalahku, tapi devin mendewasakanku. Aku berterimakasih untuk support sahabat grugi ku terutama made dan diah. Juga novi yang tidak pernah bertanya sebelum aku sendiri yang memulai cerita. Semua hal itu berarti, meskipun selama ini aku sekarat sendiri. Aku hanya tidak ingin dikasihanin. Aku tidak ingin kecanggungan saat kita sama-sama. Terimakasi sudah memaklumi ku yg kekanakan. Yang egois dan sombong. Hanya itu tameng luarku untuk tak ada yg lihat dalamku sehancur ini.
Ika, saat kamu membaca ini. Aku yang seberandal ini, sekafir ini, masih bersyukur pada Tuhan. Atas hadirnya devin dihidupku, juga mengenalmu dan acha. Kamu hebat ika, sudah dititik ini sendirian. Aku tidak akan hidup bila aku sendiri, aku sudah dineraka bila devin tidak ada. Kamu kuat ika, nanti kamu pasti akan terus melawan rasa takutmu. Nanti kamu akan mengerti bahwa sebenarnya kamu pemberani. Semua ada waktunya, untuk kamu memahami semua.
Aku adalah bukti nyata manusia rapuh yang ditangguhkan keadaan. Kamu tidak lemah, hanya saja kurang perlawanan. Terimakasih ya untuk tidak pernah memaksaku sholat, tidak pernah memaksaku mengaji, tidak pernah menyuruhku pakai jilbab. Karna kamu bilang kamu sendiri belum tentu suci. Dan aku ini keras kepala, kamu juga tahu. Semakin dipaksa, aku adalah aku. Tidak akan menurut dan malah semakin membangkang. Aku juga pernah menceritakan padamu kan ya, Ka? Mantanku pernah memaksaku terus mengenakan jilbab. Dan besok nya aku malah semakin berani pakai rok pendek keluar rumah. Aku hidup sendiri ika, selain devin tidak ada yang berhak. Mereka tidak tau betapa berdarahnya aku sampai dititik ini. Mungkin banyak yang lebih berdarah hidupnya, lebih kesepian dibanding aku yang beruntung bertemu devin. Tapi justru aku yg lemah. Mereka bisa karna mereka kuat. Aku yang lemah.
Ika, aku yang terlihat setangguh ini masih lemah di dalam. Belum tentu kamu yang terlihat lemah memang begitu adanya. Justru hatimu kuat. Hatimu tangguh. Terimakasih sekali lagi. Lupakan ketakutan dunia. Kamu berhak bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar